Gambar Rabi’ul Awwal 4 — Membaca Nabi saw, lalu Membaca Diri Kita

Ada cara untuk membaca sejarah Nabi Muhammad SAW. Kita bisa membacanya sebagai kronologi: kapan beliau lahir, siapa orang tua beliau, kapan menerima wahyu, siapa yang pertama beriman, kapan hijrah, kapan terjadi Badar, Uhud, Hudaibiyah, Fathu Makkah, hingga akhirnya Rasulullah SAW wafat. Semua itu penting. Tetapi, apakah mengetahui banyak hal tentang Nabi berarti kita telah mengenal Nabi?

Mengetahui sejarah seseorang tidak selalu membuat kita dekat dengannya. Kita bisa hafal tanggal, nama, tempat, dan peristiwa, tetapi semuanya masih mungkin berhenti sebagai informasi. Mengenal Nabi adalah perkara yang lebih dalam. Mengenal Nabi Saw, menuntut sesuatu yang harus bergerak dari kepala menuju hati, dari pengetahuan menuju kesadaran, dari cerita keteladanan menuju perubahan diri.

Syekh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi, menawarkan model yang lain dalam membaca Sirah Nabawiyah. Dalam kitab master piecenya, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyyah, Bouty mengajak kita untuk tidak berhenti pada pertanyaan: apa yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW? Kita harus melangkah lebih jauh: “Mengapa peristiwa itu terjadi? Apa maknanya? Apa hikmahnya? Dan apa yang hendak diajarkan Allah kepada kita melalui peristiwa tersebut? Dari situlah sejarah berubah menjadi pemahaman yang mendalam, dan sirah berubah dari sekadar kisah menjadi petunjuk.

Kita bisa membaca bahwa Nabi pernah dilempari batu di Thaif. Itu sejarah. Tetapi ketika kita bertanya, mengapa seorang manusia yang disakiti sedemikian rupa masih mampu mendoakan orang-orang yang menyakitinya? Kita mulai memasuki wilayah makna. Kita bisa membaca peristiwa Hijrah. Itu sejarah. Tetapi ketika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW merencanakan perjalanan dengan matang, memilih waktu, menentukan jalur, melibatkan orang-orang yang tepat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah, kita menemukan pelajaran tentang ikhtiar dan tawakal. Kita bisa membaca Perjanjian Hudaibiyah. Tetapi ketika kita bertanya mengapa Rasulullah SAW menerima sebuah perjanjian yang pada awalnya tampak merugikan, kita belajar bahwa tidak semua kemenangan tampak seperti kemenangan pada awalnya.

Begitulah sebaiknya sirah bekerja. Ia tidak hanya memberi tahu kita apa yang dilakukan Nabi. Ia mengajarkan cara berpikir Nabi. Rasulullah SAW bukan sekadar tokoh sejarah. Beliau adalah Rasul yang kehidupannya menjadi penjelasan nyata tentang bagaimana wahyu bekerja ketika masuk ke dalam kehidupan manusia.

Al-Qur'an mengajarkan kesabaran. Sirah memperlihatkan bagaimana kesabaran itu dijalani. Al-Qur'an mengajarkan kasih sayang. Sirah memperlihatkan bagaimana kasih sayang itu menjadi akhlak. Al-Qur'an mengajarkan keadilan. Sirah memperlihatkan bagaimana keadilan itu diterapkan. Al-Qur'an mengajarkan tawakal. Sirah memperlihatkan bahwa tawakal tidak pernah berarti meninggalkan ikhtiar. Karena itu, membaca sirah sesungguhnya adalah membaca Islam dalam bentuk kehidupan.

Tetapi ada satu persoalan yang lebih penting. Kita bisa membaca sirah berkali-kali dan tetap tidak berubah. Kita bisa hafal kisah Bilal, tetapi masih mudah merendahkan orang lain. Kita bisa menangis membaca kisah Thaif, tetapi masih senang membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Kita bisa mengagumi Fathu Makkah, tetapi sulit memaafkan orang yang pernah menyakiti kita.

Ketika kita melihat Rasulullah SAW sebagai anak yatim, kita belajar tentang ketabahan. Ketika melihat beliau sebagai suami, kita belajar tentang kasih sayang. Ketika melihat beliau sebagai pendidik, kita belajar tentang kesabaran. Ketika melihat beliau sebagai pemimpin, kita belajar tentang keadilan. Ketika melihat beliau sebagai manusia yang disakiti, kita belajar tentang memaafkan. 

Kita bisa memuji kesederhanaan Rasulullah SAW, tetapi hidup dengan keinginan yang tidak pernah selesai. Jangan sampai kita terlalu sibuk mempelajari sejarah Nabi, tetapi kehilangan Nabi di dalam sejarah itu sendiri. Kita mengetahui kisahnya, tetapi tidak menyerap akhlaknya. Kita mengenal namanya, tetapi tidak mengikuti jalannya. Kita mencintai beliau dalam kata-kata, tetapi tidak menghadirkan teladannya dalam kehidupan. Padahal tujuan membaca sirah bukan agar kita menjadi orang yang paling banyak mengetahui tentang Nabi. Tetapi agar kita menjadi manusia yang sedikit demi sedikit berubah karena mengenal Nabi.

Sejarah yang tidak menyentuh kehidupan hanya akan menjadi kenangan. Sedangkan sirah Nabi seharusnya menjadi cermin. Mari membaca kembali sejarah Nabi dengan cara yang sedikit berbeda. Kita tidak hanya bertanya: Apa yang terjadi? Tetapi juga: Mengapa itu terjadi? Apa yang dilakukan Rasulullah SAW? Apa yang dapat kita pelajari? Dan yang paling penting: Apa hubungannya dengan kehidupan kita hari ini? Maka mungkin inilah cara terbaik membaca sirah: bukan berdiri jauh sebagai penonton sejarah, tetapi kita berjalan bersama Nabi saw, lalu sesekali menoleh kepada diri sendiri. (*)