Gambar Perjalanan Pulang

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang murid sufi yang setiap tahun merayakan Idul Fitri dengan pakaian paling sederhana. Tidak seperti orang lain yang sibuk menyiapkan baju baru dan hidangan melimpah, ia justru lebih banyak mengurung diri menjelang hari raya.

Suatu ketika,gurunya bertanya, “Wahai anakku, mengapa engkau menyambut hari kemenangan dengan kesunyian, bukan kegembiraan seperti yang lain?” Murid tersebut menjawab pelan,

“Guru, aku belum yakin telah menang. Aku khawatir Ramadhan hanya berlalu, tapi aku tidak berubah.” Sanggurutersenyum,laluberkata, “Justru itulah tanda orang yang mulai kembali. Idul Fitri bukan tentang merasa suci, tetapi tentang kesadaran bahwa kita masih harus terus menyucikan diri.”

Dalam tradisi sufistik, Idul Fitri dimaknai bukan sekadar perayaan, tetapi perjalanan pulang—ruju’ ilallah, kembali kepada Tuhan. Seorang sufi besar pernah berkata, “Bukanlah hari raya bagi yang mengenakan pakaian baru, tetapi bagi yang ketaatannya bertambah.”

Pandangan ini sejalan dengan para pakar spiritualitas Islam kontemporer yang menilai bahwa Idul Fitri adalah momentum transformasi batin. Puasa selama sebulan bukan sekadar latihan fisik, tetapi proses pembentukan kesadaran diri: menahan ego, mengendalikan nafsu, dan merawat empati. Jika setelah Ramadhan seseorang tetap angkuh, mudah marah, dan abai pada sesama, maka ia baru “berhenti lapar”, belum “menjadi fitri”.

Para ulama juga menegaskan bahwa makna fitri adalah kembali kepada keadaan asal manusia: suci, jujur, dan dekat dengan kebenaran. Dalam banyak khutbah klasik, disebutkan bahwa Idul Fitri adalah hari di mana manusia diuji kembali—apakah ia mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sebuah kisah lain tentang seorang sufi yang berjalan di tengah keramaian Idul Fitri. Ia melihat orang-orang tertawa, saling bermaafan, dan mengenakan pakaian terbaik. Namun ia justru menangis.

Seseorangbertanya, “Bukankah ini hari bahagia? Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab,

“Aku takut termasuk orang yang merayakan kelulusan tanpa pernah lulus ujian.”

Kisah ini mengandung kritik halus: jangan sampai Idul Fitri hanya menjadi ritual sosial tanpa makna spiritual. Kita mudah mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin,” tetapi sulit benar-benar memaafkan. Kita sibuk merayakan kemenangan, tetapi lupa bertanya: kemenangan atas apa?

Maka, Idul Fitri sejatinya bukan garis akhir, melainkan garis awal. Ia adalah titik kembali—namun kembali yang menuntut keberlanjutan. Seperti seorang musafir yang telah sampai di rumah, tetapi harus terus merawat rumah itu agar tetap layak dihuni.

Idul Fitri bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesadaran untuk terus memperbaiki diri.

Apakah Ramadhan telah mengubah cara saya memandang diri dan orang lain? Apakah saya benar-benar memaafkan, atau hanya sekadar mengucapkannya? Jika Idul Fitri adalah “kembali”, ke mana sebenarnya saya kembali—kepada Tuhan atau kepada kebiasaan lama? Setelah hari raya berlalu, apakah saya tetap menjaga ruh Ramadhan, atau justru meninggalkannya?

Barangkali, kemenangan sejati bukan ketika kita merayakan Idul Fitri, tetapi ketika kita mampu mempertahankan nilai-nilai fitri itu sepanjang hidup kita.

Allah A’lam

Makassar, 21 Maret 2026

Selamat Merayakan Id Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin