Gambar Nasionalisme yang Terpanggil

Hubbul Wathan minal Iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman). Ungkapan ini sangat populer di masyarakat kita meski ditengarai itu bukan hadis Nabi saw, tetapi misinya jelas untuk memperkokoh semangat kebangsaan dengan pendekatan agama.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, nasionalisme sering terdengar seperti kata yang mulai memudar. Banyak orang lebih sibuk mengejar karier pribadi, kenyamanan hidup, dan kepentingan individu. Tanah air sering hanya disebut dalam pidato atau slogan, tetapi jarang benar-benar dirasakan sebagai panggilan batin (ingat kasus Awardee LPDP)

Namun sesekali sejarah menghadirkan peristiwa yang mengingatkan kita bahwa nasionalisme masih hidup di hati sebagian orang.

Salah satu kisah yang menarik perhatian dunia belakangan ini adalah sikap seorang pesepakbola Iran, Mehdi Taremi. Penyerang tim nasional Iran yang juga pernah bermain di klub-klub besar Eropa itu dikabarkan memilih kembali ke negaranya di tengah situasi konflik perang yang memanas.

Konon ia berencana meninggalkan karier sepak bola profesionalnya untuk memenuhi panggilan membela tanah airnya.  Padahal bagi seorang atlet profesional, karier di klub Eropa adalah prestasi yang sangat berharga. Di sana ada kontrak besar, popularitas internasional, dan masa depan yang menjanjikan. Namun dalam situasi tertentu, panggilan tanah air terasa lebih kuat daripada semua itu.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip media, Taremi disebut mengatakan bahwa ketika negara sedang berada dalam bahaya, sepak bola bukan lagi prioritas utama. Tanah air membutuhkan kehadiran warganya. Tidak peduli seberapa besar kontribusinya untuk mempertahankan negaranya, tapi paling tidak kehadirannya di Iran bisa menginjeksi motivasi besar bagi masyarakat untuk memompa semangat juang dan nasionalisme.

Kisah ini tentu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang politik dan geopolitik. Namun jika kita melihatnya dari perspektif moral dan kemanusiaan, ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik bahwa cinta kepada tanah air bukan sekadar retorika, tetapi kesediaan untuk hadir ketika bangsa membutuhkan.

Nasionalisme yang sehat bukanlah sikap yang memusuhi bangsa lain, tetapi kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab moral terhadap negeri tempat kita dilahirkan dan dibesarkan.

Indonesia sendiri lahir dari semangat nasionalisme yang kuat. Para pendiri bangsa rela meninggalkan kenyamanan hidup demi memperjuangkan kemerdekaan. Mereka tidak bertanya apa yang bisa mereka ambil dari negara, tetapi apa yang bisa mereka berikan.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, semangat seperti itu sering memudar. Nasionalisme kadang hanya muncul saat pertandingan sepak bola atau perayaan hari kemerdekaan. Di luar itu, sebagian orang lebih sibuk memikirkan kepentingan pribadi daripada masa depan bangsa.

Di sinilah kisah seperti yang dilakukan Mehdi Taremi menjadi refleksi penting. Ia menunjukkan bahwa di balik popularitas dan kemewahan karier internasional, seseorang masih bisa mendengar panggilan tanah airnya.

Tentu setiap negara memiliki konteks yang berbeda. Namun nilai moralnya tetap sama, bangsa yang kuat lahir dari warga negara yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap negeri mereka.

Mehdi Tarimi sepertinya sadar bahwa tanah air bukan hanya tempat dia lahir. Ia adalah ruang sejarah, identitas, dan masa depan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Memang sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang pintar, tetapi oleh mereka yang bersedia mencintainya bahkan ketika itu menuntut pengorbanan.

Sungguminasa, 21 Ramadhan 1447 H.