Ada manusia yang terlihat begitu percaya diri, begitu yakin, begitu ingin tampil paling bercahaya. Ia berbicara dengan nada tegas, berjalan dengan kepala tegak, dan seolah tak pernah ragu pada dirinya sendiri. Namun di balik semua itu, sering tersembunyi kegelisahan yang sunyi, jiwa yang diam-diam haus pengakuan, hati yang rapuh bila tak dipuji. Ia tampak kuat, tetapi sesungguhnya bergantung pada tepuk tangan.
Narcissistic Personality Disorder bukan sekadar sikap suka tampil atau senang dipuji. Ia adalah keadaan ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai pusat orbit kehidupan. Dunia seolah berputar untuknya. Orang lain hadir bukan sebagai sahabat jiwa, melainkan sebagai cermin untuk memantulkan kebesaran dirinya. Ia ingin dihormati, dikagumi, dan dianggap istimewa, namun sulit merasakan luka orang lain. Empati menjadi asing, karena yang terdengar hanya gema suara diri sendiri.
Islam sejak awal telah menyingkap tabir penyakit ini. Allah memperingatkan:إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ"Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."(QS. Luqman: 18).
Kesombongan bukan sekadar sikap sosial; ia adalah penyakit batin yang menggerogoti nilai kemanusiaan. Bahkan Rasulullah SAW. mengingatkan dengan nada yang mengguncang nurani:لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah kesombongan".(HR. Muslim).
Betapa halusnya ukuran itu, “seberat zarrah.” Artinya, kesombongan sekecil apa pun dapat menjadi tirai antara jiwa dan cahaya Ilahi. Narsisme tumbuh ketika manusia lupa bahwa ia hanyalah hamba. Ia ingin lebih tinggi dari yang lain, sebagaimana Iblis dahulu berkata:أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ"Aku lebih baik darinya."(QS. Al-A’raf: 12)
Kalimat itu bukan sekadar sejarah, melainkan cermin. Setiap kali seseorang merasa lebih hebat, lebih suci, lebih layak dihormati dibanding yang lain, gema kalimat itu hidup kembali.
Yang paling menyedihkan dari narsisme adalah hilangnya rasa. Padahal iman dibangun di atas empati. Rasulullah SAW. bersabda:لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ"Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."(HR. Bukhari dan Muslim)
Iman menuntut kita keluar dari pusat diri, menengok luka orang lain, merasakan denyut kesedihan mereka. Narsisme justru melakukan sebaliknya: ia mengurung jiwa dalam ruang sempit bernama “aku”.
Al-Qur’an bahkan melarang manusia memuja dirinya sendiri:فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ"Maka janganlah kamu memuji dirimu sendiri. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa."(QS. An-Najm: 32)
Betapa indahnya ajaran ini. Nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa sering kita menyebut kelebihan kita, tetapi oleh seberapa dalam Allah mengenal ketakwaan kita. Sebaliknya, Allah menggambarkan hamba-Nya yang sejati dengan kelembutan yang menyejukkan:وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati."(QS. Al-Furqan: 63)
Mereka berjalan ringan, tidak membebani bumi dengan kesombongan. Mereka hadir tanpa merasa harus selalu menjadi pusat perhatian.
Pada akhirnya, narsisme adalah krisis makna. Ia lahir ketika manusia lebih sibuk membangun citra daripada membangun jiwa, lebih mengejar pengakuan manusia daripada ridha Allah. Padahal ketenangan sejati tidak lahir dari pujian, tetapi dari kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang sedang belajar menjadi lebih baik.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak sanjungan, tetapi lebih banyak keheningan untuk bercermin. Bukan lebih banyak pengikut, tetapi lebih banyak empati. Karena jiwa yang rendah hati tidak kehilangan wibawa, ia justru menemukan kemuliaannya.Dan ketika hati kembali tunduk, rasa pun kembali hidup.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab
Alat AksesVisi