Di tengah suasana Ramadhan yang mestinya penuh rahmat, kita dikejutkan oleh kabar tragis. Seorang anak NS di Sukabumi dianiaya oleh ibu tirinya hingga berujung kematian. Sebuah ironi yang menyayat nurani. Di bulan ketika ayat-ayat tentang kasih sayang dilantunkan, justru kekerasan (meski mungkin kejadiannya di luar Ramadhan) terjadi di ruang paling intim bernama rumah. Peristiwa seperti ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga kegagalan kemanusiaan.
Keluarga adalah institusi pertama pembentukan nilai. Di sanalah anak belajar tentang kasih, otoritas, dan rasa aman. Ketika kekerasan terjadi di ruang domestik, itu berarti ada disfungsi dalam sistem relasi. Anak tiri, dalam banyak studi, kerap berada pada posisi rentan. Ia berada di dalam keluarga, tetapi tidak selalu sepenuhnya “diakui” secara emosional. Relasi darah sering kali, secara kultural, masih dianggap lebih kuat daripada relasi sosial hasil pernikahan ulang. Dalam masyarakat yang masih memandang keluarga sebagai wilayah privat, kekerasan domestik sering tersembunyi. Ia tidak terlihat karena dianggap “urusan rumah tangga.” Padahal secara sosiologis, rumah bukan ruang steril dari struktur sosial. Tekanan ekonomi, budaya patriarki, hierarki usia, bahkan konstruksi tentang “anak kandung” dan “anak tiri” membentuk pola interaksi di dalamnya.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin di bulan puasa, ketika orang menahan lapar dan dahaga, amarah justru dilepas tanpa kendali?
Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi menahan ledakan ego. Dalam banyak hadis, Nabi mengingatkan bahwa jika seseorang mencaci atau mengajak bertengkar, orang yang berpuasa hendaknya berkata, “Saya sedang berpuasa.” Artinya, puasa adalah tameng etis. Ia menjadi pengingat bahwa setiap dorongan marah harus melewati saringan kesadaran.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga sering berakar pada ketidakmampuan mengelola emosi. Tekanan ekonomi, konflik relasi, luka batin masa lalu, semua bisa menjadi bara. Namun bara tidak otomatis menjadi api. Ia menjadi api ketika tidak ada pengendalian diri. Ramadhan sesungguhnya hadir sebagai sistem pendingin jiwa. Ia melatih manusia untuk berhenti sebelum bertindak, berpikir sebelum melukai.
Dalam Al-Qur'an ditegaskan bahwa tujuan puasa adalah agar kita bertakwa. Takwa bukan hanya kesalehan ritual, tetapi kesadaran moral yang aktif. Orang yang bertakwa bukan berarti tidak pernah marah, tetapi ia mampu mengelola marahnya. Ia tidak membiarkan emosi sesaat menghancurkan kehidupan orang lain.
Secara psikologis, kemarahan adalah emosi normal. Namun tanpa regulasi, ia berubah destruktif. Puasa melatih regulasi itu melalui disiplin harian: ada waktu menahan, ada waktu berbuka. Ada batas. Ada kendali. Jika kita mampu menahan diri dari yang halal di siang hari, mengapa kita tidak mampu menahan tangan dan kata-kata dari yang haram?
Kita mungkin rajin tarawih, aktif berbagi takjil, tetapi masih mudah menyakiti orang terdekat. Padahal ukuran keberhasilan puasa bukan pada seberapa banyak ibadah publik, melainkan seberapa aman orang lain dari lisan dan tindakan kita.
Sufisme mengajarkan bahwa hati adalah pusat segalanya. Jika hati keras, ibadah terasa kering. Jika hati lembut, bahkan senyum menjadi sedekah. Kekerasan terhadap anak, terlebih anak yang lemah dan bergantung adalah tanda hati yang kehilangan cahaya empati. Ramadhan datang untuk menyalakan kembali cahaya itu.
Mungkin kita tidak melakukan kekerasan fisik, tetapi adakah kekerasan verbal atau kekerasan simbolik dalam rumah kita? Adakah bentakan, hinaan, atau sikap merendahkan yang kita anggap biasa? Ramadhan menjadi momentum muhasabah, menjadikan rumah sebagai ruang paling aman, bukan paling menakutkan.
Ramadhan seharusnya memperhalus, bukan memperkeras. Ia menumbuhkan kasih, bukan kebencian. Ia melatih kesabaran, bukan pembalasan. Jika ada satu indikator sederhana keberhasilan puasa, maka itu adalah: semakin lembut hati kita, semakin terkendali emosi kita, semakin aman orang-orang di sekitar kita.
Ramadhan menegaskan bahwa kesalehan sejati bukan diukur dari panjangnya doa, melainkan dari seberapa besar kasih yang kita tebarkan.
Sungguminasa, 5 Ramadhan 1447 H(*)
Alat AksesVisi