Di tengah keheningan malam Ramadhan, khususnya pada malam ke-18 yang semakin mendekatkan umat Islam pada sepuluh malam terakhir yang mulia, kabar wafatnya seorang sahabat sering terasa begitu menggetarkan hati. Bulan yang dipenuhi doa, istighfar, dan harapan akan ampunan Allah SWT justru menjadi saat seseorang dipanggil kembali oleh-Nya. Kesedihan tentu hadir, namun Islam mengajarkan bahwa kematian adalah kepulangan seorang hamba kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
Para pakar spiritualitas Islam sering menekankan bahwa kematian di bulan Ramadhan memberi pesan mendalam bagi orang yang masih hidup. Ulama dan pemikir besar seperti Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa kematian adalah saat seorang manusia berpindah dari alam amal menuju alam balasan. Karena itu, setiap kabar duka seharusnya menjadi pengingat agar manusia memperbanyak amal saleh selagi kesempatan masih ada.
Dalam tradisi ulama, menyampaikan belasungkawa (ta’ziyah) merupakan amalan yang dianjurkan. Ulama hadis terkenal, Ibn Hajar al-Asqalani, menjelaskan bahwa menghibur keluarga yang berduka dan mendoakan orang yang wafat adalah bentuk kepedulian dan ukhuwah Islamiyah. Bahkan Rasulullah SAW mencontohkan agar umatnya saling menguatkan ketika ada saudara yang kehilangan orang tercinta.
Dalam dunia tasawuf, kematian sering dipandang sebagai perjalanan pulang menuju Kekasih sejati. Dikisahkan bahwa seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah menggambarkan kematian bukan sebagai perpisahan, tetapi sebagai “malam pernikahan” jiwa dengan Tuhannya (syab-i ‘arus). Bagi para pecinta Tuhan, wafat adalah saat perjumpaan yang penuh kedamaian setelah perjalanan panjang kehidupan.
Karena itu, ketika seorang sahabat berpulang pada malam ke-18 Ramadhan, kita mengenangnya dengan doa yang tulus dan penuh harapan; Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Ya Allah, ampunilah segala dosa sahabat kami. Terimalah amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, terangilah alam barzakh dengan cahaya rahmat-Mu. Jadikan Ramadhan yang ia jalani sebagai saksi kebaikan di hadapan-Mu. Tempatkan ia di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.
Semoga kepergian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ramadhan mengajarkan bahwa setiap detik adalah kesempatan memperbaiki diri sebelum tiba saat kita dipanggil kembali kepada-Nya. Semoga Allah SWT mengampuni almarhum, menerima amalnya, dan memberi ketabahan bagi keluarga serta sahabat yang ditinggalkan. Aamiin.
Allah A’lamMakassar, 08 Maret 2026
Alat AksesVisi