Pada tulisan sebelumnya, kita menyatakan bahwa ibadah sebagai "gerak lahiriah" dan ‘ubudiyah sebagai "getar batiniah". Ibadah adalah jalannya, sementara 'ubudiyah adalah ruhnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Bagaimana cara kita memanggil ruh itu agar hadir dalam setiap sujud dan gerakan ibadah kita?
Dengan tetap merujuk pada alur pikir Syekh Muhammad Sayyid Ramadhan el-Bouty, memanggil ruh 'ubudiyah adalah dengan cara mengubah "posisi kesadaran" batin kita melalui tiga tahapan besar:
1. Menyadari Status "Mamluk" (Bahwa kita adalah Hamba yang Dimiliki). Langkah pertama untuk menghadirkan 'ubudiyah adalah dengan berhenti menganggap diri kita sebagai "pemilik". Kita harus sadar sepenuhnya bahwa kita adalah Mamluk, hamba yang dimiliki secara total. Syekh el-Bouty menantang logika kita: Jika kita merasa "memiliki" diri sendiri, cobalah paksa uban agar tidak tumbuh. Paksa mata agar tidak rabun. Paksa lutut agar tetap kokoh, atau setidaknya aturlah kapan maut boleh menjemput. Faktanya? Kita tidak berdaya. Ada Sunnatullah yang menyeret kita menjadi tua dan lemah tanpa bisa kita lawan. Jika dalam urusan biologis saja kita tidak punya kuasa, maka mengakui diri sebagai "pemilik" adalah sebuah delusi. Ruh 'ubudiyah hadir saat kita berkata dalam sujud: "Aku sujud karena aku memang milik-Mu, dan aku tidak punya pilihan lain selain menghamba."
2. Memosisikan Diri Sebagai "Layar Penerima".Untuk mematikan kesombongan, Syekh el-Bouty menggunakan analogi yang sangat tajam: manusia hanyalah sebuah "Layar Penerima" (Receiver). Bayangkan sebuah layar televisi. Layar itu tidak punya kuasa menciptakan warna, suara, apalagi memilih gambar yang ingin ia tampilkan. Ia hanya media yang menangkap pancaran sinyal dari pusat pemancar. Begitupun kita saat beribadah. Kekuatan untuk bangun sahur, ketahanan berdiri tarawih, hingga kecerdasan menangkap makna ayat Al-Qur'an bukanlah "produksi" pribadi kita. Itu adalah taufik yang dipancarkan Allah ke dalam "layar" diri kita. Ruh 'ubudiyah akan datang saat kita berhenti merasa menjadi "aktor utama" dalam kesalehan. Sujud kita bukan lagi sebuah prestasi, melainkan sebuah kiriman kekuatan dari Sang Pencipta. Kita hanyalah layar yang pasrah menampilkan kebesaran-Nya.
3. Mengubah "Memberi" Menjadi "Menerima".Puncak dari hadirnya ruh dalam ibadah adalah perubahan paradigma batin. Ibadah tanpa 'ubudiyah membuat seseorang akan merasa telah "memberi" sesuatu kepada Allah (memberi waktu, tenaga, atau harta). Perasaan "memberi" inilah yang seringkali melahirkan keangkuhan spiritual. Namun, ketika 'ubudiyah hadir, perasaan itu berbalik total: kita justru merasa "telah menerima" segalanya dari Allah. Lapar yang kita rasakan di siang hari Ramadan bukan lagi beban, melainkan sebuah "pengakuan paksa" yang Allah kirimkan agar kita mengenali identitas asli kita: bahwa kita ini lemah, butuh, dan fakir.
Jadi, bagaimana cara memanggil ruh itu? Ia tidak dipanggil dengan berjibunnya amalan-amalan ritual, melainkan dengan pengakuan. Ia akan hadir saat kita menyadari dengan getir bahwa setiap helai napas kita, bahkan detak jantung yang tak pernah kita pesan itu, senantiasa berada dalam genggaman-Nya.
Paradigma inilah yang akan mengubah segalanya. Kita tidak lagi merasa hebat karena mampu bersujud; sebaliknya, kita mesti semakin menyadari bahwa tanpa "kiriman" kekuatan dari-Nya, kita hanyalah seonggok daging yang tak berdaya. Maka, di sisa malam-malam Ramadan ini, mari kita ubah cara pandang kita secara radikal. Identitas bahwa kita adalah "hamba yang dimiliki" harus meresap, menghujam hingga ke sumsum tulang. Apabila kesadaran ini telah tegak di dalam dada, lelahnya tarawih tidak akan lagi terasa sebagai beban ritual yang menjemukan, melainkan sebuah pembuktian cinta yang jujur dari seorang budak kepada Tuannya yang Maha Baik. Kita tidak sedang menyelesaikan tugas; kita sedang menikmati pengabdian.
Semoga di sujud-sujud kita berikutnya, bukan hanya dahi yang menyentuh bumi, tapi "keakuan" dan kesombongan kita pun ikut tersungkur, hancur, dan tak bersisa. Karena di hadapan Sang Pemilik, tak ada tempat bagi dua penguasa. Jika kita masih merasa "memiliki" diri kita sendiri, maka sebenarnya kita belum benar-benar bersujud. ***
(SA)
Alat AksesVisi