Gambar Pendidikan: Mengejar Angka atau Membentuk Manusia?

Pendidikan hari ini semakin akrab dengan angka. Nilai ujian, indeks prestasi, akreditasi, peringkat sekolah, capaian kompetensi, hingga berbagai indikator kinerja menjadi ukuran keberhasilan pendidikan. Angka memang penting karena membantu mengukur capaian. Namun, ketika angka berubah menjadi tujuan utama, pendidikan berisiko kehilangan hakikatnya yaitu “membentuk manusia.” Realitas ini bertentangan dengan apa yang dikemukakan Muhammad Naquib al-Attas “tujuan mencari ilmu dalam Islam adalah menanamkan kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai manusia dan sebagai pribadi”.

Dalam konteks ini, mampu atau tidaknya pendidikan dalam mengakselerasi potensi berpikir, bersikap, berbicara, ataupun bertindak peserta didik sebagai manusia yang beradab menjadi ukuran ketercapaian tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan al-Ghazali bahwa “Ilmu bukan sekadar apa yang diketahui, tetapi apa yang mengubah diri manusia menjadi lebih baik.”

Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah siklus pendidikan sering terjebak dalam logika kuantifikasi. Peserta didik dinilai melalui angka, pendidik diukur melalui capaian administratif, sekolah dibandingkan melalui peringkat, dan perguruan tinggi berlomba mengejar berbagai indikator kinerja. Kita kemudian mudah lupa bahwa manusia tidak seluruhnya dapat diterjemahkan ke dalam angka. Kejujuran, empati, tanggung jawab, ketulusan, kesantunan, dan kepedulian sosial tidak selalu memiliki skor yang mudah dihitung.

Di sinilah pemerhati pendidikan perlu kembali bertanya: manusia seperti apa yang hendak kita bentuk? Tradisi keilmuan dalam pendidikan Islam menawarkan perspektif penting. Pendidikan harus mengintegrasikan pengetahuan dengan nilai, kecerdasan dengan kebijaksanaan, serta kompetensi dengan tanggung jawab. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi tempat produksi lulusan berlabel angka, tetapi juga ruang pembentukan manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan semesta. Evaluasi pendidikan memang perlu mempertahankan angka, tetapi tidak boleh diperbudak oleh angka. Alfie Kohn menyatakan bahwa “kita layak prihatin ketika banyak peserta didik memperoleh nilai A lalu mereka terjebak pada keyakinan bahwa memperoleh nilai A adalah tujuan mereka bersekolah”.

Pertanyaan terpenting pemerhati pendidikan sekarang ini bukanlah “berapa nilai yang diperoleh?”, tetapi “menjadi manusia seperti apakah peserta didik setelah melalui proses pendidikan?” Jika pertanyaan kedua mulai kita lupakan, mungkin iklim pendidikan kita memang sedang fokus mengejar angka, tetapi gagal fokus membentuk manusia.