Jika di rumah Anda bukan “raja,” tentu Anda bersoal juga dengan satu masalah klasik yang berulang setiap hari. Tentang piring kotor, dan tentang mencuci piring. Jika Anda saat ini sudah menjadi “raja,” mungkin tidak lagi terlibat dengan masalah piring kotor itu, namun sebelum menjadi raja, tentu Anda pernah muda, sekolah, kuliah dan cuci piring.
Piring, gelas, dan sendok kotor secara otomatis ada. Setelah makan, setelah minum, setelah makan sendirian dalam diam, (bukan sembunyi-sembunyi), peralatan dapur itu, mula-mula satu. Lalu dua. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja ia sudah menumpuk, terasa penuh.
Di dapur itu, Kita berdiri, menatap sisa lemak yang mengering, seperti kita menatap dan merasakan, tumpukan hari-hari yang terbuang percuma selama Ramadhan ini. Ada rasa enggan yang melenakan. Ada bisikan untuk menunda bahkan berpaling. Kita seringkali merasa bahwa piring-piring itu, (juga dosa-dosa itu), akan hilang sendiri jika kita mendiamkannya cukup lama. Namun kenyataannya, tumpukan itu justru semakin beraroma, semakin menuntut untuk dijamah.
Lalu tangan mengambil satu piring. Keran dibuka. Air mengalir. Suara gesekan spons dan permukaan keramik terdengar pelan. Tidak dramatis. Tidak heroik. Hanya gerakan sederhana, lalu Selesai. Beberapa menit kemudian, ruang itu berubah. Bukan hanya karena piring telah bersih, tetapi karena sesuatu di dalam diri ikut mereda. Seolah-olah yang tadi tampak besar ternyata bisa didekati dengan satu langkah kecil, yaitu Memulainya.
Namun keesokan harinya, cerita itu terulang. Piring kembali kotor. Tumpukan kembali ada. Memang, tidak ada kata “selesai untuk selamanya.” Seringkali kita mengeluh, "Mengapa aku harus jatuh pada dosa yang sama, padahal air mata taubatku belum kering benar?" Kita marah karena piring jiwa kita kembali berkerak.
Ramadhan bekerja dengan cara yang hamper sama. Ia bukan ledakan spiritual yang seketika mengubah segalanya menjadi emas. Ia adalah tentang keberanian untuk mencelupkan tangan ke dalam air, menyentuh bagian yang paling kotor dari diri kita, dan membasuhnya satu per satu dengan istighfar yang terkadang terasa repetitif tetapi mudah-mudahan tidak menjemukan.
Kadang yang melelahkan bukan peristiwanya, melainkan keinginan agar ia tidak terulang. Kita ingin piring yang sekali dicuci tetap berkilau selamanya. Padahal, hidup dan iman lebih menyerupai lingkaran. Selesai satu hal, muncul hal lain. Rapi hari ini, berantakan esok hari. Bukan karena usaha kita sia-sia, tetapi karena memang begitulah ritme manusia.
Mencuci piring adalah latihan untuk menjadi hamba yang tabah terhadap dirinya sendiri. Ada sesuatu yang perlahan dibentuk setiap kali seseorang memilih untuk hadir di depan wastafel tanpa merasa menjadi korban keadaan. Di situ kita belajar bahwa kesalehan bukanlah tentang mencapai titik di mana kita tidak lagi memiliki cacat, melainkan tentang kesetiaan untuk terus kembali ke wastafel taubat setiap kali noda itu muncul kembali. Tanpa banyak kata. Tanpa rasa bosan.
Ramadhan tidak datang untuk membuat kita suci selamanya, melainkan untuk melatih tangan kita agar tidak pernah lelah memutar keran ampunan-Nya, lagi dan lagi, sepanjang piring-piring kehidupan masih kita gunakan untuk makan. ***
(*)
Alat AksesVisi