Gambar Muhasabah Keempat: Ternyata Syaitan memang sedang Terbelenggu

Tulisan kali ini, mungkin bukan muhasabah, lebih cenderung sebagai curahan hati melihat fenomena alam dan peristiwa hari ini. Memang, hari ini, hujan turun seakan tak hendak berhenti. Jalanan menjadi sungai-sungai kecil yang keruh dan membawa sisa lumpur, menerjang ke sana kemari, akibat digilas ban-ban kendaraan yang melintas. 

Dalam nalar yang biasa, cuaca seperti ini adalah alasan rasional untuk menutup pintu, meringkuk di bawah selimut, dan membiarkan dunia berjalan tanpa kehadiran kita diluat. Namun, ada yang tak seperti biasanya yang terjadi di masjid kompleks saya dan beberapa masjid yang saya lalui malam ini, bahkan hingga masjid yang saya tempati salat isya dan tarawih. Di bawah suara gemuruh hujan yang terdengar dari atap masjid, saf-safnya justru tetap penuh. Uap nafas bertemu dengan dinginnya ubin, dan aroma kue pabuka yang masih tersimpan di ruang panitia, siap dinikmati setelah salat tarawih. Mengapa kita tetap berangkat? Mengapa jasad yang ringkih ini sudi menembus badai?

Kita sering mendengar bahwa di bulan ini setan-setan dibelenggu. Suara-suara di kepala kita yang selalu membujuk untuk memilih yang nyaman dan yang praktis tiba-tiba mengecil volumenya. Di luar Ramadhan, kita sering kali menjadi tawanan cuaca dan budak kenyamanan. Namun malam ini, ketika "mau" kita telah diredam oleh puasa sejak fajar, pusat komando diri telah berpindah. Kita tidak lagi didikte oleh rintik hujan, karena ruh kita sedang memegang kedaulatannya kembali.

Hujan sepanjang hari dan malam ini menjadi semcama alat pemurnian. Siapa yang bisa pamer di tengah baju yang basah kuyup? Siapa yang sanggup mencari citra dengan celana yang digulung dan kaki yang berlepotan tanah? Air langit ini melunturkan semua kosmetik sosial kita. Ia memaksa kita tampil "buruk" dan tidak estetis di mata manusia, demi sebuah keindahan yang rahasia di hadapan Tuhan. Di tengah jalan banjir, tak ada lagi ruang bagi kepalsuan; yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang telanjang niatnya, yang berangkat bukan untuk dilihat dunia, melainkan karena mereka tahu ada sesuatu di dalam rumah ini yang tak bisa dibasahi oleh air.
(Tentu saja, ini tidak termasuk beberapa masjid yang atapnya bocor). 

Dalam perniagaan langit, semakin besar hambatan, semakin tinggi nilai yang ditawarkan. Kita sedang melakukan perlawanan terhadap logika dunia yang selalu menghitung untung-rugi. Secara materi kita mungkin kalah, baju kotor dan dingin menusuk, tapi batin kita sedang merayakan kemenangan besar. Kita membuktikan bahwa ada janji setia kepada Tuhan dan Nabi yang jauh lebih hangat daripada perapian mana pun di rumah.

Malam ini, di bulan Ramadhan yang mulia, kita menyaksikan bahwa setan-setan memang telah dibelenggu. Bisikannya melemah, tak lagi sanggup mengalahkan kekuatan ruh dan jiwa yang sungguh-sungguh ingin kembali. Tetaplah seperti itu; biarkan jiwa yang berdaulat ini terus melangkah, melampaui sisa-sisa nafsu yang mulai kehilangan tuannya. ***

(*)