Gambar NOSTALGIA YANG TERLUPAKAN

Lirik lagu "Gaudeamus Igitur," sangat populer di masa tertentu, sekali pun liriknya berbahasa Latin. Lagu ini pertama kali saya kenal pada masa perkenalan siswa di SP IAIN (Sekolah Persiapan Institut Agam Islam Negeri) tahun 1971, setingkat SMA. Lagu itu kembali dinyanyikan ketika mengikuti masa perkenalan mahasiswa semester pertama di IAIN pada tahun 1973.

Benar bahwa sebuah lagu tidak selalu perlu dipahami artinya agar dapat dihafal. Syarat utama sebuah lagu mudah melekat dalam ingatan ialah enak dilagukan dan berulang-ulang dinyanyikan. Karena itulah, setiap kali lagu ini melintas di telinga saya, berbagai kenangan masa 1971 dan 1973 seakan hidup kembali sebuah kenangan dengan para teman sekolah.

Di tahun 1960-an di Indonesia terjadi sebuah pemasaransar lagu-lagu daerah, umumnya tidak diketahi artinya. Seakan sebuah festival lagu daerah yang dipasarkan secara bebas ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Maroke lewat alat komunikasi yang ada masa itu, seperti radio

 Lagu daerah yang ditawarkan seprti; Ayamdelape, Kotabaru Gununnya Bammeka, Kabaena Gunung Yang Tinggi, Ombak Di Laut Sama Ratanya dan lain sebagainya. Ternyata lirik lagu itu mudah di hafal karena pemasarannya intensif.

Kembali pada lagu Gaudeamus Igitur. Belakangan saya baru mengetahui bahwa pada masa kolonial banyak pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda, sementara lagu ini sangat populer di Eropa Barat. Lagu tersebut menggunakan bahasa Latin.

Menurut beberapa catatan sejarah, para pelajar dan mahasiswa Indonesia itulah yang turut memperkenalkan dan menyebarluaskan Gaudeamus Igitur di lingkungan pendidikan di tanah air. Karena itu, lagu tersebut masih sempat saya jumpai ketika duduk di bangku sekolah menengah hingga memasuki semester pertama perguruan tinggi.

Jika ditelusuri, fungsi lagu ini juga mengalami perubahan. Awalnya, Gaudeamus Igitur dinyanyikan pada upacara wisuda sebagai ungkapan kegembiraan dan penghormatan terhadap dunia akademik. Namun pada masa saya, lagu itu justru lebih sering dinyanyikan pada kegiatan perkenalan mahasiswa baru atau yang dahulu dikenal dengan istilah “perpeloncoan”. Kini, tradisi semacam itu sudah tidak ada lagi. Bersamaan dengan hilangnya tradisi tersebut, lagu itu pun nyaris tidak pernah terdengar lagi. Padahal pada masa kami, lagu ini sangat populer dan menjadi bagian dari memori kolektif generasi tertentu.

Meskipun dahulu saya tidak memahami maknanya, karena sering dinyanyikan akhirnya saya hafal liriknya. Baru di kemudian hari saya menyadari bahwa lagu itu bukan sekadar lagu nostalgia, melainkan juga mengandung pesan filosofis tentang kehidupan manusia yang singkat, masa muda yang sementara, serta penghormatan kepada dunia ilmu pengetahuan.

Berikut beberapa penggalan liriknya beserta terjemahannya:

Gaudeamus igitur,

Mari kita bergembira,

Juvenes dum sumus;

Selagi kita masih muda.

Vita nostra brevis est,

Hidup kita singkat,

Brevi finietur;

Dan segera akan berakhir.

Vivat Academia!

Hiduplah dunia akademik!

Vivant professores!

Hiduplah para profesor!

Lirik ini mengingatkan bahwa masa muda, kehidupan, bahkan keberadaan manusia pada akhirnya akan berlalu. Yang tertinggal hanyalah kenangan, ilmu, dan jejak pengabdian.

Masih banyak bagian lain dari lirik tersebut, tetapi cukuplah kiranya untuk mengingatkan bahwa begitu banyak nostalgia masa lalu yang perlahan terlupakan oleh perubahan zaman.

Benarlah kata Imam Syafi’i:

“Semakin banyak saya tahu, semakin banyak saya tidak tahu.” Karena banyak ilmu pengetahuan yang disebarkan Allah swt., di bumi ini.

Dan benar pula ungkapan para ilmuwan budaya bahwa kita semua hidup dalam perubahan; satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Wassalam,

Kompleks GFM, 14 Mei 2026