Ramadan memasuki hari keenam. Masjid penuh. Doa panjang. Air mata jatuh di sajadah. Namun di luar pagar ibadah, tampak pemandangan lain: perburuan takjil tanpa kendali.
Ledakan makanan siap saji mengepung sudut kota hingga desa. Harga murah dipajang mencolok. Aroma hasil penggorengan berulang menyesaki udara. Semua terlihat menggoda. Semua terasa mendesak. Seolah satu-satunya misi menjelang magrib ialah menaklukkan lapar, bukan menjaga takwa.
Aku bukan aparat pengawas pangan. Aku hanya da’i resah melihat betapa mudah sesuatu masuk ke perut tanpa kejelasan asal. Lapar sering membutakan nalar. Harga murah kerap melumpuhkan iman. Kita rela berdebat soal hilal, tetapi diam saat makanan syubhat melintas di depan mata.
Peringatan Nabi sangat keras. Dalam riwayat At-Thabrani dan Tirmidzi disebutkan bahwa tubuh tumbuh dari makanan haram lebih pantas disentuh api neraka.
Ini bukan retorika mimbar. Ini peringatan serius. Puasa bukan sekadar menahan haus, tetapi juga menjaga apa saja yang masuk ke dalam tubuh kita.
Kesadaran itulah terusik sejak awal Ramadan. Pengamatanku menemukan anomali visual: serbuan takjil dengan asal-usul samar. Logikaku terusik saat melihat paket nasi sop daging dijual Rp7.000.
Aku mencoba berhitung. Jika nasi Rp5.000, berarti sop daging Rp2.000. Sementara harga daging segar di salah satu pasar tradisional per kilogram menembus Rp130.000.
Logika sederhana saja sudah goyah. Lalu daging apa sebenarnya kita santap? Tulang sisa? Lemak buangan? Atau bahan sengaja tak ingin dibicarakan?
Aku tidak menuduh. Aku bertanya. Mengapa akal sehat runtuh demi selisih receh? Mengapa kehati-hatian terasa mahal saat iman sedang diuji?
Lebih mengkhawatirkan lagi, aku pernah menemukan restoran belum memiliki kejelasan sertifikasi halal memasang simbol religius demi membangun kesan aman. Pelayan berbusana muslimah dijadikan penegas citra visual. Nama kuliner populer dicantumkan tanpa standar kejelasan memadai.
Persoalannya bukan pada identitas pemilik usaha, melainkan pada kejujuran informasi kepada publik. Jika benar halal, tunjukkan bukti secara terbuka. Jika belum pasti, jangan menyamarkannya demi keuntungan.
Ramadan seharusnya memurnikan hati. Makanan tak jelas justru dapat mengeraskannya. Hati keras sulit tersentuh ayat. Doa terasa berat. Ibadah berubah menjadi rutinitas tanpa cahaya.
Pengawasan tidak boleh sekadar formalitas. Jangan menunggu korban sakit massal baru bergerak. Bahaya tidak selalu datang dengan teriakan. Ia bisa merayap pelan, merusak tanpa suara.
Aku menulis bukan untuk merasa suci. Aku pun terus belajar waspada. Meski melihat “
Alat AksesVisi