Gambar Muhasabah Kedua: Luruskan Niatmu

Malam kedua Ramadhan. Kali ini, saya keliru memilih warung kopi. Cafe Saja, tempatnya di depan Training Center UIN. Saya salah, karena ternyata malam ini, pegawainya masih diliburkan untuk menikmati malam-malam awal Ramadan. Akhirnya, kami hanya minum air mineral yang mudah disiapkan, tanpa perlu diolah. Setelah semalam kita sepakat untuk “Kurangi Maumu”, muncul pertanyaan baru yang lebih menohok: Kalau “mau” sudah dikurangi, lantas untuk apa kita masih sibuk beribadah? Untuk siapa sebenarnya semua lelah ini?

Banyak orang merasa sudah berbuat baik, padahal sebenarnya mereka hanya sedang "berakting" baik. Dalam istilah kerennya, mereka mengejar status Bonafit, biar dianggap terpercaya, biar dipandang shaleh, biar dicap orang hebat. Tapi mereka lupa pada akarnya: Bona fide, itikad baik yang murni di dalam dada. (ungkapan ini, meminjam narasi pak rektor, dari tulisan pertamanya, tadi malam).

Jawaban dari pertanyaan pada alinea pertama di atas adalah, NIAT. Kita harus berani menguak ini secara vulgar: Niat yang kotor akan membunuh amal yang besar. Puasa yang hanya niat biar langsing, atau sedekah yang hanya niat biar dibilang dermawan, itu ibarat raga tanpa nyawa. Capeknya dapat, pahalanya nol besar.

Lalu, bagaimana cara "Membasuh Niat" itu secara nyata? 

Pertama, Berhenti Menoleh. Penyakit niat itu ada pada mata yang suka melirik reaksi orang lain. Kalau Anda berbuat baik, lalu sibuk mengecek berapa orang yang memuji atau melihat, berarti niat Anda sedang berlumpur. Basuhlah dengan cara seperti yang pernah dilakukan ‘Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah merobek tulisannya ketika merasa niatnya tercampur riya. Lakukanlah ini, jika masih terasa berat, yaa pelan-pelan sajalah. Intinya, berhentilah menoleh, dan lakukan dengan iktikad baik yang murni lahir dari hasil pilihan jiwa. 

Kedua, Cek Rasa di Dada. Niat yang murni itu "Ringan". Kalau Anda merasa berat saat beribadah, atau merasa kesal saat kebaikan Anda tidak dibalas dengan rasa terima kasih, itu tandanya niat Anda masih tertanam pada makhluk, belum pada Khalik. Basuhlah dengan cara: lepaskan ekspektasi pada manusia.  Semua manusia tidak punya kuasa untuk memberi Anda apa-apa.

Ketiga, Perbarui Setiap Detik. Niat bukan hanya di awal. Saat sedang beraksi, niat bisa bergeser. Di tengah-tengah sedekah, tiba-tiba muncul rasa bangga (ujub). Saat itulah Anda harus langsung membasuhnya kembali. Katakan dalam hati: "Bukan karena aku hebat, tapi karena Allah yang menggerakkan."

Ramadhan adalah laboratorium untuk praktik ini. Di warung kopi, yang salah pilih malam ini, saya menyadari bahwa membasuh niat itu lebih sulit daripada menahan lapar. Menahan lapar hanya soal perut, tapi membasuh niat adalah soal membedah isi hati sendiri.

Pesan muhasabah malam ini jelas: Jangan bangga dengan banyaknya amalmu jika niatmu masih "mau" dipuji dunia. Kurangi maumu, lalu bersihkan niatmu. Jangan sampai kita bangun di hari kiamat nanti dengan tumpukan amal yang ternyata hanya tumpukan debu karena niat yang salah arah. Basuhlah niatmu sekarang, selagi embun Ramadhan masih sudi membasahi batinmu.

*