Gambar Muhasabah Keenam: Tetap Menjaga Nyala Api Inspirasi meskipun Kecil

Baru di hari keenam, saya sudah absen. Ternyata perjuangan untuk menulis satu buah kolom pendek saja, beratnya sungguh luar biasa. Memang, ada saat ketika menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, terasa seperti berdiri di depan sebuah masalah yang Absurd.

Istikamah menulis setiap hari ternyata bukan hanya urusan produktivitas. Ia adalah ketahanan jiwa. Menulis harian lebih dekat kepada riyadhah (olah spiritual) daripada sekadar keterampilan teknis. Ia adalah latihan menundukkan diri sendiri, menjinakkan malas, menertibkan pikiran yang liar, dan yang paling sulit, berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dalam disiplin ini, kita dipaksa sadar bahwa inspirasi bukanlah tamu agung yang harus ditunggu. Inspirasi adalah ibarat api kecil di tengah angin kencang, yang harus dijaga agar tidak padam.

Saya jadi teringat dengan seorang sastrawan dan kolomnis besar Mesir. Namanya Ahmad Bahjat, (1932–2011). Namanya abadi melalui kolom Sunduq ad-Dunya (Kotak Dunia) di harian Al-Ahram. Bayangkan, ia menulis kolom itu hampir tanpa jeda, setiap hari, selama empat dekade atau bahkan lima. Empat atau lima puluh tahun. Sekali lagi, bukan seminggu sekali, bukan saat sempat, melainkan setiap hari. Ini adalah sebuah capaian yang sangat Luar Biasa. 

Rahasia Bahjat bukan terletak pada simpanan ide besar yang tak terbatas. Ia pun manusia yang kerap bersentuhan dengan kebuntuan. Namun, ia memiliki kerendahan hati untuk "menunduk" kepada hal-hal kecil. Ketika tema besar terasa menjauh, ia mencari makna dalam detail yang dianggap sepele: serpihan percakapan di trotoar Kairo, keganjilan perilaku sosial, hingga ironi-ironi halus dalam keseharian. Bahkan terkadang ia hanya menuliskan, isi surat yang dilayangkan kepadanya melalui e-mail. Dari sana, ia merajut refleksi yang jernih, terkadang humoris, namun seringkali sangat spiritual.

Artinya, kebuntuan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan cambukan untuk mengubah arah pandang. Jika pintu depan tertutup, mungkin jendela samping sedang terbuka. Jika pikiran buntu pada tema-tema besar yang berat, barangkali kehidupan sederhana di sekitar kita sedang menyimpan bahan tulisan yang jauh lebih jujur dan menyentuh.

Muhasabah kali ini membawa saya pada kesadaran bahwa menulis adalah cermin cara kita hidup. Kita sering mengeluh tentang sempitnya ruang, padahal yang sempit adalah sudut pandang. Kita merasa ide telah habis, padahal yang habis sebenarnya adalah keberanian kita untuk melihat ulang realitas.

Dalam hidup, sebagaimana dalam menulis, kita sering kali menanti keadaan ideal: waktu yang benar-benar luang, suasana yang tenang, atau hati yang lapang. Padahal, hidup jarang sekali menyuguhkan semua itu dalam satu nampan. Maka, istikamah harus menjadi sebuah keputusan, bukan sebuah kondisi. Ia adalah sikap untuk tetap melangkah meskipun tungkai terasa berat.

Menulis setiap hari memaksa kita menjadi pribadi yang solutif. Jika satu gagasan mampet, geser sudutnya. Jika satu paragraf terasa hambar, perbaiki tanpa perlu mengutuk diri. Kualitas sejati lahir bukan dari ledakan inspirasi sesaat, melainkan dari kesetiaan pada proses yang panjang dan seringkali membosankan.

Keadaan seperti ini, boleh jadi juga menimpa aktivitas spiritual kita di bulan Ramadhan. Konsistensi adalah bentuk tertinggi dari keberanian. Keberanian untuk duduk tafakkur, setiap hari dan percaya bahwa selalu ada makna yang bisa digali.

Muhasabah keenam ini akhirnya menjadi sebuah pengakuan sekaligus komitmen: bahwa beratnya menulis itu nyata, tetapi solusi selalu tersedia bagi mereka yang mau mengasah kepekaan. Jangan berhenti karena sulit. Berhentilah sejenak untuk menemukan sudut baru, lalu lanjutkan langkah itu. Karena pada akhirnya, yang menentukan panjangnya perjalanan bukan derasnya inspirasi, melainkan kesetiaan kita menjaga nyala api inspirasi, meski kecil. ***
(*)