Di penghujung Ramadhan ini, orang-orang menunggu satu malam yang oleh alquran, disebut lebih baik dari seribu bulan. Malam itu dicari dengan ibadah yang lebih panjang, doa yang khusyu’, dan harapan yang lebih besar. Kita mengenalnya dengan Lailatul Qadr. Dalam banyak percakapan, malam ini sering dipahami sebagai malam pahala: satu malam yang nilainya melampaui puluhan tahun kehidupan.
Al-Qur’an memulai kisah malam itu dengan ungkapan.“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadr.” Yang pertama kali disebut di dalam ayat ini, belum tentang pahala. Yang pertama kali disebut adalah turunnya Al-Qur’an. Malam itu menjadi mulia bukan karena manusia beribadah di dalamnya, tetapi karena pada malam itu wahyu pertama kali menyentuh bumi. Sebuah Kitab suci yang kelak mengubah cara manusia memahami hidupnya, mulai turun pada malam itu. Ia diturunkan dalam kesunyian sebuah gua di lereng Jabal Nur. Kepada seorang manusia mulia yang sedang menyendiri, membawa beban rindu akan keadilan di tengah dunia yang gelap.
Dari malam yang sunyi itu lahir sesuatu yang besar, yaitu wahyu, yang perlahan mengubah cara manusia memandang Tuhan, keadilan, ilmu, dan kehidupan. Dari kata-kata yang turun sedikit demi sedikit itu, sebuah peradaban mulai tumbuh. Surah ini kemudian bertanya: “Tahukah engkau apakah Lailatul Qadr itu?” lalu datanglah jawabannya: “Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.”
Seribu bulan, nilainya lebih dari delapan puluh tahun kehidupan manusia. Amal yang dilakukan pada malam itu memiliki nilai yang sangat besar. Jika kita membaca perlahan susunan ayatnya dengan tenang, kita akan menemukan bahwa: kemuliaan amal di malam itu adalah anugerah yang mengiringi turunnya wahyu. Seakan-akan Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa pahala yang besar itu bukanlah asal mula kemuliaan malam ini. Ia adalah buah dari kemuliaan wahyu yang turun di dalamnya.
Kemudian ayat itu melanjutkan dengan gambaran yang sangat menarik: “Para malaikat dan Ruh turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka, min kulli amr.” Frasa pendek ini sering kita lewatkan begitu saja, padahal ia menyimpan makna yang sangat dalam. Min kulli amr berarti: dari setiap urusan. Para malaikat turun membawa berbagai urusan yang telah ditetapkan Allah terkait urusan kehidupan manusia, perjalanan waktu, rezeki, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.
Ketetapan Tuhan sedang berjalan, malaikat turun menjalankan tugas-tugasnya, dan berbagai urusan kehidupan manusia sedang berada dalam pengaturan-Nya. Dalam suasana seperti itulah manusia beribadah, berdoa, dan memohon kepada Tuhannya.
Lailatul Qadr bukan hanya malam ketika manusia memperbanyak amal. Ia adalah malam ketika wahyu pernah turun untuk membimbing manusia, malam ketika malaikat turun membawa urusan-urusan Tuhan, dan malam ketika rahmat Allah menyelimuti bumi. Karena itu amal manusia pada malam itu menjadi sangat bernilai. Bukan semata karena banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi karena ibadah itu berlangsung di dalam malam yang dipenuhi wahyu, rahmat, dan pengaturan Tuhan.
Surah itu pun berakhir dengan kalimat yang sangat tenang: “Kedamaian hingga terbit fajar.”
Malam yang damai itu, adalah sebuah undangan untuk kembali pada titik mula: turunnya Al-Qur'an. Mencari malam yang lebih baik dari seribu bulan berarti menghadirkan kembali getaran wahyu itu ke dalam dada kita. Pahala adalah anugerah, namun Al-Qur’an adalah petunjuk. Dan di dalam kedamaian hingga terbit fajar itu, pesan terbesarnya adalah: mulailah lagi membaca, mulailah lagi memahami, dan biarkan cahaya wahyu itu kembali menyentuh bumi hati kita yang terdalam. *****
Alat AksesVisi