Gambar Rabi'ul Awwal 5 - Tahun Gajah dan Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Beliau saw, lahir di Makkah pada Tahun Gajah, tahun ketika Abrahah datang bersama pasukannya dengan maksud menghancurkan Ka'bah. Sebuah kekuatan besar bergerak menuju sebuah kota yang secara militer tidak sebanding dengannya. Abrahah datang dengan keyakinan bahwa kekuasaan, pasukan dan gajah-gajah perangnya cukup untuk menentukan apa yang akan terjadi. Tetapi Allah menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu berjalan menurut perhitungan manusia.

Pasukan itu dihancurkan dan Ka'bah tetap berdiri. Al-Qur'an mengabadikannya dalam Surah al-Fil. Peristiwa itu kemudian menjadi penanda waktu yang sangat penting bagi bangsa Arab: Tahun Gajah. Dan pada tahun yang sama, di Makkah, lahirlah seorang bayi bernama Muhammad.

Seakan-akan ada sebuah pembukaan yang sedang dipersiapkan bagi sebuah peristiwa yang jauh lebih besar. Ka'bah diselamatkan, kemudian Muhammad saw. dilahirkan. Rumah yang dibangun untuk menyembah Allah tetap berdiri, kemudian lahirlah manusia yang kelak membawa risalah untuk mengembalikan manusia kepada Tuhan yang satu. Muhammad saw. lahir bukan sebagai seorang raja. Tidak ada pasukan yang mengiringinya. Tidak ada istana yang menyambutnya. Beliau bahkan lahir dalam keadaan telah kehilangan ayahnya, Abdullah. Kemudian dalam perjalanan hidupnya beliau menjadi yatim. 

Tetapi justru di situlah kita mungkin perlu belajar membaca kehidupan dengan cara yang berbeda. Allah tidak selalu meletakkan sesuatu yang besar dalam kemasan yang besar. Muhammad saw. datang ke dunia dalam kesederhanaan. Tetapi dari kehidupan yang sederhana itu akan lahir sebuah risalah yang mengguncang dunia. Dari Makkah yang kecil akan terpancar cahaya yang menjangkau berbagai penjuru bumi. Dari seorang manusia yang pada awalnya tidak memiliki kekuasaan duniawi, lahir perubahan yang mengubah cara manusia memahami Tuhan, dirinya sendiri, sesamanya, kehidupan dan kematian.

Kita dapat membayangkan Makkah pada saat itu: sebuah masyarakat yang mengenal Allah tetapi telah dipenuhi berhala; masyarakat yang memiliki kehormatan tertentu tetapi juga mengenal ketimpangan, fanatisme kesukuan, penindasan terhadap yang lemah dan berbagai kerusakan moral. Di tengah keadaan seperti itu, lahirlah Muhammad saw.

Beliau saw., tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah Allah. Beliau mengajarkan bagaimana tauhid mengubah cara manusia memperlakukan manusia lain. Bagaimana orang kaya memandang orang miskin. Bagaimana yang kuat memperlakukan yang lemah. Bagaimana manusia memandang perempuan, anak yatim, budak, tetangga, bahkan orang yang berbeda keyakinan. 

Karena itu, kelahiran Nabi saw. pada akhirnya bukan hanya tentang hadirnya seorang bayi, tetapi tentang hadirnya sebuah kemungkinan baru bagi manusia. Kehadiran beliau membawa pesan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak harta, kekuasaan, suku, status, atau hawa nafsunya. Manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah. Dan ketika manusia kembali kepada pusat itu, kehidupan menemukan arah dan martabatnya. Barangkali karena itu pula kisah kelahiran Nabi saw. terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Kita hidup dalam zaman yang berbeda. Kita tidak lagi mengenal Makkah seperti yang dialami Rasulullah saw. Tetapi manusia tetap membawa persoalan yang hampir sama: kesombongan, ketamakan, perebutan pengaruh, kecemasan, ketidakadilan dan pencarian makna hidup. Teknologi berubah. Kekuasaan berubah. Cara manusia bekerja berubah. Tetapi kegelisahan manusia tentang untuk apa ia hidup tidak banyak berubah. 

Di tengah dunia seperti itu, kelahiran Muhammad saw. mengingatkan bahwa kehidupan membutuhkan arah. Manusia tidak cukup hanya menjadi semakin maju; ia juga perlu mengetahui untuk apa kemajuan itu digunakan. Manusia tidak cukup memiliki banyak pilihan; ia membutuhkan petunjuk untuk menentukan pilihan yang benar.

Maka ketika Rabi'ul Awwal datang, barangkali yang patut kita renungkan bukan hanya kapan Muhammad saw. dilahirkan, tetapi apa arti kehadiran beliau bagi kehidupan kita. Beliau telah lahir lebih dari empat belas abad yang lalu. Tetapi risalahnya masih mengetuk hati manusia sampai hari ini.

Tahun Gajah memberi kita sebuah latar: kekuatan besar ternyata tidak selalu menentukan sejarah. Kelahiran Muhammad saw. memberi kita pesan bahwa perubahan besar dapat bermula dari sesuatu yang tampak sederhana. Seorang bayi lahir di Makkah. Tidak ada yang tampak luar biasa dari seorang bayi yang baru membuka mata kepada dunia. Tetapi kelak ia menjadi Rasulullah, penutup para nabi, pembawa rahmat bagi seluruh alam.

Dan mungkin itulah yang paling layak kita bawa dari Rabi'ul Awwal: bukan sekadar kegembiraan karena mengingat kelahiran Rasulullah saw., tetapi kesadaran untuk bertanya kepada diri sendiri. Setelah Nabi Muhammad saw., hadir membawa rahmat kepada dunia, sudahkah kehadiran kita juga menghadirkan sedikit rahmat bagi kehidupan di sekitar kita? 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Salman Ahmad