Puasa pertama Ramadhan selalu datang dengan dua hal: semangat membara dan kantuk yang belum lunas. Malam sebelumnya, timeline media sosial penuh dengan ucapan “Marhaban ya Ramadhan” lengkap dengan desain bernuansa emas dan lentera. Semua tampak khusyuk. Semua tampak siap. Termasuk mereka yang baru ingat masih punya utang puasa tahun lalu.
Lalu datanglah babak pertama: sahur.Sahur adalah momen ketika manusia diuji bukan oleh lapar, melainkan oleh alarm. Alarm pertama berbunyi pukul 03.00. Tangan refleks memencet snooze sambil berbisik, “Lima menit lagi.” Lima menit yang dalam dimensi sahur setara dengan 45 menit di dunia nyata.
Ibu-ibu sudah berdiri gagah di dapur sejak setengah tiga, menggoreng telur dengan penuh penghayatan. Ayah-ayah berjalan ke meja makan dengan mata setengah terbuka, seperti zombie yang menemukan cahaya hidayah. Anak-anak? Masih negosiasi dengan bantal.
Menu sahur hari pertama biasanya spesial. Ada ayam goreng, sambal, sayur, bahkan kerupuk, yang secara ilmiah tidak terlalu membantu menahan lapar, tapi secara emosional sangat menenangkan. Semua makan dengan tekad: “Hari ini harus kuat.” Segelas air diteguk di detik-detik terakhir imsak, sambil bertanya dalam hati: “Ini imsak atau masih aman?”
Masuk ke fase kedua: puasa di siang hari.Jam 08.00: masih kuat.Jam 10.00: mulai melihat jam lebih sering daripada melihat masa depan.Jam 12.00: aroma warung sebelah terasa seperti ujian nasional.Jam 14.00: tiba-tiba video masak muncul di beranda. Semua resep terlihat lezat. Bahkan yang biasanya tidak suka kolak, mendadak ingin kolak tiga mangkuk.
Di kantor atau sekolah, produktivitas hari pertama puasa biasanya turun secara spiritual tapi naik secara kesabaran. Orang-orang berbicara lebih pelan. Bukan karena lebih sabar, tapi karena hemat energi, hehehe…
Lalu datanglah momen sakral: menjelang buka puasa.Inilah waktu di mana semua orang berubah menjadi kritikus makanan profesional. “Kayaknya kurang gorengan.” “Es buahnya jangan lupa pakai selasih.” Takjil dibeli seolah-olah untuk satu RT, padahal penghuni rumah hanya tiga orang.
Detik-detik adzan maghrib terasa seperti final piala dunia. Semua duduk manis di depan meja. Ada kurma, kolak, gorengan, es teh manis, dan niat untuk makan secukupnya. Adzan berkumandang. Tegukan pertama air terasa seperti kemenangan besar umat manusia.Lima menit kemudian, piring sudah kosong. Sepuluh menit kemudian, perut mulai bertanya: “Ini buka puasa atau balas dendam?”Setelah kenyang maksimal, sebagian orang mulai mengalami fase refleksi: kenapa tadi tidak makan secukupnya saja?
Namun Ramadhan belum selesai. Masih ada babak penentu: tarawih.Di malam pertama, masjid penuh seperti konser band terkenal. Anak-anak berlarian dengan sarung kebesaran. Orang dewasa berdiri rapih, masih penuh semangat. Imam membaca surat agak panjang? Masih sanggup. Rakaat ke-8? Masih kokoh.
Rakaat ke-15, mulai terdengar suara batuk terkoordinasi. Rakaat ke-19, beberapa jamaah sudah menghitung dalam hati, “Ini kurang berapa lagi?” Namun begitu salam terakhir diucapkan, ada rasa lega bercampur bangga. “Alhamdulillah, kelar juga.”
Dan jangan lupa tadarus.Di malam pertama, mushaf dibuka dengan khidmat. Target satu juz terasa realistis. Bacaan masih terbata-bata tapi penuh niat. Ada yang baru sampai tiga halaman sudah membuka ponsel “cuma sebentar”, lalu tiba-tiba sudah 20 menit berlalu membaca pesan grup keluarga tentang jadwal buka bersama.
Puasa pertama Ramadhan memang penuh drama kecil. Dari perjuangan bangun sahur, godaan siang hari, pesta takjil, hingga tarawih yang menguji ketahanan lutut. Tapi di balik semua keluhan ringan itu, ada sesuatu yang berbeda. Ada suasana yang lebih hangat. Ada doa yang lebih sering terucap. Ada rasa syukur yang muncul bahkan dari segelas air putih saat berbuka.
Puasa pertama mungkin belum sempurna. Masih ada kalap saat buka, masih ada ngantuk saat tarawih, masih ada target tadarus yang meleset. Namun justru di situlah indahnya. Ramadhan bukan tentang menjadi sempurna dalam sehari, melainkan tentang mencoba menjadi lebih baik, pelan-pelan, satu sahur ke sahur berikutnya.
Dan besok? Alarm akan berbunyi lagi.Kita akan berkata, “Lima menit lagi.”Lalu perjuangan suci itu dimulai kembali.
Selamat menjalankan ibadah buasa Ramadhan 1447 H.
Alat AksesVisi