Gambar Oase Ramadhan (20): Hidup Fana VS Panjang Umur

Lazim bagi kita bahwa hidup ini bersifat sementara, dengan kata lain bersifat 'fana' yang bermakna tidak kekal, dapat rusak (binasa), sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surah Ar-Rahman (26), "semua yang ada di atas (bumi) akan binasa". Semua makhluk ciptaanNya pasati akan binasa, karena memang yang kekal (baqa') hanya Zat yang Maha Kekal itu sendiri. 

Tapi kenapa kemudian banyak yang menikmati dan menjalani hidup seolah-olah hidupnya akan kekal dan tidak meninggalkan segalanya. Padahal hampir setiap saat kita menyaksikan di sekitar kita orang-orang silih berganti, ada yang lahir dan ada yang pergi (meninggal), bukankah itu semua dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita?

Binatang, hewan, tanaman atau tumbuhan pun demikian, semua ada batas waktunya. Tumbuhan atau tanaman Bertumbuh, berbuah, kemudian menua dan mati. Hewan dan binatang pun lahir atau menetas, hidup bertumbuh, berterlur/beranak lalu juga pada akhirnya mati.

Bahkan nabi pun pernah menyampaikan bahwa umur umatnya hanya antara 60-70 tahun, artinya jika lebih dari itu berarti sudah super bonus. Pertanyaannya adalah apakah ada jalan agar kepanaan hidup ini paling tidak lebih lama dibanding yang reguler? 

Kalau secara kesehatan jelas kita semua sudah paham bahwa untuk menjaga agar hidup tetap sehat, awet dan lebih panjang umur fisik adalah dengan menjaga pola hidup sehat, mulai dari pola makan, pola tidur, olah raga, dan manajemen stres. 

Akan tetapi menurut pandangan ulama memperpanjang umur dapat dibagi menjadi dua yakni umur biologis dan umur manfaat. Memperpanjang umur biologis berangkat dari salah satu hadis nabi dari Anas bin Malik bahwa: 

"Barang siapa menyukai dirinya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim."
(HR. Bukhari)

Umur panjang dalam hadis di atas menurut Imam An-Nawawi bermakna keberkahan hidup, diberikan keberkahan atas waktu yang dimiliki sehingga dapat melakukan banyak hal dalam beramal baik di dunia. Karena secara biologis umur sudah ditentukan oleh Penciptanya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf: 34

"Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan."


Adapun umur manfaat sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi tersebut bawa manusia bisa saja hidup lebih lama melampaui umur biologisnya manakala dia mampu memanfaatkan setiap waktu dari sisa hidupnya dengan sebaik-baiknya dalam kebaikan. 

Sejalan dengan pandangan imam Ibnu Taimiyah bahwa keberkahan hidup menunjukkan bahwa seseorang dapat melakukan amalan di waktu singkat yang secara akumulasi, amalan tersebut dapat dikerjakan oleh orang lain dengan umur yang panjang. 

Berbagai amalan kebaikan yang utama yang dapat dilakukan seperti membelanjakan harta di Jalan Allah  (sedekah jariah) yang dapat dinikmati oleh banyak orang hingga yang hidup setelahnya, dan juga mengajarkan atau mewariskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat yang dapat dinikmati dan diajarkan secara terus-menerus meski yang bersangkutan sudah tiada. 

Selamat menunaikan Ibadah Puasa