Gambar Ramadan: Antara Pencitraan dan Keikhlasan

Di era media sosial, kebaikan bisa tayang dalam hitungan detik. Kesalehan digital tampak dalam pandangan kita semua. Ramadhan menjadi sangat visual. Orang kapan pun bisa update status di media sosial. Keshalehan  meta-etis menjadi identitas personal yang terekam di media sosial. Tidak ada yang salah sebelum dalam hal ini. Hanya saja pertanyaannya sederhana namun menggugat, apakah yang bersangkutan sedang beribadah, atau sedang membangun citra? Hanya Allah dan bersangkutan yang tahu jawabannya.

Dalam Islam niat sangat penting. Semuanya harus karena Allah (lillahi ta'ala). Niat memang tidak terlihat, tetapi menentukan nilai. Dalam tradisi Islam, amal bergantung pada niat. Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama, tetapi nilainya berbeda karena orientasi batinnya berbeda. Yang satu mencari ridha Allah, yang lain mencari pengakuan manusia.

Fenomena pencitraan bukan semata kesalahan individu, tetapi bagian dari budaya digital. Platform dirancang untuk mendorong eksposur. Semakin terlihat, semakin dihargai. Akibatnya, batas antara berbagi inspirasi dan mencari validasi menjadi tipis. Kita perlu jujur, ada kalanya kita melakukan kebaikan dengan satu mata ke langit, dan satu mata ke jumlah “like”.

Ramadhan sejatinya adalah latihan keikhlasan. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Itulah mengapa puasa sering disebut sebagai ibadah yang istimewa, ia mendidik integritas dalam kesendirian.

Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Kesadaran ini seharusnya membebaskan kita dari kebutuhan untuk selalu terlihat baik. Kebaikan tidak harus viral untuk bernilai. Bahkan sering kali yang paling tulus justru yang tidak diketahui orang lain.

Masyarakat modern cenderung membangun identitas melalui representasi. Kita “menjadi” apa yang kita tampilkan. Namun spiritualitas mengajarkan sebaliknya, kita “menjadi” apa yang kita niatkan. Identitas sejati dibentuk di ruang batin, bukan di kolom komentar.

Islam tidak anti-media sosial. Teknologi bisa menjadi sarana dakwah dan inspirasi. Banyak orang termotivasi karena melihat kebaikan orang lain. Bahkan Allah mengizinkan seseorang untuk berinfak secara terang-terangan, tanpa harus menyembunyikan identitas. Namun yang perlu dijaga adalah pusat gravitasi hati. Apakah kita tetap tenang ketika kebaikan tidak mendapat respons? Apakah kita tetap bersemangat beramal meski tanpa sorotan?

Keikhlasan bukan berarti menolak apresiasi, tetapi tidak menggantungkan makna pada apresiasi. Ia seperti akar pohon, tidak terlihat, tetapi menentukan kokohnya batang. Tanpa akar yang dalam, pohon mudah tumbang oleh pujian maupun kritik.

Ramadhan adalah bulan penyucian niat. Ia mengajak kita membersihkan motif, merapikan orientasi, dan meluruskan arah. Jika selama ini kita terlalu sibuk membangun citra di hadapan manusia, mungkin hari ini saatnya membangun kedekatan di hadapan Tuhan.

Mari bertanya pada diri sendiri, jika tidak ada yang melihat, apakah kita tetap melakukan kebaikan itu? Jika jawabannya ya, maka di situlah keikhlasan tumbuh.

Yang abadi bukanlah jejak digital kita, melainkan jejak amal kita. Dan sebaik-baik kebaikan adalah yang dilakukan dengan hati yang tenang penuh keikhlasan.

Sungguminasa, 9 Ramadhan 1447 H.
(*)