Setiap Ramadhan membawa satu janji agung: hadirnya Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam itu bukan sekadar peristiwa spiritual dalam kalender ibadah, tetapi kesempatan langka yang mungkin hanya datang beberapa kali dalam hidup seseorang. Namun kenyataannya, manusia sering berada di antara dua sikap: berharap mendapatkannya, atau justru tanpa sadar mengabaikannya.
Bagi sebagian orang, Lailatul Qadr adalah puncak kerinduan Ramadhan. Mereka memperbanyak doa, qiyamullail, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki hati. Tetapi bagi sebagian lainnya, malam-malam terakhir Ramadhan justru berlalu seperti malam biasa: diisi kelelahan, kesibukan dunia, atau bahkan hiburan yang melalaikan.
Para pakar spiritualitas menilai bahwa manusia sering gagal memanfaatkan momen besar bukan karena tidak mengetahui nilainya, tetapi karena menunda kesadaran. Harapan ada, tetapi kesungguhan sering tertunda. Dalam bahasa psikologi religius, manusia kadang memiliki keinginan spiritual, tetapi tidak selalu memiliki disiplin spiritual.
Para ulama klasik juga banyak memberi peringatan tentang hal ini. Imam Nawawi menjelaskan bahwa rahasia disembunyikannya waktu pasti Lailatul Qadr adalah agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan banyak malam, bukan hanya menunggu satu malam tertentu. Jika waktunya pasti diketahui, bisa jadi manusia hanya akan beribadah pada satu malam dan lalai pada malam lainnya.
Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menulis bahwa orang yang benar-benar berharap Lailatul Qadr bukan hanya menambah ibadahnya, tetapi juga memperbaiki hatinya. Sebab keberkahan malam itu tidak hanya turun pada amal, tetapi juga pada keikhlasan.
Tradisi tasawuf menghadirkan kisah yang menggetarkan. Diceritakan seorang murid pernah bertanya kepada seorang sufi besar, Sufyan ats-Tsauri, “Apakah tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadr?” Ia menjawab, “Bukan pada malam itu engkau merasa hebat, tetapi setelahnya engkau menjadi lebih rendah hati.”
Kisah ini mengandung pelajaran yang dalam. Banyak orang berharap meraih Lailatul Qadr sebagai prestasi spiritual, padahal hakikatnya ia adalah anugerah yang mengubah manusia menjadi lebih sederhana, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah.
Di sinilah letak ujian manusia. Lailatul Qadr adalah malam yang dicari oleh mereka yang berharap rahmat Allah, tetapi sering dilewatkan oleh mereka yang merasa masih memiliki banyak waktu.
Ramadhan terus berjalan, malam-malam terus berganti. Pertanyaannya bukan hanya apakah Lailatul Qadr akan datang, tetapi apakah hati kita siap menyambutnya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah kita benar-benar sedang mencari Lailatul Qadr dengan kesungguhan, atau sekadar berharap mendapatkannya tanpa perubahan diri? Dan jika malam itu telah berlalu di hadapan kita, apakah kita cukup peka untuk menyadari bahwa kesempatan besar itu pernah datang?
Allah A’lamMakassar, 11 Maret 2026
Alat AksesVisi