Gambar Perang: Siapa yang Menggunakan Akal Sehat?

Catatan Reflektif ke-2

**

Dalam perang, siapa sebenarnya yang masih menggunakan akal sehat?”

Pertanyaan ini tidak sederhana. Sebab dalam setiap konflik, yang pertama kali gugur sering kali bukan tentara, melainkan kejernihan berpikir.

Ada satu fakta yang perlu saya letakkan sejak awal: tidak semua negara memasuki perang dengan pengalaman mental yang sama. Iran bukan negara yang baru mengenal tekanan. Perang delapan tahun melawan Irak, sanksi internasional panjang, konfrontasi regional bertahun-tahun. Semua itu membentuk kultur pertahanan yang terbiasa hidup dalam ancaman. Negara yang lama ditempa tekanan biasanya belajar bahwa reaksi emosional justru mempercepat kehancuran. Maka yang dikembangkan adalah kalkulasi logis.

Selain itu, Iran berdiri di atas warisan peradaban Persia (abad ke-7 SM) yang sangat tua, jauh mendahului banyak peradaban di kawasan sekitarnya. Tradisi administrasi, tata kelola kekuasaan, diplomasi, dan strategi militer telah menjadi bagian dari memori historisnya sejak era Achaemenid hingga Safawi. Peradaban panjang biasanya melahirkan kesadaran historis; bahwa kejayaan dan tekanan datang silih berganti, dan yang bertahan bukanlah yang paling reaktif, melainkan yang paling mampu membaca zaman. Reputasi peradaban besar sering kali membentuk mental pertahanan yang tidak mudah panik oleh satu episode krisis.

Mari kita membaca Iran terbaru.

Serangan udara terhadap wilayah Iran menimbulkan korban domestik dalam jumlah besar; ratusan orang tewas dan ribuan luka-luka. Infrastruktur sipil terdampak luas. Skala kehancuran signifikan.

Kemudian datang serangan balasan Iran.

Targetnya pangkalan militer dan fasilitas strategis. Korban tetap ada dan setiap korban adalah tragedi, tetapi secara kuantitatif skalanya jauh lebih kecil dibandingkan korban yang jatuh di dalam wilayah Iran akibat serangan awal.

Apakah ini kebetulan? 

Dalam hukum perang modern, ada prinsip proporsionalitas: balasan militer harus dibatasi pada sasaran militer yang sah dan tidak boleh melampaui kebutuhan strategis. Negara yang memiliki kemampuan menghancurkan lebih luas tetapi memilih target militer terbatas sedang menunjukkan satu hal. Yakni kendali. Kendali adalah tanda akal bekerja.

Sekarang mari kita lihat dimensi lain secara terbuka.

Israel, dalam sejumlah konflik sebelumnya, telah beberapa kali kedapatan melanggar kesepakatan gencatan senjata. Laporan dari _Human Rights Watch_ dan _Amnesty International_, serta liputan media internasional seperti Reuters dan BBC dalam konteks konflik Gaza, mencatat dugaan pelanggaran_ _ceasefire_ dan tindakan militer yang diperdebatkan dari sisi proporsionalitas. Pemerintah Israel mungkin memiliki versinya sendiri dan sering membantah tuduhan tersebut, tetapi catatan pelanggaran jeda tembak itu bukan isu yang asing dalam diskursus internasional.

Mengapa ini penting disebut?

Karena penghormatan terhadap _ceasefire_ adalah indikator akal sehat dalam perang. Gencatan senjata bukan sekadar jeda teknis, melainkan ruang untuk mendinginkan eskalasi. Jika jeda itu berulang kali dilanggar, maka pesan yang dikirim adalah bahwa perang lebih dipilih daripada stabilitas.

Dalam konteks yang lebih luas, kalkulasi politik domestik Amerika Serikat juga relevan dibaca. Dalam strategi militer dikenal konsep _quick decisive action_, Yakni tindakan cepat dan menentukan. Logikanya: jika harus menyerang, lakukan satu pukulan keras, ciptakan efek kejut, lumpuhkan pusat kekuatan lawan, dan akhiri konflik sebelum berubah menjadi perang panjang yang mahal secara politik.

Pendekatan seperti ini pernah terlihat dalam berbagai kebijakan luar negeri era Donald Trump, yang kerap menekankan kemenangan cepat dan tegas. Di sisi lain, Amerika menghadapi tekanan domestik: polarisasi politik tajam, tekanan ekonomi pasca inflasi tinggi, persoalan perbatasan, dan fragmentasi sosial. Trump mungkin sedang mencoba raih dukungan melalui apa yang disebut _rally around the flag effect_. Yakni efek berkumpul di sekitar bendera. Meraih kecenderungan publik meningkatkan dukungan kepadanya ketika negara menghadapi ancaman eksternal. Setelah 11 September misalnya, popularitas Presiden Bush melonjak drastis karena solidaritas nasional menguat.

Maka perang tidak pernah murni militer. Ia juga sarat kalkulasi politik.

Jika ada asumsi bahwa satu serangan besar akan membuat Iran langsung runtuh. Sekali pukul langsung “KO” maka realitas menunjukkan bahwa negara yang telah lama ditempa tekanan tidak mudah lumpuh oleh satu pukulan. Struktur yang terinstitusionalisasi biasanya memiliki daya tahan.

Di sinilah pertanyaan moral itu kembali: siapa yang menggunakan akal sehat?

Akal sehat dalam perang bukan berarti tidak membalas. Tetapi ia berarti membatasi balasan. Ia berarti menghormati jeda tembak ketika disepakati. Ia berarti memilih target militer, bukan memperluas kehancuran ke populasi sipil.

Dalam eskalasi terakhir, misalnya, Iran menargetkan Markas Armada Kelima AS di Bahrain, Camp Arifjan di Kuwait, pangkalan udara Al-Udeid di Qatar, Al-Dhafra di UEA, serta beberapa instalasi strategis di Israel seperti Beit Shemesh dan titik tertentu di Tel Aviv. Sasaran-sasaran itu memiliki nilai militer dan simbolik. Bandingkan dengan serangan udara sebelumnya ke wilayah Iran yang menghantam area domestik luas dan menyebabkan ratusan korban jiwa serta ribuan luka-luka. Perbandingan ini bukan untuk meremehkan korban di pihak mana pun, tetapi untuk membaca pola: apakah sasaran difokuskan pada infrastruktur militer atau diperluas ke ruang hidup sipil secara masif.

Di titik inilah publik internasional menilai: siapa yang bertindak secara emosional dan siapa yang bereaksi secara terukur?

Dalam sejarah Islam awal, hampir seluruh peperangan Nabi Muhammad berada dalam posisi defensif. Khandaq adalah simbolnya: menggali parit untuk melindungi kota. Bahkan dalam perang, ada larangan membunuh non-kombatan dan merusak kehidupan sipil. Artinya, perang diakui sebagai realitas, tetapi batas moral tidak ditanggalkan.

Maka ukuran peradaban dalam perang bukan siapa yang paling kuat menghancurkan, tetapi siapa yang masih mengenal batas. Siapa yang masih menghormati kesepakatan, siapa yang masih menahan diri ketika mampu melampaui.

Perang mungkin tak terhindarkan dalam sejarah manusia. Tetapi kehilangan batas adalah kehilangan akal sehat.

Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menembakkan rudal lebih dulu, melainkan siapa yang, di tengah kemampuan menghancurkan, masih memilih untuk berpikir sebelum melangkah lebih jauh.

Makassar, 4 Maret 2026.