Gambar Muhasabah Pertama: “Kurangi Maumu”

Tadi malam, saat hujan turun begitu derasnya. Di Malam pertama Ramadhan. Kami duduk berenam di warung kopi Mau.Co. Di warung kopi yang luas itu, asap mengepul bebas tanpa hambatan. Asap kopi membumbung naik seperti doa-doa yang belum sempat selesai. Kami duduk berhadap-hadapan, dan obrolan pun mengalir tanpa agenda, seperti biasa. Apa yang sebaiknya menjadi fokus muhasabah dalam Ramadhan ini? Begitu pertanyaannya. Tanpa menunggu lama, yang bertanya pun lantas menjawab: “Perjuangan Ramadhan itu sederhana, “Kurangi Maumu”. Kalimat itu jatuh di meja lalu bergulir ke lantai, seperti sendok yang tak sengaja terlepas. Bunyi kecil, tapi gema maknanya nyaring dan panjang.

Aku mengaduk kopi susuku yang gelas kecil. Lalu aku berpikir: betapa selama ini kita hidup dengan poros yang bernama “mau”. Mau ini, mau itu. Mau dihargai. Mau didengar. Mau dituruti. Mau dimenangkan. Bahkan mau dianggap paling benar, serta mau dianggap terhebat. Kita bangun pagi dengan mau. Kita tidur malam dengan mau. Di antara itu, kita sibuk mengejar mau seperti anak kecil mengejar layangan yang putus. Dari “mau” itulah sering emosi lahir. 

Marah karena mau tak terpenuhi. Kecewa karena mau diabaikan. Gelisah karena mau tertunda. Rupanya, emosi itu bukan monster yang datang dari luar. Ia anak kandung dari kemauan yang tak dikekang. Ia anak kandung dari syahwat yang selalu dipuaskan, dan tidak pernah dikecewakan. 

Kini Ramadhan kembali menyapa. Ia datang dan berkata: laparkanlah dirimu, hauskan tenggorokanmu, butakan matamu, tulikan telingamu, bisukan lidahmu, lumpuhkan kakimu, buntungkan tanganmu, dari segala “mau” duniawi yang nisbi itu. Lalu lihatlah ke dalam dirimu. 

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Lapar dan haus Itu hanya kulitnya. Intinya adalah latihan besar-besaran untuk mengerem mau. Mau makan - ditunda. Mau marah - ditelan. Mau membalas - dipeluk dengan sabar. Mau membicarakan keburukan orang - dikunci rapat-rapat. Di situlah spiritualitas bekerja diam-diam.

Nabi saw pernah bersabda: “yang berani dan kuat itu, bukanlah yang kuat dan paling hebat bergulat, tapi yang berani dan kuat itu adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah. Ramadhan mengajak kita masuk ke medan perang yang tenang: melawan diri sendiri. Melawan mau yang nisbi. Latihan itu bukan perkara satu bulan.

Di warung kopi itu, yang lain berkomentar: “Kalau “mau” kita dikurangi, hidup akan jadi lebih ringan.” Aku mengangguk. Benar sekali. Saat mau dikurangi, dada jadi lapang. Saat ekspektasi dilepas, hati tak mudah retak. Saat kita berhenti menuntut dunia, dunia justru terasa ramah.

 Kalangan sufi memang mengajarkan bahwa ego itu seperti kuda liar. Kalau dibiarkan, ia menyeret kita ke jurang. Tapi kalau dilatih, ia akan mengantarkan kita ke taman-taman ketenangan. Ramadhan adalah kandang sementara bagi kuda itu. Kita ikat, kita tenangkan, kita ajari berjalan pelan.

Mengurangi “mau” bukan berarti mematikan harapan dan cita-cita. Bukan pula menjadi pasrah tanpa arah. Ini tentang memindahkan poros hidup: dari “aku mau” menjadi “aku ridha”. Dari “harus begini” menjadi “biarlah Allah mengatur”. Justru dalam keadaan itulah, dibaliknya bersembunyi kenyamanan dan kebahagiaan. 

Kopi habis. Malam makin dalam. Tapi ada sesuatu yang terasa hangat di dada. Ada Pelajaran berharga, dari muhasabah malam pertama Ramadhan itu. Bulan puasa bukan soal menambah ibadah saja, tapi mengurangi mau, dan menggantinya menjadi MAU kepada Allah Swt.