Sebagian besar para mualaf sering menyampaikan satu hal yang menarik, termasuk Koh Dondy Tan yang dikenal dengan lembaga Garda Muallafnya aktif mengajak banyak non-Muslim mengenal Islam, pernah menyampaikan bahwa ketidaksukaan sebagian orang kepada Islam sering kali bukan karena ajarannya, melainkan karena persepsi yang dibangun tentangnya. Islam kerap diidentikkan dengan ajaran yang menegangkan, terlalu banyak berbicara tentang neraka dan siksaan, kurang menghadirkan kasih sayang Tuhan. Ditambah lagi, sebagian umatnya tampil dengan wajah yang jumud, eksklusif, reaktif, bahkan terkesan garang.
Narasi seperti ini tentu menyentak kesadaran kita. Sebab jika benar demikian, maka persoalannya bukan pada Islam sebagai ajaran, melainkan pada cara kita menghadirkannya.
Ketegangan lahir bukan dari ajaran, tetapi dari cara penyampaian yang kehilangan hikmah. Dakwah yang kehilangan kelembutan berubah menjadi tekanan. Nasihat yang kehilangan empati berubah menjadi penghakiman. Akhirnya, orang melihat Islam sebagai beban, bukan sebagai pelukan.
Kita bisa bertanya ke dalam diri sendiri, apakah kita termasuk orang yang suka menenangkan atau justru masih selalu menegangkan? Orang lain justru merasa tegang karena kehadiran kita, ucapan atau fatwa kita.
Hari ini dunia terasa cepat, keras, dan mudah tersulut. Percakapan publik dipenuhi nada tinggi. Media sosial penuh reaksi spontan. Perbedaan sedikit saja bisa berubah menjadi perdebatan panjang. Bahkan dalam urusan agama, suara yang paling keras sering kali dianggap paling benar.
Muslim yang matang bukan yang paling cepat bereaksi, tetapi yang paling mampu mengendalikan diri.
Menjadi Muslim yang menenangkan berarti hadir sebagai solusi, bukan sumber konflik. Dalam keluarga, ia menjadi penyejuk. Dalam masyarakat, ia menjadi jembatan. Dalam perbedaan, ia menjadi penengah. Ia tidak gemar memperkeruh keadaan, tidak menikmati memperbesar masalah, dan tidak merasa perlu menang dalam setiap perdebatan.
Dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Tetapi dunia kekurangan orang yang dewasa secara emosional. Kita sering bangga dengan argumentasi, tetapi lupa dengan empati. Kita sibuk mempertahankan posisi, tetapi jarang mempertahankan hubungan.
Islam mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah menang atas orang lain, melainkan menang atas diri sendiri. Menang atas ego. Menang atas amarah. Menang atas dorongan untuk selalu merasa benar. Karena sejatinya, kekuatan umat tidak hanya terletak pada jumlahnya, tetapi pada kedewasaannya.
Manusia modern hari ini sudah cukup lelah dengan tekanan hidup. Mereka membutuhkan agama yang menenangkan, bukan yang menambah ketegangan. Mereka mencari Tuhan yang menghadirkan harapan, bukan sekadar ancaman.
Islam tidak pernah kehilangan keindahannya. Yang kadang hilang adalah cara kita menampilkannya
Sungguminasa 15 Ramadhan 1447 H.
Alat AksesVisi