Dulu ketika di Pesantren, ada satu kalimat pembuka muhadharah (Latihan ceramah) yang hampir menjadi kalimat wajib, pada setiap pembukaan ceramah kami.
"Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW, yang telah mengeluarkan kita dari alam jahiliyah menuju alam yang terang benderang".
Hari ini, dari atas mimbar masjid, sebelum penceramah naik ke mimbar, para remaja masjid secara bergantian, diberikan tempat untuk melatih diri. Kalimat pembuka itu, saya dengarkan kembali. Ia diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah-olah "Jahiliyyah" adalah sebuah noktah hitam di peta sejarah yang sudah jauh kita tinggalkan ribuan tahun lalu. Dan saat ini kita sudah berada di alam yang terang benderang.
Namun, benarkah kegelapan itu telah usai?Ataukah kita hanya berpindah dari satu jenis kegelapan ke kegelapan lainnya yang lebih canggih?
Jahil atau kebodohan ternyata bukan sekadar perkara "tidak sekolah" atau "buta huruf". Secara bahasa, ia memiliki minimal tiga lapisan makna.Pertama: Ia adalah kekosongan jiwa dari ilmu dan hakikat,Kedua: Ia adalah keyakinan yang meleset dari kenyataan, dan Ketiga: Jahil adalah perilaku yang menyimpang dari kebenaran Islam yang kita yakini.
Jahil, mungkin hadir dalam bentuk kekosongan. Kita memenuhi kepala dengan ribuan informasi dari layar gawai dan sebagainya, namun jiwa kita tetap kosong dari ilmu yang menghidupkan. Kita tahu banyak hal, tapi tidak "mengenal" apa-apa. Kita sibuk dengan yang tampak, namun lupa pada yang Esensi. Itulah Jahil yang pertama: yaitu ketika batin memiliki pelita, namun buram untuk melihat siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Atau Jahil mungkin juga hadir dalam bentuk ilusi. Kita seringkali meyakini bahwa kebahagiaan ada pada tumpukan pencapaian, bahwa kenyamanan adalah tujuan akhir, dan bahwa waktu kita masih sangat panjang. Kita membangun istana di atas pasir yang sebentar lagi disapu ombak. Inilah Jahil yang kedua: sebuah kekeliruan dalam memandang hakikat kehidupan. Kita mengira sedang menuju cahaya, padahal hanya mengejar fatamorgana.
Dan yang paling berat adalah Jahil yang ketiga: ketika kita tahu, tapi tidak mau. Kita tahu kejujuran itu mulia, tapi lisan masih gemar bersilat lidah. Kita tahu kasih sayang itu inti ajaran, tapi hati masih dipenuhi prasangka dan kebencian. Kita tahu shalat adalah tiang, tapi kita sering membiarkannya miring dan rapuh. Di sini, Jahiliyyah bukan lagi soal ketidaktahuan, melainkan soal kegagalan kita menjadi manusia yang selaras antara keyakinan dan perbuatan.
Di bulan yang mulia ini, kita perlu berinteraksi dengan Ramadhan, bukan untuk sekadar mengubah jadwal makan atau menambah deretan angka di buku amal. Sebab, sungguh, Ia datang sebagai tawaran untuk "keluar dari alam jahiliyah" yang bersifat personal itu. Ramadhan, laiknya adalah adalah proses iqra', untuk membaca kembali diri yang selama ini terabaikan.
Rasa lapar saat berpuasa adalah cara untuk meruntuhkan keangkuhan kita, mengingatkan bahwa di balik segala atribut duniawi, kita hanyalah hamba yang faqir. Haus yang mencekat adalah cara semesta mengajak kita merasakan dahaga jiwa yang selama ini tak terpuaskan oleh materi.
Maka, saat kita kembali berdiri di "podium" kehidupan kita masing-masing, dan mengucapkan syukur atas cahaya yang dibawa oleh Sang Nabi saw, mungkin inilah saatnya untuk benar-benar menoleh ke dalam. Apakah "alam terang benderang" itu sudah sampai ke relung hati, atau ia baru sebatas lampu hias yang menerangi kulit luar saja?
Ramadhan ini tidak meminta kita menjadi hakim bagi orang lain. Ia hanya meminta kita menjadi saksi bagi kegelapan kita sendiri, lalu perlahan, dengan penuh kelembutan, mulai menyalakan lentera kecil itu kembali. Sebab, tidak ada kesadaran yang benar-benar mandeg selama ia masih mau mengakui bahwa dirinya sedang berada di dalam lorong yang gelap. ***
(*)
Alat AksesVisi