Gambar Muhasabah Ketiga: Kebaikan itu, tidak karena kamu

Muhasabah ketiga kali ini, lahir dari perbincangan di teras masjid, bukan lagi di warkop. Mungkin karena itulah, muhasabah kali ini, tidak serta merta mudah diaplikasikan secara konstan. Tapi tidak apa-apa minimal kita dapat sebuah informasi yang akan mengarahkan kita menuju ke sana. Tema ini lahir dari sebuah ungkapan yang mengatakan: “Kalo ko baik, saya akan lebih baik lagi, tapi kalo ko jahat, saya akan lebih jahat lagi”. Saya sulit menelusuri dari mana asal muasal paradigma pikir seperti ini. Pokoknya pikiran seperti ini, ada di sekeliling kita. Begitu saja. 

Kita seringkali menyangka bahwa kebaikan adalah sebuah jembatan yang menghubungkan "aku" dan "kamu". Sebuah transaksi di mana ada tangan yang memberi dan ada wajah yang menyambut dengan Syukur dan terima kasih. Namun, di bulan yang mulia ini, kita disadarkan, bahwa jembatan itu terkadang runtuh di tengah jalan. Manusia, dengan segala kerapuhannya, seringkali gagal menjadi penerima yang baik.

Ada sebuah sebuah fragmen hikayat yang pernah saya dengar. Kisahnya, ada seorang dosen yang terus-menerus menyuapi tetangganya dengan kebaikan dan kelembutan, namun sang tetangga konsisten hanya membalas dengan duri. Sang dosen tidak bergeming, dan tetap saja menyuapi tetangganya dengan senyum dan kebaikan. Ini adalah Sebuah ketabahan yang ganjil. Sebuah kesabaran yang mungkin bagi kita terasa ekstrem.

Saat ada yang bertanya, mengapa ia tak kunjung lelah disakiti, sang dosen memberikan sebuah jawaban yang memutus rantai logika kebiasaan dan kemanusiaan kita: "Aku tidak melakukannya karena dia. Aku melakukannya karena itu perintah Tuhanku dan Nabiku." (Waooo. Beraaat). 

Sang dosen sesungguhnya sedang bicara tentang kebebasan. Ia telah memerdekakan dirinya dari tirani ekspektasi. Baginya, kebaikan tak mesti berwujud sebuah surat yang berbalas. Ia bukan sedang bercemin di mata tetangganya untuk mencari pantulan dirinya yang “mulia” di hadapan tetangganya. Ia telah menghapus wajah manusia dari kanvas niatnya. 

Bagi kita yang masih terjebak pada "ingin dihargai," setiap penolakan adalah luka. Setiap kekecewaan adalah alasan untuk berhenti. Kita menjadi tawanan dari reaksi orang lain. Kita berbuat baik hanya sejauh orang lain mampu membalasnya dengan senyum. Kebaikan kita masih punya harga banderol?

Muhasabah ini mengajak kita untuk menukik lebih dalam, masuk ke labirin Niat. Memeriksa dengan saksama kesiapan alat kalibrasi kita. Sungguh, di dalam Ramadan, kita diajak untuk menjadi pribadi yang "selesai". Sebuah pribadi yang mampu berbuat baik tanpa butuh tepuk tangan, tanpa butuh validasi.

Kita berbuat baik bukan karena mereka pantas menerimanya, tapi karena kita percaya bahwa berbuat baik adalah tugas kita sebagai hamba. Titik. Waoo ini berat, tapi mari terus melangkah menggapainya. Ramadhan Kariiim.