Di sebuah rumah ditanah Arab, Perempuan tua itu bersimpuh di depan majikannya, memohon izin untuk terus menyapu lantai, membersihkan rumah dan mencuci piring, meski tulang-tulangnya sudah mulai terasa rapuh. Sang majikan yang melihat tubuh ringkih usia 50an tahun itu tak lagi mampu memikul beban kerja. Ia berniat memulangkannya dengan hormat.
Namun Fatimah menangis. Ia tetap memohon waktu sedikit lagi.
“Beri Saya Kesempatan Tuan. Ada yang belum selesai saya lakukan”, Bisiknya dengan penuh harap.
Akhirnya sang tuan terpaksa mengurungkan niat untuk memulangkannya.
Setelah kira-kira waktu yang diharap oleh Fatimah terpenuhi, ia pun dipanggil menghadap kepada Sang Khaliq.
Dibalik Kasur Fatimah, sang tuan menemukan sebuah surat. Itu bukan wasiat harta untuk ahli warisnya. Ia hanya sebuah surat ungkapan terima kasih kepada tuannya. Alasan ia memohon agar tidak diberhentikan Adalah karena sebuah masjid yang ia bangun di kampung halamannya yang belum rampung. Ia takut jika berhenti bekerja sebelum atap itu tegak, rumah tuhan itu akan terbengkalai.
Fatimah hanyalah seorang buruh migran yang menghabiskan sisa tenaganya untuk upah yang mungkin tidak banyak. Namun ia memiliki cita-cita besar, proyek transaksi raksasa dengan langit. Ia tidak sedang menabung untuk hari tua; ia sedang membangun sebuah peradaban kecil di tanah kelahirannya. Sebuah menara yang yang tumbuh bukan dari semen dan batu semata, melainkan dari tetesan keringat yang ia sembunyikan dalam do’a-do’a malamnya yang sepi.
Di malam ke 24 ini, kisah yang diungkap oleh Syekh Ratib An-Nabulsiy seyogyanya menjadi cermin. Kita yang sering meributkan hakikat lailatul qadr dengan diskusi-diskusi teologis yang Panjang, atau mereka yang merasa telah “sampai” hanya karena mampu berlama-lama di dalam masjid yang nyaman, tiba-tiba tampak begitu kerdil.
Kita datang ke hadapan Tuhan membawa segunung teori tentang keihklasan, sementara Fatimah membawa buktinya tanpa satu pun kata-kata. Kita sibuk mencitrakan diri sebagai pencari Tuhan, sementara Fatimah telah "ditemukan" oleh Tuhan dalam ketulusan yang tanpa saksi.
Betapa kecilnya kita dihadapan Perempuan itu. Kita yang sering mengeluh akan lelahnya ibadah, sementara ia menjadikan kelelahan kerjanya sebagai bentuk ibadah yang paling murni. Kita butuh tepuk tangan untuk setiap koin yang kita sedekahkan, sementara Fatimah membangun menara dalam senyap.
Bahkan ia tak berpikir tentang Namanya. Ia biarkan Namanya terkubur Bersama surat di bawah kasurnya.
Lailatul qadr barangkali Adalah sebuah momen di mana Tuhan melihat seorang hamba yang meniadakan diri demi sesuatu yang lebih besar dari egonya sendiri. Fatimah telah menghilang. Ia telah meluluhkan identitasnya sebagai buruh, sebagai orang asing, bahkan sebagai manusia yang butuh istirahat, demi sebuah cinta yang melampaui batas geografis. Ia membuktikan bahwa untuk membangun menara yang tinggi ke langit, seseorang justru harus merendah sedalam-dalamnya ke bumi. “Tanam Dirimu di dalam tanah kehinaan, sebab tak akan tumbuh dengan baik, sesuatu yang tidak pernah ditanam. Demikian pesan Ibn ‘Athaillah as Sakandariy.
Kini, berapa banyak “masjid” batin yang telah kita telantarkan karena terlalu sibuk mendandan citra diri? Mungkin lailatul qadr tidak sedang mencari mereka yang paling fasih berbicara tentang malam seribu bulan, melainkan mereka yang seperti Fatimah. Mampu menjadikan sisa nafasnya sebagai surat cinta yang tulus bagi sang pencipta.***
Alat AksesVisi