Gambar Muhasabah ke-30: Bila Cahaya Itu Belum Terasa

Catatan muhasabah kali ini adalah catatan yang ketiga puluh, genap, sebagaimana puasa kita tahun ini yang juga disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Maka, biarlah muhasabah kita pun berhenti di angka yang sama, menutup geliatnya bersama berakhirnya Ramadhan. Kini saatnya memberi jeda, agar hati mendapat ruang menoleh ke belakang: apa yang telah dilakukan, apa yang luput, dan apa yang semoga masih tinggal di dalam dada.

Tidak semua orang selesai Ramadhan dengan dada yang penuh getar. Tidak semua orang menutup bulan mulia ini dengan hati yang basah, jiwa yang terasa lapang, atau keyakinan yang kuat bahwa dirinya baru saja disentuh oleh cahaya besar. Justru, mungkin lebih banyak yang selesai Ramadhan dengan perasaan yang masih bertanya-tanya. Mereka telah berusaha, tetapi tidak menemukan rasa yang mereka bayangkan. Mereka telah menjaga puasa, menahan lisan, memperbanyak doa, menghidupkan beberapa malam, atau bahkan berjuang penuh sepanjang bulan, namun kini ketika semua berlalu, yang tersisa justru pertanyaan yang lirih: mengapa aku belum merasakan apa-apa?

Kepada pertanyaan itu, kita perlu berkata dengan lembut: jangan terburu-buru menilai Ramadhanmu dari apa yang langsung kau rasakan, Sebab kekeliruan yang sering tak disadari adalah ketika kita terlalu cepat menjadikan rasa sebagai ukuran utama. Kita mengira, bila hati belum hangat, berarti amal belum sampai. Bila mata belum basah, berarti doa belum diterima. Bila dada belum bergetar, berarti Ramadhan kita tidak meninggalkan bekas. Padahal, para arifin tidak pernah mengajarkan bahwa semua kebaikan harus selalu hadir dalam bentuk yang segera terasa.

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari, pernah mengingatkan bahwa Allah kadang membukakan pintu ketaatan bagi seorang hamba, namun belum tentu langsung membukakan baginya pintu rasa atau pintu kepastian. Hikmah ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan agar kita rendah hati. Bahwa setelah beramal, yang paling kita butuhkan bukan rasa bangga karena telah banyak berbuat, tetapi kerendahan diri di hadapan Allah. Amal, sebanyak apa pun, tidak otomatis menjamin. Yang menjamin hanyalah rahmat-Nya.

Maka bila hari ini engkau belum merasakan “cahaya” itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa engkau ditolak. Bisa jadi, engkau sedang diajari satu pelajaran yang sangat mahal: beribadah kepada Allah bukan karena engkau selalu merasakan sesuatu, tetapi karena Allah memang layak disembah.

Jika engkau tetap berdoa meski dadamu terasa biasa, tetap shalat malam meski matamu kering,

tetap membuka mushaf meski hati belum meleleh, tetap menjaga puasa meski tidak ada pengalaman yang “luar biasa”, maka bisa jadi di situlah justru sedang tumbuh sesuatu yang lebih murni daripada sekadar getaran sesaat.

Ibn ‘Athaillah juga mengingatkan agar kita tidak berputus asa hanya karena pemberian Allah terasa terlambat. Sebab, tidak semua benih tumbuh pada pagi setelah ia ditanam. Ada amal yang baru terasa pengaruhnya beberapa pekan kemudian. Ada doa yang baru tampak jawabannya di bulan-bulan setelah Ramadhan. Ada tilawah yang terasa datar hari ini, tetapi pelan-pelan sedang melunakkan hati yang selama ini keras. Ada satu sujud yang malam itu terasa biasa, padahal kelak menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari keburukan.

Jadi, jangan sempitkan cara Allah bekerja hanya pada apa yang langsung bisa kita rasakan.

Cahaya-Nya tidak selalu menyentuh hamba-Nya dengan gemuruh. Terkadang nyaris tak terdengar, tetapi pasti mengusir gelap. Amalmu tidak menjadi kecil hanya karena perasaanmu belum besar. Jangan remehkan letihmu. Jangan kecilkan sujud-sujudmu. Jangan anggap tangis yang tertahan itu sia-sia. Di sisi Allah, boleh jadi semua yang kau anggap “biasa” justru sedang dicatat sebagai perjuangan yang sangat tulus. 

Tidak semua tanda penerimaan diberikan dalam bentuk rasa. Kadang Allah menyimpannya dalam bentuk perlindungan, dalam bentuk dijauhkannya kita dari dosa tertentu, dalam bentuk hati yang pelan-pelan menjadi lebih sensitif terhadap maksiat. Di sisi Allah, bukan selalu yang paling banyak yang paling mulia. 

Maka, jika hari ini engkau merasa Ramadhanmu “tidak terasa”, jangan berkecil hati. Barangkali cahaya itu bukan belum ada, engkau hanya belum mampu membacanya. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah hebatnya pengalaman ruhani kita selama Ramadhan. Yang menyelamatkan kita adalah Allah yang Maha Pemurah, yang menerima amal kecil dengan cinta yang besar, yang menumbuhkan benih yang tidak segera terlihat, dan yang kadang menyimpan tanda penerimaan bukan dalam air mata yang deras, melainkan dalam satu perubahan kecil yang sangat penting. 

Maka muhasabah terakhir ini hendaknya tidak ditutup dengan kegelisahan, tetapi dengan harapan yang luas.

Jika engkau sudah berjuang, teruslah berharap.

Jika ibadahmu sederhana, teruslah berharap.

Jika dadamu belum bergetar, teruslah berharap.

Jika hatimu belum meleleh, teruslah berharap.

Jika kau belum melihat tanda apa pun, teruslah berharap.

Bisa jadi, hari ini engkau belum merasakan apa yang kau tunggu. Namun, justru setelah Ramadhan inilah proses itu sedang bergerak dalam dirimu: membersihkan, melunakkan, menuntun, dan menumbuhkan sesuatu yang belum kau lihat, namun kelak akan kau syukuri dengan air mata. Kullu ‘Aaam Wa Antum Bikhair. Taqabbalallahu minna wa minkum. ***