Gambar Muhasabah Kesembilan: Ubah Dirimu, Niscaya Dunia pun Ikut Berubah

Menahan diri, di disitulah salah satu rahasia Ramadhan. Seringkali kita merasa geram melihat dunia yang tampak begitu rusak. Ketimpangan yang menganga, kerakusan yang merajalela, wajah kekuasaan yang pongah, dan sikap ketidakadilan yang justru tak tersentuh. Dalam amarah, kita ingin segalanya runtuh dan berakhir dalam semalam. Namun Ramadhan tidak mengajarkan kita memulai dari luar. Ia justru mendobrak dari dalam, mengajak kita pulang, kembali ke dalam diri.

Lapar misalnya, adalah pelajaran pertama di madrasah ini. Lewat perut yang kosong, kita  menyadari betapa lemahnya tubuh ini. Kita belajar bahwa keinginan tidak selalu harus dituruti, ada garis tegas antara apa yang dimaui, dengan apa yang benar-benar diperlukan. Di bulan ini, manusia belajar untuk berkata "tidak" pada dirinya sendiri. Dari kemampuan kecil untuk mendisiplinkan nafsu itulah, perlahan lahir keberanian yang lebih besar: keberanian untuk berkata "tidak" pada kezaliman di luar sana. Puasa mengajarkan kita memulai perbaikan dari diri sendiri. 

Ada sebuah hikayat tentang seseorang yang menyesal di akhir hayatnya. Ia berkata bahwa seandainya ia memulai dengan mengubah dirinya sendiri, mungkin dunia akan ikut berubah. Ramadhan seolah mengulang pesan itu setiap tahun. Ia memberi kita kesempatan untuk membasuh niat, meluruskan akhlak, dan menyapu bersih hati dari debu-debu dengki serta tamak.

Imam Ali bin Abi Thalib RA kurang lebih berkata demikian: “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah pemimpin kalian.” Ungkapan ini lebih benderang saat dibaca di bawah cahaya Ramadhan. Kalimat ini mengingatkan bahwa kepemimpinan objektif di luar sana adalah bayangan dari kualitas subjektif kita di dalam sini. Jika jiwa-jiwa kita mencintai keadilan dan kejernihan, maka tirani akan sulit menemukan tanah untuk berpijak. Namun, jika kita menganggap kebohongan kecil sebagai hal biasa, maka jangan terkejut jika kebohongan besar tinggal menunggu waktu untuk berkuasa.

Puasa sejatinya adalah latihan kepemimpinan, pertama-tama atas diri sendiri.
Yang belum mampu memimpin hawa nafsunya, bagaimana mungkin ia punya hak menuntut pemimpin yang adil?
Yang masih gemar memelihara kebencian di dalam dada, bagaimana mungkin ia mengharapkan masyarakat yang damai?

Di dalam Ramadhan, sedekah bukan lagi beban, melainkan kelegaan. Kita berbagi bukan demi pujian, melainkan karena hati telah menjadi peka. Empati bukan lagi teori yang rumit; ia menjelma menjadi rasa. Saat menahan lapar, kita bukan hanya tahu, tapi kita pun merasakan lapar orang lain. Dari pengalaman batin inilah tumbuh solidaritas yang sejati, bukan sekadar slogan di atas spanduk.

Perubahan sosial yang abadi tidak lahir dari teriakan keras keluar, dan dengan jalan yang berliku, melainkan dari karakter pribadi yang tangguh. Ia tidak dipicu oleh kebencian terhadap musuh besar yang ada di luar, melainkan oleh cinta pada jiwa yang di dalam. 

Ramadhan mengajarkan kita bahwa dunia yang luas ini bermula dari satu titik pusat: hati manusia. Jika hati itu dibersihkan dan tindakan diluruskan, maka keluarga akan merasakan dampaknya. Jika keluarga berubah, lingkungan akan ikut bergeser. Dan pelan-pelan, tanpa gaduh, masyarakat akan menemukan arah baru yang lebih terang. Inilah revolusi yang ditawarkan Ramadhan, sebuah revolusi diri, namun darinya, dunia benar-benar bisa berubah. ***

(*)