*Di antara demikian banyak hal yang orang-orang cintai dari Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin adalah kerendahan hati, kebesaran jiwa, dan kecintaan tulus beliau kepada umatnya.
Tahukah Anda, ketika Sayyiduna Ali bin Abi Thalib r.a. tiba di Madinah, kakinya bengkak karena menempuh perjalanan jauh untuk berhijrah dari Mekah? Nabi saw. melihat keadaannya, menangis, lalu memijat kakinya. Seorang Nabi melayani sahabatnya dengan cara seperti itu.
Beliau tidak menyukai bantalnya lebih lembut daripada bantal termiskin di kalangan umatnya. Beliau tidak suka orang berjalan di belakangnya. Beliau tidak ingin duduk di tempat yang lebih tinggi daripada yang lain. Jika orang asing datang, mereka harus bertanya di mana beliau duduk. Sebab, tidak ada perbedaan antara tempat duduk dan model pakaian beliau dengan para sahabatnya.
Beliau mendatangi rumah orang miskin, berbagi makanan sederhana dengan kaum lemah, menerima undangan dari orang yang bukan siapa-siapa atau tidak memiliki apa-apa. Beliau menjenguk orang sakit meski harus berjalan tanpa alas kaki, memenuhi kebutuhan budak, dan duduk bersama mereka. Beliau meluangkan waktu untuk perempuan dan membantu menyelesaikan persoalan mereka.
Dalam peperangan, beliau makan paling sedikit, tetapi melayani para sahabatnya. Beliau tidak makan sebelum mereka selesai makan dan merasa kenyang. Beliau selalu mudah ditemui oleh masyarakat. Beliau melakukan pekerjaan sendiri dan tidak suka dilayani orang lain untuk melakukan apa yang dapat beliau lakukan sendiri. Beliau ikut serta dalam kerja bakti bersama dan tidak gengsi mengerjakan pekerjaan fisik. Beliau menanyakan kabar setiap orang, ingin tahu keadaan mereka, dan peduli kepada siapa saja yang tidak memiliki siapa pun.
Bandingkan dengan gaya sebagian besar pejabat yang mengaku Muslim di sekitar kita. Mereka mengaku menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai teladan. Suka menghadiri atau mengadakan peringatan Maulid Nabi saw. setiap tahun. Namun, perilaku dan gaya hidup mereka hampir seratus persen berbeda.
Selalu mau dilayani dan meminta fasilitas (tunjangan, rumah, pakaian, kendaraan) jabatan yang jauh lebih mewah. Ke mana-mana berkendara suka diiringi petugas pengawal. Tidak peduli menerobos lampu merah, merampas jalan milik bersama. Susah sekali ditemui warga masyarakat, baik di kantor maupun di rumah jabatan. Orang harus melewati lebih dahulu beberapa staf, sekretaris, protokoler, atau bahkan pengawal.
Di setiap upacara nasional, mereka duduk di tribun khusus yang lebih tinggi dan teduh daripada peserta upacara biasa. Di depan kursi mereka ada meja penuh makanan dan minuman enak. Peserta upacara lainnya berdiri sepanjang waktu, ditimpa sinar terik matahari.
Mereka tidak lagi suka mengunjungi orang miskin, orang sakit, dan kaum yang melarat. Mereka hanya mau menghadiri undangan sesama pejabat dan orang kaya. Tidak pernah sabar berbincang lama, duduk bersama, dan menanyakan keadaan orang-orang yang dipandang bukan siapa-siapa atau tidak memiliki apa-apa.
Entahlah, apa mereka mengira diri mereka lebih mulia daripada Nabi Muhammad saw. sehingga merasa lebih layak dilayani, dihormati, dan dibiayai dengan pajak rakyat yang mereka pimpin?
Siapa teladan mereka sebenarnya?
Saat peringatan Maulid Nabi saw., apa yang mereka lakukan? Apa hikmah pembacaan kisah hidup (sirah) Nabi saw. bagi mereka dalam setiap perayaan Maulid beliau? Atau jangan-jangan sepanjang hidup mereka, mereka bahkan tidak pernah sekali pun membaca sirah atau hadis-hadis tentang akhlak dan perilaku Nabi saw.?
Sungguh, betapa masih jauhnya kita dari meneladani sifat, akhlak, dan perilaku Nabi saw. Jangankan itu, bahkan mengikuti perayaan Maulid Nabi saw. pun kita semakin sering enggan dan bermalas-malasan. Bahkan, semakin banyak yang berubah pandangan; meyakini bahwa merayakan Maulid Nabi saw. adalah sejenis bidah.
Ya Rabbana, shalli ‘ala Muhammad, waftah minal khairi kulla mughlaq.