Malam ini, Saya betul-betul merasa nyaman.Setelah shalat tarawih lalu berangkat ke Training Center Bersama teman-teman, mengecek persiapan buka puasa Bersama, BPP IKA dan UIN Alauddin Makassar, yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 27 Februari mendatang.
Saya merasa nyaman, sebab setibanya di rumah, saya menemukan sebuah tulisan yang sudah lama pernah saya baca, kini terbuka kembali. Tulisan itu adalah buah pikiran Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Salah seorang ulama besar yang berasal dari Suria, Damaskus. Judul tulisannya adalah عبادة بلا عبودية لا تنفع صاحبها , “ibadah tanpa ‘ubudiyah tak memberikan manfaat berarti bagi pelakunya".
Saya ingin berbagi resume kepada pembaca, tentang salah satu bagian yang beliau jelaskan di dalam tulisan tersebut. (Untuk pembaca yang ingin mendalami uraian beliau secara langsung, silahkan marujuk pada sumber aslinya melalui tautan berikut):https://www.naseemalsham.com/persons/muhammad_said_ramadan_al_bouti/speeches/view/20120817
Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang indah: saf-saf shalat tarawih memanjang, suara imam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, dan wajah-wajah yang berharap pada ampunan.
Tetapi di tengah suasana yang sakral itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: apakah yang sedang kita jalankan ini ibadah yang hidup, atau hanya rangkaian gerak yang ingin segera selesai?
Di sinilah perbedaan antara ibadah dan ‘ubudiyah menjadi penting.Ibadah adalah amal yang tampak. Ia bisa dihitung: delapan rakaat, dua puluh rakaat, witir tiga rakaat.Ia bisa ditandai: sudah malam ke-10, malam ke-15, atau malam ke-27. ‘Ubudiyah adalah keadaan batin: rasa hamba, rasa butuh, rasa takut dan harap yang menyelimuti hati di setiap gerakan.
Ambil contoh shalat tarawih. Ibadah tanpa ‘ubudiyah sering kali berubah menjadi urusan teknis: Sambil shalat, pikiran yang berkelindan adalah; berapa rakaat lagi? Kapan selesai? Imamnya terlalu panjang! Bacaan malam ini lebih lambat dari kemarin!
Fokus kita bukan lagi pada siapa yang sedang kita hadapi, melainkan pada kapan shalat itu berakhir. Kita berdiri, rukuk, sujud, duduk, tetapi hati sedang menghitung, dan tidak sedang menghadap. Demikian kira-kira wujud ibadah tanpa ‘ubudiyah.
Sebaliknya, ketika dalam ibadah, ada ‘ubudiyah, tarawih menjadi ruang dialog. Setiap takbir terasa seperti mengetuk pintu langit. Setiap rukuk adalah pengakuan bahwa kita kecil. Setiap sujud adalah penyerahan total. Fokusnya bukan pada “berapa rakaat lagi”, melainkan pada harapan dan doa yang berulang dalam hati: “Ya Allah, terimalah". Orang yang menghadirkan ‘ubudiyah di dalam ibadahnya, tidak gelisah karena panjangnya bacaan, sebab ia tahu ia sedang berdiri di hadapan Tuhan, bukan sedang menyelesaikan target ritual.
Begitu pula dengan puasa. Ibadah puasa bisa berhenti pada aspek lahiriah: tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hal-hal yang membatalkan. Kita menahan lapar sejak fajar hingga magrib, lalu merasa puas karena telah berhasil melewati satu hari lagi. Tetapi puasa tanpa ‘ubudiyah bisa menjadi sekadar latihan fisik. Lapar hanya menjadi rasa tidak nyaman yang ditunggu akhirnya.
Ketika puasa dilandasi ‘ubudiyah, maknanya berubah. Lapar menjadi pengingat bahwa kita lemah. Haus menjadi pengingat bahwa hidup ini bergantung sepenuhnya pada pemberian Allah. Saat tak ada yang melihat, kita tidak tergoda untuk minum diam-diam, bukan karena takut pada manusia, tetapi karena sadar kita adalah milik Allah. ‘Ubudiyah menjadikan puasa sebagai latihan kejujuran batin, bukan sekadar disiplin jasmani.
Perbedaan keduanya tampak tipis, tetapi dampaknya besar. Ibadah tanpa ‘ubudiyah bisa melahirkan kebanggaan: merasa lebih rajin, lebih tekun, lebih saleh. Sedangkan ‘ubudiyah justru melahirkan kerendahan hati: semakin banyak beribadah, semakin sadar bahwa kita belum layak. Ibadah menghitung amal, ‘ubudiyah berharap rahmat. Ibadah adalah jalan, dan ‘ubudiyah adalah ruhnya. Tanpa ruh, gerakan tetap ada, tetapi maknanya bisa jadi menguap.
Pada akhirnya, yang menentukan bukanlah berapa banyak rakaat yang kita selesaikan atau berapa hari puasa yang kita tuntaskan. Yang lebih penting adalah: apakah dalam setiap rakaat itu hati kita ikut sujud? Apakah dalam setiap lapar itu jiwa kita ikut tunduk? Dan Allah tidak melihat semata-mata gerakan kita, melainkan getar kehambaan yang menyertainya. ***
(*)
Alat AksesVisi