Gambar Nonton Perang Modern

Orang desa, belajar agama di madrasah, kalau mendengar kata “perang”, yang terbayang adalah kisah Perang Badar. Pasukan saling berhadap-hadapan. Jelas siapa lawan, jelas siapa kawan. Senjatanya pedang, tombak, panah. Kendaraannya kuda dan unta. Yang maju ke medan tempur adalah mereka yang siap mati.

Dalam cerita wayang, kita dengar kisah Perang Baratayudha antara balatentata Pandawa melawan Kurawa dalam politik perebutan tahta Hastinaoura. Perang ini ksatria bertarung satu lawan satu. Ada adab, ada kesatriaannya. Bahkan dalam perang pun masih ada etika.

Kemudian, nonton film action berseri “Rambo” ala Amerika yang dibintangi Sylvester Stallone, perangnya di hutan, sungai, dan gunung, dengan senjata tradisional disamping mengandalkan fisik dan strategi jebakan, pisau, api, busur panah lawannya pakai senjata modern pistol dan senapan mesin.

Perang Rambo enak ditonton dan penuh etik, fasilitas publik dan rumah ibadah tidak dijadikan strategi melumpuhkan lawan, apalagi anak-anak dan warga sipil, tidak.

Ketika kita membaca histori perang merebut Kemerdekaan Indonesia. Perang Pangeran Diponegoro misalnya Senjatanya bambu runcing, senapan rampasan, paling canggih bom rakitan. Tentara dan pejuang saling berhadapan. Korbannya memang ada, tapi terbatas pada mereka yang benar-benar turun ke medan perang. Warga sipil umumnya tahu ke mana harus mengungsi. Perang terasa “terlihat”. Ada suara langkah, ada asap mesiu, ada pekikan takbir atau pekik merdeka.

Itulah yang bisa kita sebut perang tradisional. Perang yang masih kelihatan wajah manusianya—meski tetap saja menyakitkan.

Tapi sekarang, kita menyaksikan perang jenis lain, perang modern supercanggih.

Kita melihat berita tentang ketegangan antara Amerika-Israel versus Iran.

Yang terlihat bukan lagi pasukan berbaris. Bukan lagi denting pedang. Yang muncul di layar televisi adalah titik-titik cahaya di langit malam. Rudal meluncur ribuan kilometer. Drone terbang tanpa pilot. Serangan datang tanpa aba-aba. Kadang tidak terdengar langkah kaki, tahu-tahu gedung runtuh.

Perang modern ini seperti hantu. Tidak kelihatan tentaranya, tapi terasa dampaknya.
Tidak jelas di mana garis depannya, tapi semua bisa jadi sasaran.
Dulu, orang yang tidak ikut perang relatif aman.
Sekarang, seorang pemimpin negara bisa jadi target di ruang kerjanya.
Warga sipil bisa terdampak di rumahnya. Umat beragama ibadah di rumah ibadahnya bisa jadi korban.
Anak-anak bisa jadi korban tanpa pernah tahu apa itu politik. Dahsyat.

Inilah yang membuat hati orang desa seperti saya geleng-geleng kepala dan sedih.

Kalau dulu perang itu “adu keberanian”, sekarang perang terasa seperti “adu teknologi”. Siapa paling canggih, dia paling mematikan. Yang jauh bisa memukul yang dekat. Yang tak terlihat bisa melumpuhkan yang terlihat.

Dan ini semua terjadi di bulan Ramadhan. Bukan “kasih sayang” yang seharusnya dihormati oleh semua warga dunia.

Bulan yang di pesantren dulu kami pahami sebagai bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan menahan diri. Ironisnya, di saat sebagian umat menahan lapar dan dahaga, sebagian manusia lain menekan tombol peluncur rudal.

Sebagai orang Indonesia yang dibesarkan dengan prinsip politik “bebas aktif”, kita tidak mudah menyalahkan siapa pun. Kita juga tidak ingin menjadi hakim dunia. Tapi sebagai orang beriman, kita punya hak untuk berharap hidup damai.

Semoga teknologi secanggih apa pun tidak mematikan nurani.
Semoga kekuatan sebesar apa pun tidak menghapus rasa kemanusiaan.
Semoga para pemimpin dunia ingat bahwa di balik setiap tombol peluncur ada nyawa yang tak bersalah.
Semoga teknologi alutsista hanya untuk kedaulatan negara. Tidak menghentikan proses pendidikam anak cucu. Tidak mengganggu haji dan umrah. Tidak mengancam kaki-kali ajaib di Piala Dunia 2026.

Perang tradisional mengajarkan kita tentang keberanian.
Perang modern mengingatkan kita tentang kerapuhan manusia.
Dan Ramadhan seharusnya mengajarkan kita tentang menahan diri.

(*)