Gambar Muhasabah Ke Sembilan Belas: Hijab itu ada di Hati

Hingga hari ini, kita masih menggunakan kertas. Untuk pengurusan dokumen tertentu KTP dan lain-lain masih harus dicetak, padahal dokumen digitalnya sudah ada. Digitalisasi dan Less paper belum sepenuhya dapat diwujudkan. Karena itu printer masih memegang peran penting. 

Di Suatu hari seorang teman pegawai di kantor berkali-kali mencetak dokumen penting. Setiap kali kertas keluar dari printer, hasilnya mengecewakan. Tulisan tampak pudar, beberapa huruf hilang, dan garis-garis tipis mengganggu halaman. Ia sempat menyalahkan file dokumennya. Namun setelah penutup printer dibuka, masalahnya ternyata sederhana: debu menempel pada kepala cetak. Setelah dibersihkan, dokumen yang sama dicetak kembali. Kali ini hasilnya sempurna.

Kejadian kecil seperti ini sering terasa seperti perumpamaan yang menggambarkan hubungan manusia dengan Al-Qur’an. Ayat-ayat yang kita baca sebenarnya tidak pernah berubah. Namun terkadang ketika kita membacanya, maknanya tidak tercetak dengan jelas di dalam hati. Masalahnya bukan pada “dokumen”, melainkan pada “printernya”.

Dalam salah satu hikmah yang terkenal dari kitab Al-Hikam, Ibn ‘Ata-illah As Sakandari mengatakan: “Bukan hikmah yang tertutup darimu, tetapi engkaulah yang tertutup darinya.” Kalimat ini mengingatkan bahwa cahaya petunjuk tidak pernah berhenti hadir. Yang berubah sering kali adalah kesiapan hati manusia.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat praktis: bagaimana membersihkan “printer hati” agar ayat-ayat itu kembali tercetak dengan jelas? Dengan berdasar pada beberapa pesan ulama, Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Pertama, Banyak orang membaca Al-Qur’an seperti sedang mengejar target halaman. Padahal kadang satu ayat saja cukup untuk direnungi lama. Cobalah membaca lebih lambat dari biasanya. Beri jeda setelah satu ayat yang terasa menyentuh. Tidak perlu langsung melanjutkan. Diam sebentar sering kali membuat makna turun lebih dalam.

Kedua, ganti suasana membaca. Kebiasaan membaca di tempat yang sama setiap hari bisa berubah menjadi rutinitas mekanis. Sesekali cobalah membaca di tempat yang berbeda: setelah Subuh di teras rumah, di masjid yang sepi, atau bahkan di perjalanan yang tenang. Jangan mengaji saat penceramah subuh atau tarawih, sedang menyampaikan ceramahnya.

Ketiga, tanyakan satu pertanyaan sederhana pada setiap bacaan: “Ayat ini sedang menyinggung bagian mana dari hidup saya?” Bukan pertanyaan ilmiah, tetapi pertanyaan personal. Ketika ayat mulai terasa berhubungan dengan kehidupan nyata, dengan pekerjaan, keluarga, atau keputusan hidup, ia akan terasa jauh lebih hidup.

Keempat, catat satu kalimat kecil dari bacaan hari itu. Tidak perlu menulis tafsir panjang. Cukup satu kalimat yang terasa penting. Kebiasaan sederhana ini membantu pikiran berhenti sejenak dan memberi ruang bagi makna untuk menetap.

Kelima, sesekali dengarkan Al-Qur’an, bukan hanya membacanya. Mendengar qari yang membaca dengan tartil dapat membuka rasa yang berbeda. Kadang telinga mampu menangkap sesuatu yang tidak terasa ketika mata terburu-buru mengikuti teks.

Langkah-langkah ini mungkin terlihat kecil. Namun sering kali yang menutup hati bukanlah sesuatu yang besar, melainkan debu halus yang menumpuk perlahan: rutinitas tanpa kesadaran, kesibukan yang tidak memberi ruang, atau kebiasaan membaca yang terlalu cepat.

Karena itu hubungan dengan Al-Qur’an tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Kadang yang diperlukan hanya membersihkan ruang batin sedikit demi sedikit, seperti membersihkan printer yang lama tidak disentuh. Ketika debu itu dibersihkan, kita sering terkejut menyadari sesuatu: *ayat-ayat itu ternyata masih memiliki cahaya yang sama seperti dulu. Bukan Al-Qur’annya yang berubah. Yang berubah hanyalah kejernihan hati yang menerimanya. ***

(*)