Puasa dan Sistem Informasi (SI) dapat dipahami sebagai pertemuan antara nilai spiritual dan prinsip pengelolaan yang berbasis data. Walaupun berasal dari ranah yang berbeda akan tetapi puasa sebagai praktik pengendalian diri, dan SI sebagai alat pengelolaan informasi, keduanya memiliki kesamaan mendasar yang diawali dengan tahap perencanaan; pengalokasian sumber daya; pengimplementasian dan pengendalian. Tahapan-tahapan tersebut diimplementasikan secara sadar, terstruktur, dan berorientasi pada tujuan.
Pengendalian Diri
Pengendalian adalah tahapan akhir dari manajemen yang menjadi Continuous improvement pada kegiatan selanjutnya. Meskipun demikian, perlu dipahami dengan baik apa yang menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai. Pada orang yang berpuasa, pengendalian ini akan ditekankan pada pengendalian diri guna mencapai derajat takwa. Dalam Al qur’an ditegaskan bahwa manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Allah SWT dalam bentuk terbaik, diciptakan dari tanah dan melalui proses biologis. Setelah melalui kesempurnaan dalam proses penciptaan, maka manusia dihadirkan dengan satu tugas utama yaitu sebagai khalifah yang memiliki akal, dan diperintahkan untuk saling mengenal meski berbeda suku/bangsa, dengan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan tertinggi.
Uraian di atas mungkin belum menjawab secara detail, apa sebenarnya sumber daya yang harus dikendalikan?. Kaitan dengan hal tersebut, Allah swt. memberikan perintah untuk memperhatikan diri sendiri. "Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?"(Adz-Dzariyat:21). Pada Tafsir Tahlili diuraikan –“Ayat ini mengisyaratkan kepada manusia bahwa pada diri manusia terdapat bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah seperti perbedaan kemampuan, perbedaan bahasa, kecerdasan dan banyak macamnya anggota tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri.” Pada ayat yang lain QS. Fushshilat: 53 Allah swt. berfirman yang terjemahnya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?. Berdasarkan Tafsir Ringkas Kemenag ayat tersebut mengandung makna, “Untuk mendukung kebenaran Al-Qur’an, Kami juga akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru yang dapat mereka saksikan di luar diri mereka dan apa saja yang ada pada diri mereka sendiri yang dapat mereka rasakan, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar datang dari Allah. Tidak cukupkah bagi kamu, wahai Nabi Muhammad, bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Data, Manusia dan Puasa
Secara terminologi, data adalah istilah yang digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk merujuk pada fakta atau representasi realitas yang dapat dicatat, diukur, atau diamati, dan menjadi bahan dasar bagi proses analisis, interpretasi, serta pengambilan keputusan. Jika demikian adanya, maka menarik untuk dicermati tentang bagaimana cara manusia mendapatkan data. Berbekal sumber daya yang ada dalam dirinya manusia memperoleh data melalui indera yang ada, antara lain melalui mata, telinga, hidung, mulut dan kulit. Data yang ditangkap akan diproses sedemikian rupa untuk menghasilkan suatu informasi. Kualitas dari informasi akan dipengaruhi oleh data yang baru masuk dan juga informasi yang tersimpan sebelumnya. Dalam sistem informasi, suatu pengetahuan dapat diuraikan sebagai value of information, dimana informasi adalah hasil dari pengelolaan data yang berguna dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk proses pengambilan keputusan ataupun tindakan. Pengetahuan yang baik cenderung akan mengarahkan pada perilaku yang baik begitu pun sebaliknya. Pada diri manusia, tindakan ini akan terlihat melalui tangan, kaki dan organ reproduksi (kulit).
Puasa mengajarkan disiplin dalam mengelola kebutuhan dan perilaku, dimana tiap individu membatasi konsumsi, mengatur waktu, dan meningkatkan kesadaran terhadap tindakan yang dilakukan. Misalnya pada pengaturan konsumsi (indera mulut), perilaku ini akan memberikan suplai darah yang maksimal ke jantung dan otak manusia sehingga otak bisa bekerja maksimal untuk menghasilkan suatu informasi/pengetahuan yang berguna bagi manusia. Pada gilirannya kualitas informasi tersebut akan berpengaruh pada kualitas perilaku(alat gerak) pada diri manusia. Pada case yang lain, mulut juga akan bertindak sebagai alat output. Meskipun terlihat ringan dan mudah, akan tetapi sedekah bisa dihasilkan dari indera ini. Bersedekahlah dengan tersenyum. Senyuman yang asli bukan melalui emoji.
Ada banyak case untuk menggambarkan kaitan antara data, manusia dan tindakannya. Tetapi ketika dipadukan dengan puasa, maka indera yang menjadi sumber daya dalam diri manusia akan selalu dilatih untuk menahan nafsu syahwat, amarah dan maksiat guna mencapai derajat takwa. Hubungan antara sumber daya manusia dan tindakannya dijelaskan dalam terjemah ayatayat al qur’an yaitu:
• QS. Yasin : 65. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
• QS. Fussilat Ayat 20-21: Ayat ini menjelaskan bahwa tidak hanya tangan dan kaki, tetapi kulit, pendengaran, dan penglihatan pun ikut bersaksi. "...Bahkan kamu berkata kepada kulitmu: 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit menjawab: 'Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata...'"
• QS. An-Nur Ayat 24: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Oleh karena itu, integrasi antara kedua pengetahuan di atas dapat dimaknai sebagai pengendalian terhadap 7 indera input yakni mulut, 2 aliran hidung, 2 bola mata dan 2 lubang telinga serta mengendalikan 5 organ gerak yaitu 2 tangan, 2 kaki dan 1 organ reproduksi.
Sebagai penutup, hanya kepadaNya kita memohon, semoga dengan berpuasa mengantarkan kita semua kembali ke dalam fitrah yang pada akhirnya mengantarkan pada derajat takwa. Aamiin.
Wallahu a'lam bishawab.Gowa, 22 – 2 - 2026
Alat AksesVisi