Dalam sambutan dan pesan-pesan Al-Jamiah pada Wisuda Angkatan ke-120, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., menggambarkan karakter Generasi Z dengan istilah-istilah yang akrab di kalangan mereka.
Setelah menyimak sambutan dan pesan-pesan almamater salah satu penekanannya bahwa para sarjana adalah generasi fighter—generasi petarung.
Seorang sarjana tidak lahir dari ruang hampa. Gelar yang disandang bukanlah hadiah yang datang begitu saja, kalian bukan sarjana kaleng-kaleng melainkan buah dari perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan, kegagalan, dan ketekunan.
Karena itu, seorang sarjana sejati adalah seorang petarung yang tidak mudah menyerah.
Seorang sarjana fighter harus menghapus kata mustahil dari kamus hidupnya.
Sesungguhnya, kata mustahil sering kali hanyalah ilusi yang lahir dari rasa takut, keraguan, atau cara berpikir yang membatasi diri.
Dengan tekad yang kuat, kerja keras, doa, dan strategi yang tepat, sesuatu yang semula tampak tidak mungkin dapat berubah menjadi kenyataan.
Alam pun memberikan banyak pelajaran tentang arti ketangguhan.
Lihatlah seekor ular. Meskipun tidak memiliki kaki, ia mampu bergerak lincah, bertahan hidup, bahkan memangsa hewan yang berkaki dan bertanduk. Keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk bertahan dan memenangkan perjuangan hidup.
Perhatikan pula seekor nyamuk. Tubuhnya kecil dan ringan, tetapi kehadirannya mampu mengganggu makhluk yang jauh lebih besar, termasuk manusia.
Hal ini mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu ditentukan oleh ukuran, melainkan oleh kemampuan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Demikian pula seekor cecak. Dengan gerakan yang tenang dan penuh kesabaran, ia merayap di dinding hingga pada saat yang tepat mampu menangkap nyamuk yang terbang cepat.
Keberhasilan bukan hanya milik yang paling kuat atau paling cepat, tetapi juga milik mereka yang cermat, sabar, dan pandai memanfaatkan momentum.
Begitulah semestinya seorang sarjana fighter. Ia tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai tantangan untuk melahirkan kreativitas, inovasi, dan solusi. Kalian harus yakin bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh banyaknya kekurangan, tetapi oleh tekad yang kuat, keberanian untuk terus berjuang dan mengoptimalkan setiap potensi yang dianugerahkan Allah SWT.
Karena itu, jangan pernah berkata, "Ini mustahil." Katakanlah, "Ini adalah tantangan yang harus saya taklukkan." Sebab, sejarah selalu ditulis oleh orang-orang yang berani melampaui batas-batas yang selama ini dianggap mustahil oleh kebanyakan orang.
Pesan Rektor kepada para wisudawan agar terus menjadi sarjana fighter—berani bermimpi, gigih berjuang, dan menghadirkan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.