Gambar Muhasabah Ke Dua Puluh: Gunung yang Keras dan Kokoh pun dapat Tunduk

Subuh kemarin, Imam yang memimpin shalat subuh membaca surah al Hasyr ayat 21:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah-belah karena takut kepada Allah.”

Ayat itu pendek. Tapi ia membuka ruang imajinasi yang luas.Salah Seorang mufassir besar, Fakhr al-Din al-Razi, berkata: seandainya gunung diberi akal seperti akal manusia, lalu kepadanya diturunkan Al-Qur’an, maka gunung itu akan khusyuk, merendah, bahkan terpecah karena rasa takut kepada Allah. Penjelasan itu menghadirkan sebuah bayangan yang sederhana.

Gunung.
Ia berdiri tinggi, keras, dan diam.
Ia seperti sesuatu yang tidak mudah digoyahkan oleh apa pun. Hujan turun ribuan kali di tubuhnya. Angin datang dari berbagai arah. Matahari membakar siang demi siang. Namun gunung tetap tegak. Ia tampak seperti lambang kekuatan yang tidak mengenal retak.

Al-Qur’an mengungkap sesuatu yang hampir tak terbayangkan: jika wahyu diturunkan kepada gunung, gunung itu akan tunduk. Bahkan bukan sekadar tunduk. Ia akan pecah. Retak. Hancur oleh rasa takut kepada Allah. Gunung dalam ayat itu sebenarnya bukan tokoh utama. Ia hanya sebuah perbandingan yang sengaja dihadirkan agar manusia berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri. Jika sesuatu yang sekeras gunung saja digambarkan dapat retak oleh keagungan firman Tuhan, maka bagaimana dengan hati manusia?

Memang, ayat-ayat Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia dibacakan di masjid, di rumah, di perjalanan. Terlebih di bulan Ramadan, ketika lantunan ayat hampir hadir di setiap sudut waktu. Di situlah mestinya ayat ini terasa seperti sebuah cermin.

Ia tidak berbicara tentang gunung semata, tetapi tentang bagaimana manusia mendengar firman Allah swt., dan bagaimana hati meresponsnya.

Di titik ini, ingatan tentang alam menjadi terasa penting. Para ulama sering mengingatkan bahwa salah satu tanda kelalaian hati adalah ketika seseorang melihat alam tetapi tidak menangkap pesan yang ada di dalamnya. Seorang tabi’in besar, Al-Hasan al-Basri, pernah mengatakan bahwa siapa yang memandang alam tanpa mengambil pelajaran darinya, maka pandangannya seperti pandangan orang yang lalai. Padahal alam selalu hadir, terpampang di depan mata. 

Awan bergerak perlahan di langit. Gunung berdiri di cakrawala tanpa suara. Hujan turun dari langit yang sama sekali tidak memiliki pipa. Laut terbentang luas tanpa batas. Mereka hanya ada, diam, dan terus mengulangi keberadaannya dari hari ke hari.

Ketika seseorang memandang awan yang bergerak atau gunung yang menjulang, lalu hatinya tergerak mengingat kebesaran Allah, pada saat itu ia sebenarnya sedang membaca sebuah ayat, bukan ayat yang tertulis dalam mushaf, tetapi ayat yang terbentang di alam semesta.


Dalam tradisi Islam, perenungan seperti ini dikenal dengan tafakkur. Ia bukan sekadar melihat, melainkan melihat dengan kesadaran. Melihat, lalu membiarkan hati menangkap makna yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk alam.

Mungkin karena itu ayat tentang gunung dalam Surah Al-Hasyr terasa begitu dalam. Ia tidak hanya berbicara tentang kedahsyatan Al-Qur’an. Ia juga seperti mengingatkan bahwa alam semesta sendiri adalah semacam kitab yang terbuka. 

Dan barangkali, kita memang perlu berhenti sejenak, lalu benar-benar melihat pesan itu perlahan agar sampai ke dalam hati. ***

(SA*)