Malam-malam ganjil di penghujung Ramadhan selalu datang dengan atmosfer yang berbeda. Malam ke-25, seperti malam-malam ganjil lainnya, menyimpan harapan yang khas. Mungkin bukan hanya karena janji akan hadirnya Lailatul Qadr, namun disitu ada semacam jeda dari rutinitas, ada pengorbanan untuk menarik diri dari bising keseharian. Banyak yang ingin merasakan dan mendengar kembali isi batinnya yang murni.
Pertanyaan yang paling penting pada malam-malam ini bukan hanya:Apakah ini Lailatul Qadr? Namun, barangkali lebih penting kita bertanya apa yang sebenarnya sedang dicari pada malam-malam terakhir Ramadan?
Jawabannya, barangkali bukan sekadar pahala yang berlipat ganda. Bukan pula semata-mata pengejaran terhadap suasana religius yang mengharubiru sesaat. Yang dicari, sering kali tanpa disadari, adalah kemungkinan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah hidup di dalam diri, yang kini perlahan menghilang.
Yang hilang itu kerap bukan agama dalam bentuk yang tampak. Seseorang masih shalat. Masih berdiri, rukuk, sujud. Al-Qur’an tetap dibaca. Dzikir tetap diucapkan. Secara lahiriah, semuanya tetap ada dan utuh. Namun dibalik itu, ada hal-hal yang kadang memudar yaitu: kesadaran bahwa ia sedang menghadap Allah, rasa butuh yang sangat intens kepadaNya, keterlibatan hati yang menjadikan ibadah sebagai perjumpaan, dan bekas batin yang seharusnya tertinggal setelah salam.
Di sinilah, agaknya, letak ironi kehidupan beragama hari ini. Kita tentu tidak kekurangan aktivitas keagamaan. Masjid-masjid tetap penuh, aktivitas buka puasa bersama masih terus berjalan, suasana saf masjid di subuh hari pun masih padat. Yang sering menipis justru daya hidup di dalam keberagamaan itu. Kita masih berdiri dalam shalat, tetapi pikiran pun tetap sibuk di tagihan, notifikasi, urusan pekerjaan, atau kecemasan yang lain.
Punggung membungkuk dalam rukuk, tetapi ego tetap bertengger, kala kalimat subhana rabbial azim diucapkan. Dahi menyentuh tanah, tetapi tidak selalu kita merasa rendah, hina-dina di hadapanNya. Ayat dibaca, bahkan kadang dengan tartil yang baik, tetapi tak ada satu pun yang tertahan cukup lama untuk mengusik cara hidup.
Barangkali itulah sebabnya malam-malam terakhir Ramadhan terasa begitu penting. Ia memberi jeda. Dan dalam hidup yang terlalu bising, jeda adalah kemewahan rohani yang langka. Di dalam jeda itulah, manusia kadang mulai mendengar kembali sesuatu yang lama tertutup oleh kebiasaan.
"Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh sering dikenang karena ia adalah contoh ekstrem tentang bagaimana batin yang paling keras sekalipun bisa melunak. Sebelum dikenal sebagai ulama besar, ia adalah pemimpin penyamun yang ditakuti. Namun, saat ia sedang memanjat pagar untuk mengejar maksiat, sebuah ayat dari kejauhan menyentuh pendengarannya:“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS al-Hadid: 16).
Fudhail tidak turun dari pagar itu sebagai orang yang sama. Ia turun dengan air mata, menyadari bahwa perjalanannya selama ini ternyata menuju arah yang salah. Tidak ada khutbah panjang. Hanya satu ayat, pada satu malam. Hidupnya lantas berbelok. Sekali lagi, bukan karena penjelasan yang panjang, melainkan karena satu kalimat yang tepat, pada saat batin sedang terbuka.
Malam-malam akhir Ramadhan, semoga bisa mirip dengan keterbukaan hati dan kesadaran itu. Ia tidak memaksa. Ia tidak menghardik. Ia hanya menyingkap. Ia memperlihatkan, dengan cara yang sangat tenang, bahwa mungkin yang paling kita rindukan, bukan semata tambahan pahala, melainkan diri yang lebih jernih ketika bermunajat, lebih mudah tersentuh oleh ayat, dan lebih sungguh ketika berdiri di hadapan Allah.
Menemukan kembali yang hilang tidak selalu dimulai dengan peristiwa besar. Tidak selalu dengan tangis panjang, tekad yang diumumkan, atau perubahan yang dramatis. Kadang ia justru berawal dari sesuatu yang nyaris tak terlihat: jeda singkat sebelum takbir, satu ayat yang dibaca lebih lambat, satu sujud yang lebih jujur, atau satu istighfar yang akhirnya terasa.
Mungkin memang demikian cara cahaya kembali. Ia tidak selalu datang seperti kilat yang membelah langit. Kadang ia hadir seperti fajar: perlahan, tenang, hampir tak terdengar. Tetapi cukup untuk membuat seseorang sadar bahwa yang selama ini ia cari bukan sesuatu yang jauh di luar dirinya. Yang ia cari, diam-diam, adalah, isi batinnya yang murni. ****
(SA*)
Alat AksesVisi