Gambar Pondok Modern Gontor: Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan

Tidak semua lembaga pendidikan mampu bertahan seratus tahun tanpa kehilangan alasan mengapa ia didirikan. Gontor adalah salah satu yang mencoba membuktikan bahwa umur panjang sebuah lembaga bukan terutama karena bangunannya, melainkan karena nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya

Ada perasaan haru yang sulit disembunyikan ketika saya kembali menginjakkan kaki di Pondok Modern Darussalam Gontor, 19 September 2026. Berulang kali menetes air mata saya. Bukan karena sedih, tapi haru yang membuncah. Kurang lebih 38 tahun lalu saya pernah dididik di sini. Terlalu banyak memori yang tersimpan. Novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi adalah sebagian kecil sketsa kehidupan yang pernah kami lalui bersama di sini. 

Pertemuan kali ini bukan sekadar reuni alumni, tetapi sebuah momentum sejarah,  puncak peringatan satu abad perjalanan Gontor yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, para menteri dan sejumlah duta besar. Puluhan ribu alumni dari berbagai angkatan datang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari berbagai belahan dunia. Mereka mungkin berbeda profesi, berbeda pilihan organisasi, bahkan berbeda pilihan politik, tetapi disatukan oleh satu pengalaman pendidikan dan satu nilai: Gontor. Kehadiran Presiden dalam resepsi kesyukuran 100 tahun itu juga menjadi pengakuan atas kontribusi pendidikan Gontor bagi pembentukan generasi bangsa.

Di hadapan Presiden, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan sebuah falsafah penting yang sejak awal menjadi fondasi Gontor: *Berdiri di atas dan untuk semua golongan*. Falsafah ini bukan sekadar kalimat indah yang ditempel di dinding pesantren. Ia merupakan gagasan pendidikan yang sejak awal dimaksudkan untuk membebaskan lembaga pendidikan dari kepentingan golongan dan partai politik tertentu. Gontor secara resmi menjelaskan bahwa keragaman organisasi, aliran, dan kelompok di tengah umat tidak semestinya menjadi dasar untuk memecah persaudaraan.

Karena itu, Gontor tidak didesain untuk menjadikan santrinya sebagai kader organisasi tertentu.  Kiyai Hasan menambahkan, jika santri berasal dari NU, maka ketika keluar Gontor dia tetap NU, begitu pula seandainya santri dari Muhammadiyah, saat keluar Gontor dia tetap Muhammadiyah. Gontor tidak boleh memaksakan ideologi tertentu kepada santrinya.

Prinsip ini menunjukkan bahwa identitas kelembagaan Gontor ditempatkan di atas identitas kelompok.

Di sinilah menariknya pengalaman menjadi santri Gontor. Seorang anak NU dapat masuk Gontor tanpa harus kehilangan identitas ke-NU-annya. Demikian pula seorang anak Muhammadiyah tidak harus meninggalkan latar belakang kemuhammadiyahannya. Yang dibentuk Gontor bukan keseragaman organisasi, melainkan cara berpikir, kedisiplinan, kemandirian, keluasan wawasan, kemampuan berbahasa, dan karakter keislaman. Dengan kata lain, Gontor berusaha membangun manusia sebelum membangun afiliasi.

Kemandirian juga menjadi salah satu kekuatan penting Gontor. Semangat berdikari, yang merupakan bagian dari Panca Jiwa, membuat pesantren berusaha mengelola kehidupannya dengan kekuatan sendiri dan tidak menggantungkan keberadaannya pada kepentingan kelompok tertentu. Prinsip ini berkaitan erat dengan gagasan bahwa pesantren harus memiliki ruang untuk menentukan arah pendidikan berdasarkan cita-cita dan sistem yang diyakininya.

Demikian pula dengan prinsip kebebasan. Kebebasan di Gontor bukan kebebasan tanpa batas, melainkan ruang untuk berpikir, memilih, dan bertanggung jawab. Santri dididik agar tidak sekadar menjadi pengikut, tetapi memiliki kemampuan memahami alasan di balik sebuah pandangan. Sikap seperti ini penting dalam masyarakat yang semakin plural, ketika perbedaan sering kali justru diperlakukan sebagai ancaman.

Seratus tahun perjalanan Gontor akhirnya memperlihatkan bahwa sebuah pesantren dapat melahirkan alumni dengan latar belakang dan profesi yang sangat beragam. Ada akademisi, ulama, birokrat, diplomat, pengusaha, politisi, profesional, pendidik, dan tokoh masyarakat. 

Mungkin inilah salah satu rahasia panjang umur Gontor, ia tidak berusaha memiliki semua alumninya, tetapi berusaha membekali mereka agar mampu memberi manfaat di mana pun mereka berada.

Seratus tahun Gontor bukan hanya tentang usia sebuah pesantren. Ia adalah perjalanan sebuah gagasan bahwa pendidikan Islam dapat berdiri teguh tanpa harus berdiri di atas kepentingan satu golongan. Berdiri di atas, bukan berarti berada di luar masyarakat; justru berdiri untuk semua berarti hadir bagi sebanyak mungkin manusia.

Bagi saya, sebagai salah seorang alumninya, kalimat itu bukan sekadar motto. Ia adalah warisan cara berpikir yang terus hidup.

Surabaya, 21 September 2026

Barsihannor
(Guru Besar Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar)