Kali ini, saya akan meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Tujuannya: Balikpapan. Seorang teman bertanya, “Oooh… moko mudik?” Saya jawab spontan, “Na’am.” Tapi setelah itu saya berpikir, jangan-jangan jawaban saya ini "bohong". Sebab saya kan lahir di Makassar. Kecil, Besar di Makassar. Tumbuh di Makassar. Kalau saya pergi ke Balikpapan, apakah itu masih bisa disebut mudik? Daripada nanti ribut soal istilah, saya pilih aman saja. Saya bukan mudik ke Balikpapan. Saya hanya menemani istri mudik ke Balikpapan.
Sebelum mudik, orang biasanya menjadi lebih teliti dari biasanya. Rumah yang setiap hari ditinggali tanpa banyak dipikir, mendadak diperiksa satu per satu. Kompor dicek. Gas dipastikan aman. Keran diputar rapat. Lampu dimatikan. Jendela ditutup. Makanan di meja dibereskan. Jemuran diangkat. Pintu belakang dikunci. Pintu depan ditarik sekali lagi, kadang dua kali, untuk memastikan semuanya benar-benar siap ditinggalkan. Bahkan ada beberapa bagian yang selalu dicek ulang, padahal sebelumnya sudah dicek. Untuk memastikan.
Yang menarik dari kebiasaan mudik ini adalah; Kita tidak pernah meninggalkan rumah dengan sembarangan. Sebab kita tahu, rumah yang ditinggal dalam keadaan tidak beres, akan menyisakan kegelisahan sepanjang perjalanan. Maka sebelum mudik, kita rapikan dulu yang bisa dirapikan. Kita amankan dulu yang bisa diamankan. Kita bereskan dulu yang jika dibiarkan, nanti bisa menjadi masalah. Mudik adalah momen ketika kita yang meninggalkan dan pergi. Kita tinggalkan rumah beberapa hari. Kita berangkat menuju kampung halaman. Kita pamit dari ruang-ruang yang akrab: dapur, meja makan, kamar, sajadah di sudut rumah, dan suara-suara kecil yang setiap hari membersamai hidup.
Tetapi menjelang lebaran, peristiwanya berbeda. Kali ini bukan kita yang meninggalkan. Justru Ramadhan yang pergi dan meninggalkan kita. Selama sebulan, ia telah mengubah irama rumah-rumah kita. Dapur hidup sebelum fajar. Piring-piring berbunyi saat langit masih gelap. Gelas-gelas berbaris untuk sahur. Menjelang maghrib, meja makan terasa lebih hangat dari biasanya. Kurma menjadi istimewa. Seteguk air terasa seperti nikmat yang tak pernah sederhana. Malam-malam pun berubah: ada tarawih, ada tilawah, ada doa-doa yang pelan, jujur, dan lebih dekat.
Lalu sekarang, di hari ke-29 ini, suasananya mirip seperti kita berdiri di depan pintu sekali lagi. Jika saat mudik, kita yang bergerak mengunci rumah lalu pergi, meninggalkan rumah. Sedangkan menjelang lebaran, kita hanya berdiri terpaku, menyaksikan bulan yang mulia, yang selama ini menghidupkan rumah dan hati, perlahan sedang beranjak pergi. Ia meninggalkan kita.
Kalau sebelum meninggalkan rumah karena mudik, kita begitu teliti memeriksa kompor, pintu, jendela, dan keran, agar tidak ada yang rusak setelah kita pergi, atau agar tidak ada yang terlupa, maka sebelum Ramadhan benar-benar pergi, rasanya hati pun ingin melakukan hal yang sama. Bukan dalam bentuk kata-kata besar. Hanya sederhana: adakah yang masih tercecer? adakah yang belum sempat dibereskan? adakah yang masih berantakan di dalam dada, sementara Ramadhan hampir selesai?
Rumah yang ditinggal mudik, insyaAllah masih bisa dibuka lagi dengan kunci saat kita pulang. Tetapi Ramadhan yang pergi, tidak tinggal menunggu di balik pintu. Ia benar-benar berlalu. Karena itu, mudik bukan hanya perjalanan pulang ke kampung halaman. Ia juga seperti isyarat, bahwa sebelum sebuah musim ditinggalkan, ada yang perlu dibereskan dengan hati-hati.
Mudik adalah saat kita meninggalkan rumah, lalu pergi. Lebaran justru kebalikannya: Ramadhanlah yang pergi, dan meninggalkan kita.
Yang satu membuat rumah terasa sepi. Yang satu lagi membuat dada terasa sunyi. Karena itu, kalau sebelum mudik kita sempat memeriksa dan merapikan rumah yang akan ditinggal, maka sebelum Ramadhan benar-benar berlalu, semoga rumah yang di dada pun sempat kita bereskan. ***
Alat AksesVisi