Gambar Muhasabah Ke Enam Belas: Lapangkan Hati & Lemarimu

Dalam dua tiga hari ini, saya lebih banyak bersemedi di dalam rumah. Horizon saya pun hanya berputar-putar di dalam rumah. Kalau kemarin (muhasabah kelimabelas), kita bicara tentang cuci piring, kali ini kita akan berinteraksi dengan lemari pakaian kita di rumah. 

Lemari pakaian bukan hanya menyimpan pelindung tubuh. Ia bisa juga sebagai *Gudang kenangan, dan monumen keinginan yang penuh dan sesak.* Di sana, ada baju yang dibeli saat diskon, ada baju yang dibeli karena mengikuti tren, ada yang diberi oleh teman, ada yang diperoleh dari hasil pembagiaan acara kepanitiaan tertentu. Ada juga baju yang masih baru belum terpakai, karena agak kebesaran. Kita berniat membawanya ke tukang jahit, untuk dipermak, tapi sampai sekarang setelah begitu lama, belum ada waktu merealisasikannya. Dia masih tergantung atau masih terlipat dengan rapi.  

Saya rasa, kita pernah berdiri di depan lemari yang penuh sesak, untuk mencari pakaian yang ingin kita kenakan, namun di saat itu kita merasa “tidak punya baju” yang cukup. Pada waktu itu, kita sesungguhnya sedang tercekik di depan tumpukan benda yang tidak memiliki fungsi. 

Secara psikologis, lemari yang terlalu penuh adalah cerminan dari *kecemasan kita akan masa depan dan ketidakmampuan kita untuk melepaskan masa lalu.* Setiap helai pakaian yang tak terpakai namun terus kita genggam sebenarnya adalah energi yang mandek. Jika Ramadan mengajarkan kita untuk mengosongkan perut agar ruh menjadi ringan, maka sudah saatnya kita mengosongkan sebagian isi lemari agar hidup menjadi lebih lapang. 

Rasulullah saw memberikan pesan yang sangat lugas dan penuh empati: “Barangsiapa yang memiliki kelebihan pakaian, hendaklah ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki pakaian.” (HR. Abu Dawud). Pesan ini bukan sekadar anjuran sosial, melainkan sebuah *prinsip hidup mengalir.* Dalam pandangan kenabian, harta, termasuk pakaian, ibarat air. Jika ia berhenti mengalir dan hanya menggenang di lemari Anda, ia akan menjadi sarang penyakit hati: kikir, tamak, dan keterikatan berlebih pada dunia. Namun, ketika Anda mengambil sehelai baju yang masih layak dan memberikannya kepada mereka yang menggigil atau compang-camping, Anda sedang mengubah benda mati tersebut menjadi pahala yang terus bergerak.

Bayangkan pengaruh psikologis yang terjadi saat Anda mulai memilah. *Ada rasa "merdeka" saat Anda berhasil memutus keterikatan pada sebuah benda.* Ketika Anda melipat baju itu dengan rapi, mengharumkannya, lalu menyerahkannya kepada yang membutuhkan, terjadi sebuah pertukaran energi yang luar biasa. Rasa puas karena memiliki (joy of having) akan kalah telak oleh rasa bahagia karena memberi (joy of giving).

Maka, saat membaca tulisan ini, jangan hanya membaca. Berdirilah, (maksud saya selesaikan dulu membaca), lalu hampiri lemari Anda. Ambil sebuah kardus yang besar atau kantong yang layak. Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: "Jika pakaian ini tidak memberikan manfaat pada saya selama satu tahun terakhir, berarti ia berhak menjadi manfaat bagi orang lain?"

Biarkan lemari Anda bernapas. Biarkan kamar Anda menjadi lebih lapang. Dan yang paling penting, biarkan pakaian-pakaian itu menjadi saksi di akhirat kelak, *bahwa mereka tidak hanya mati membisu di rak lemari rumah Anda, melainkan pernah pergi untuk memuliakan dan menghangatkan tubuh saudara Anda yang lain.* Bergeraklah sekarang, Jemput kelegaan itu melalui sehelai pakaian. Ramadhan Karim. ***

(*)