Wasit hidup dalam dilema. Di lapangan, merekalah yang paling sering dimaki, tetapi paling dibutuhkan. Tanpa wasit, sepak bola tinggal rebutan bola alias "Maggolo' lemo".
Seperti banyak urusan di negeri ini, begitu rasa adil dipersoalkan, hukum pun dipermainkan, pertandingan berubah menjadi panggung drama. Sebab ketika kekuatan lebih didengar daripada aturan, peluit kehilangan maknanya.
Pernahkah Anda bertanya, mengapa wasit harus menjadi orang paling sabar di lapangan? Sebab sekali saja ikut emosi, pertandingan berubah menjadi arena balas dendam.
Persoalannya, belakangan bukan hanya pemain sibuk berdebat. Sesama pemegang peluit pun saling mengacungkan kartu merah, lalu bergantian menangkap.
Penonton malah disuguhi tontonan lebih seru daripada pertandingan. Hari ini satu pemegang peluit membawa tumpukan barang bukti, esok giliran pemegang peluit lain meniup peluit balasan. Perhatian publik tak lagi tertuju pada pencetak gol, melainkan pada siapa paling berwenang meniup peluit.
Padahal, sesama wasit semestinya menjaga wibawa peluit, bukan berlomba menjadi wasit bagi wasit lain. Kadang saya bertanya, peluit siapa yang patut dipatuhi ketika semua merasa menjadi wasit. Jangan-jangan bukan pemain yang offside, melainkan para peniup peluit.
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada sebuah kejadian lama. Seorang pemain pernah memprotes keras keputusan wasit. Sang wasit menjawab santai,
"Mata saya masih normal. Yang sering kabur justru kepentingan orang."
Jawaban itu pendek. Saya malah panjang mikir. Sampai sekarang kalimat itu masih suka muncul sendiri setiap melihat orang berebut peluit. Dari situlah ingatan saya melompat ke lapangan kecil di belakang rumah, tempo doeloe.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin hanya suporter kesebelasan kampung kami yang percaya pertandingan bisa dimenangkan sebelum peluit pertama berbunyi. Urusannya bukan taktik, melainkan perut lawan.
Dulu, setiap turnamen besar digelar, lapangan kampung kami dipagari