Gambar Perspektif: Pemerintahan Digital Berfokus pada Warga

Transformasi digital telah mengubah cara pemerintah melayani warga. Berbagai aplikasi, platform daring, kecerdasan buatan (AI), dan sistem data memungkinkan pelayanan lebih efektif dan efisien. Penggunaan teknologi canggih tidak otomatis menghasilkan pemerintahan yang lebih baik, tergantung bagaimana meningkatkan kebijakan dan pelayanan publik kepada warga. Pemerintahan digital harus menjawab pertanyaan: apakah teknologi tersebut benar-benar memudahkan dan membantu meningkatkan kualitas hidup warga? Warga harus menjadi pusat pelayanan, bukan sekadar pengguna akhir, dalam setiap inovasi digital pemerintah.

Dalam administrasi publik, warga adalah penerima layanan - individu dan kelompok yang memiliki hak, kebutuhan, kepentingan, serta hubungan langsung dengan kebijakan dan pelayanan pemerintah. Warga membutuhkan pelayanan yang mudah diakses, informasi yang jelas, perlakuan yang adil, keamanan, kepastian, dan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi. Dalam konteks digital, kebutuhan tersebut berarti layanan yang sederhana, mudah digunakan, aman, dan dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat.

Pemerintahan digital yang berfokus pada warga dirancang berdasarkan kebutuhan warga, bukan berdasarkan struktur birokrasi. Warga seharusnya tidak menjalani prosedur administratif yang rumit. Teknologi perlu menyederhanakan proses tersebut. Idealnya, warga menyampaikan kebutuhan dan masalahnya , sementara sistem pemerintahan bekerja terintegrasi untuk memberikan pelayanan dan mengatasi masalah tersebut.  Digitalisasi bukan memindahkan formulir layanan dari kertas ke layar elektronik, yang utama adalah mendesain ulang pelayanan agar lebih sederhana, responsif, inovatif, dan berdayaguna bagi warga.

Dalam kenyataan tidak semua warga memiliki kemampuan digital yang sama. Kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas, masyarakat di daerah terpencil, dan warga dengan literasi digital terbatas menghadapi hambatan baru. Untuk melayani semua lapisan warga maka pemerintahan digital harus bersifat inklusif. Teknologi tidak boleh menciptakan kelompok yang semakin mudah memperoleh layanan dan kelompok lain justru semakin tertinggal. Pelayanan digital seharusnya memperluas akses seluruh warga, bukan menggantikan seluruh bentuk pelayanan secara seragam.

Keberhasilan pemerintahan digital ditandai oleh makin mudah nya warga memperoleh layanan, memahami informasi, menyampaikan keluhan, mendapatkan akses, dan mampu merasakan dukungan pemerintah dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintahan digital terbaik bukanlah pemerintahan yang paling canggih teknologinya, melainkan pemerintahan yang mampu memahami, memudahkan, dan membantu memenuhi kebutuhan warga.

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar pada program S1, S2, dan S3, pembicara publik, penulis buku, serta penulis artikel jurnal nasional dan internasional (Administrasi Publik Digital; Media Penyiaran Digital; Teknologi Informasi & Komunikasi).