Beberapa hari lalu saya menonton Metro TV.
Kebetulan stasiun televisi itu menayangkan berita tentang Pambusuang. Desa ini diperkenalkan sebagai "Desa Sepak Bola".
Saya merasa bangga sekaligus penasaran.
Sama bangganya ketika salah seorang putra terbaiknya, Baharuddin Lopa, dikenal sebagai pendekar hukum yang teguh memegang prinsip.
Saya pun mencari tahu, mengapa Pambusuang mendapat julukan "Desa Sepak Bola"?
Ternyata, setiap kali Piala Dunia diselenggarakan, selama beberapa dekade terakhir, desa ini selalu dipenuhi bendera negara-negara peserta.
Bendera-bendera itu berkibar di depan rumah-rumah warga, di jalan-jalan, dan di berbagai tempat strategis.
Pada Piala Dunia kali ini, warga tidak hanya memasang bendera, tetapi juga mengadakan pawai hingga ke ibu kota kecamatan, menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan kendaraan bermotor, sebagai bentuk dukungan kepada tim yang mereka jagokan.
Itulah yang diliput Metro TV menyambut bergulirnya Piala Dunia 2026.
Menurut pengamatan saya, euforia sepak bola di desa ini kadang berlangsung terlalu berlebihan.
Bahkan, saya melihat adanya dampak sosial yang kurang baik.
Sebagian warga saling mengejek ketika tim yang didukung tetangganya mengalami kekalahan.
Padahal, Piala Dunia memang telah menyedot perhatian masyarakat dunia, bagai magnet yang menarik ratusan juta pasang mata.
Benarlah kata para pengamat, "bola itu bundar."
Tidak ada yang dapat diprediksi.
Tim yang sebelumnya tidak diunggulkan dapat mengimbangi bahkan mengalahkan tim-tim besar.
Karena itulah, sepak bola selalu menghadirkan kejutan dan menyimpan misterinya sendiri.
Meskipun sepak bola merupakan olahraga yang sangat digemari oleh warga dunia, apalagi Piala Dunia yang hadir setiap empat tahun sekali,
olahraga ini sebaiknya disambut dengan antusias dan kegembiraan, tanpa fanatisme yang berlebihan.
Jangan sampai perbedaan pilihan tim merusak hubungan baik antar tetangga, antar sahabat, bahkan antar keluarga.
Perilaku itulah yang saya kritisi, bukan sepak bolanya.
Saya sendiri sering begadang untuk menikmati pertandingan.
Namun, ada nilai yang selalu saya pegang:
"Cinta dan benci jangan berlebihan."
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, makan dan minum pun dianjurkan tidak berlebihan.
Dengan semangat itu, marilah kita menyambut Piala Dunia dengan penuh kegembiraan, sportiviItas, dan persaudaraan.
Wassalam.Kompleks GFM, 15 Juni 2026
Alat AksesVisi