Gambar Puasa karena Cinta Hindari Jebakan Kesalehan Digital

Tidak ada bulan yang disambut dengan penuh suka cita selain bulan Ramadhan. Dalam tradisi Bugis Makassar, dikenal isitilah“madduppa keteng” (menyambut bulan) yang ditandai dengan acara mabbaca-baca. Hal ini sebagai bentuk kesyukuran dengan hadirnya bulan suci Ramadhan dengan mengundang tetangga dan keluarga untuk makan bersama di sore hari menjelang Ramadhan.

Begitu sakralnya bulan Ramadhan, menentukan awalnya saja seringkali terjadi polemik seperti yang terjadi pada awal Ramadhan ini tahun 1447 H. Sebagian umat Islam sudah mulai puasa pada tanggal 18 Pebruari, tetapi sebagian besarnya baru memulai Ramadhan hari ini, tanggal 19.

Sejauh pengamatan penulis, tidak ada bulan baik bulan syamsiyah maupun qamariyah yang memerlukan sidang isbat untuk penentuannya kecuali bulan suci Ramadhan. Maka sejatinya kita bersyukur atas kehadirannya. Jika ditilik lebih jauh, puasa Ramadhan sejatinya bukan pada sambutan formalnya, tetapi muara dari puasa itu membangunketahanan diri atau sering disebut sebagai self resilience.

Orang yang berpuasa pada intinya sedang melakukan ketahanan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar dari puasa. Dalam perspektif fiqih dasar, puasa itu menahan makan dan minum mulai dari imsak sampai terbenam matahari.

Namun yang paling esensi dari puasa adalah kemampuan kita untuk menahan diri dari hal-hal yang bisa merusak sendi-sendi spiritualitas puasa. Puasa tidak berhenti pada tataran ketahanan pada elemen-elemen fisik, tetapi puasa akan melatih spiritualitas diri kita. Sejauh mana kita mampu menahan perbuatan-perbuatan yang bisa mencederai sakralitas dari puasa kita seperti ketidakdisiplinan dalam bekerja, memanipulasi data-data sehingga yang keliru menjadi benar, sharing informasi sebelum saring yang pada gilirannya melahirkan fitnah, menonton tiktok yang tidak bermanfaat dan seterusnya.

Pada titik ini, puasa menjadi benteng bagi kita untuk mengontrol ego kita sehingga tidak terbawa arus negatif yang bisa mencederai kesucian puasa. Spiritualitas puasa itu selalu berfokus kepada aspek menghadirkan hati dalam setiap amal perbuatan baik yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan.

Apakah hati kita hadir ketika perbuatan baik itu dibumikan dalam tataran praktis.

Apakah hati membimbing kita untuk selalu tegak lurus pada doktrin suci Tuhan.

Penting bagi kita merenungkan kembali ketika Imam al-Gazali mengatakan dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumi al-din, bahwa inti dari segala ibadah itu tidak terletak pada gerakan badan seseorang, tetapi sejauh mana seseorang itu mampu menghadirkan hatinya dalam setiap amal perbuatannya.

Berpuasa dengan hati itu tidak perlu rekognisi, puasanya adalah diam, ibadahnya adalah keheningan. Puasa dengan hati tidak perlu dipercakapkan. Bukankah Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan mengatakan bahwa puasa itu milik Tuhan, dan Tuhan sendiri yang akan membalasnya.

Ibadah dengan hati itu tidak terpengaruh dengan ruang-ruang publik. Bersedekah pada saat Ramadhan tidak membutuhkan pujian dan reward dari publik. Sedikit atau banyak sedekah yang dikeluarkan tidak dipengaruhi oleh banyaknya penonton atau tidak. Dalam konteks dunia digital, kita seringkali melihat orang memamerkan kesalehannya melalui media-media sosial. Bahkan seringkali muncul kesan, ibadahnya belum sempurna sebelum dilike dan dishare. Semakin banyak yang likes dan share, maka semakinterbuka ruang-ruang kesombongannya. Padahal kesalehan dalam panggung digital itu adalah kesalehan semu, yang boleh jadi tidak berkoherensi dengan realitas.

Saya sering mengistilahkannya dengan diksi kesalehan digital. Jika hati diletakkan dalam setiap amal perbuatan kita, maka disitulah terpatri cinta yang genuine. Orang yang beramal dengan menghadirkan hati, maka itu pasti dilandasi dengan cinta yang mendalam. Puasa karena cinta, bersedekah karena cinta, shalat tarawih karena cinta, shalat malam karena cinta. Ibnu Qayyim al-jauziyah menyebut bahwa sebaik-baik ibadah itu adalah ibadah yang dilandasi dengan cinta. Puasa yang dilakukannya akan melahirkan cinta kepada anak-anak yatim, cinta kepada dirinya, dan tentu saja, cinta kepada Allah swt. Inilah yang menjadi esensi dari puasa Ramadhan.

(*)