Di penghujung Ramadhan seperti ini, barangkali kita membutuhkan tambahan nutrisi spiritual, atau semacam suntikan ruhani yang lebih kuat, agar ibadah yang tersisa tidak berjalan biasa-biasa saja, namun dengan kegigihan yang lebih kuat, kesungguhan yang lebih utuh, dan kerinduan yang semakin membuncah menuju kepada Allah.
Muhasabah kali ini, dibuat mirip cerpen. Atau memang Cerpen. Cerita ini adalah sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan langsung oleh Syekh Ratib An-Nabulsiy. Peristiwanya terjadi di Suria, Damaskus. Namun agar lebih dekat dengan kita, ia digubah dengan gaya dan karakter Indonesia. Semoga enak dibaca dan perlu. Tapi mohon maaf sebab agak panjang dari biasanya.
Tidak semua orang yang hidup dalam kekurangan bercita-cita menjadi kaya. Ada yang diam-diam menyimpan cita-cita yang jauh lebih agung: menjadi orang yang berguna. Ahmad mungkin termasuk. Ia bukan orang terkenal. Bukan pejabat. Bukan pengusaha. Bukan pula tokoh yang namanya disebut orang dari mimbar ke mimbar. Ia hanya penjaga sekolah.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Ahmad sudah berdiri di gerbang sekolah tempat ia bekerja. Tangannya yang kasar mendorong pagar besi yang berat. Anak-anak datang berlarian, sebagian menyapanya, sebagian hanya tersenyum sambil melintas. Ahmad hafal wajah-wajah itu. Hafal langkah kecil mereka. Hafal tawa mereka.
Tugasnya tidak pernah sesederhana jabatan yang tertulis. Ia membuka gerbang. menutupnya kembali ketika bel masuk berbunyi. Kalau lampu kelas mati, Ahmad yang memanjat menggantinya. Kalau pipa bocor, Ahmad yang membongkar dan memperbaikinya. Kalau kabel putus, kursi patah, gagang pintu lepas, Ahmad yang dipanggil. Kadang ia seperti tukang. Kadang seperti teknisi. Kadang seperti petugas kebersihan. Kadang, lebih dari itu, seperti ayah bagi anak-anak yang jemputannya terlambat datang.
Ia bekerja di sekolah. Menjaga sekolah. Merawat sekolah. Tetapi ironisnya, untuk menyekolahkan anak-anaknya sendiri, ia harus berjuang mati-matian. Sore hari, ketika pagar sekolah ditutup, Ahmad pulang ke rumah kecilnya. Di sanalah kehidupan yang sesungguhnya menunggu. Seorang istri yang setia. Tiga orang anak yang sedang tumbuh dengan kebutuhan yang tak pernah ikut memahami keadaan. Di depan sekolah itu pula, istrinya membuka warung kecil. Gorengan. Es teh. Mi instan. Jajanan sederhana untuk anak-anak yang lapar sepulang belajar. Warung itu kecil. Keuntungannya lebih kecil lagi.
Penghasilan Ahmad dan istrinya tidak pernah benar-benar cukup. Setiap hari, ada uang jajan anak. Ada kebutuhan makan lima orang. Ada seragam sekolah. Ada buku tulis. Ada tagihan yang selalu datang lebih cepat daripada Gaji. Mereka hidup bukan dalam kelapangan. Mereka hidup dalam perhitungan.
Bagi orang seperti Ahmad, hidup terasa seperti berjalan di bibir jurang: pelan, hati-hati, dan tidak boleh salah langkah. Namun, di balik hidup yang serba sempit itu, Ahmad menyimpan satu hal yang nyaris tak pernah ia bicarakan kepada siapa pun: sebidang tanah warisan, yang sudah menjadi miliknya.
Tanah itu cukup luas. Letaknya bagus. Dan selama bertahun-tahun, hanya menjadi hamparan kosong yang diam. Sampai suatu hari, seseorang datang dari kota. Seorang pengusaha. Ia turun dari mobil mewah, menatap hamparan tanah itu, lalu mencari Ahmad. “Saya dengar Bapak punya tanah di dekat sini?” Ahmad mengangguk. Percakapan yang awalnya singkat itu berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. Sertifikat diperiksa. Batas tanah diukur. Dokumen dicocokkan. Semuanya bersih. Semuanya sah. Lalu angka itu disebutkan. Tiga miliar rupiah.
Tiga miliar. Bagi sebagian orang, itu mungkin angka transaksi biasa. Bagi Ahmad, itu terdengar seperti pintu langit yang mendadak terbuka. Malam itu, rumah kecil mereka tidak benar-benar tidur. Istrinya terdiam lama, lalu mulai bicara tentang rumah yang lebih layak. Tentang atap yang tidak lagi bocor saat hujan. Tentang dapur yang lebih baik. Tentang kemungkinan hidup yang tidak lagi sesempit selama ini. Anak-anak mereka, dengan kepolosannya, mulai berkhayal: sepeda baru, kamar sendiri, seragam dan sepatu yang bagus, dan mungkin televisi yang lebih besar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keluarga itu tidak sedang membicarakan cara bertahan hidup. Mereka sedang membicarakan kemungkinan untuk hidup lebih lapang. Hari transaksi pun tiba. Ahmad datang bersama istrinya dan ketiga anaknya. Di sana sudah hadir notaris, ketua RT, ketua RW. Dokumen disusun. Berkas diperiksa. Semuanya tinggal menunggu tanda tangan.
Mobil pengusaha itu berhenti tidak jauh dari mereka. Sambil menunggu proses administrasi, Ahmad berdiri di samping lelaki itu. Wajahnya tampak tenang, tetapi hatinya bergetar. Ia ragu beberapa detik. Lalu, dengan suara yang pelan dan sedikit sungkan, ia bertanya: “Pak, kalau nanti tanah ini sudah jadi Perusahaan, bolehkah anak saya bekerja di situ?” Itu bukan pertanyaan orang serakah. Itu pertanyaan seorang ayah. Seorang ayah yang bahkan ketika sebentar lagi menerima tiga miliar, masih sempat memikirkan masa depan anaknya.
Pengusaha itu tersenyum. “Tentu saja boleh,” katanya. Lalu ia berhenti sejenak. “Tapi sebenarnya, bukan perusahaan yang akan saya bangun.” Ahmad menoleh. “Saya ingin membangun sekolah,” lanjutnya. “Sekolah lengkap dengan fasilitasnya. Anak-anak miskin di sekitar sini bisa belajar tanpa membayar. Semua biaya akan saya tanggung.” Ahmad terdiam. Wajahnya berubah. “Sekolah gratis?” tanyanya, seperti ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. “Iya,” jawab pengusaha itu. “Pendidikan tidak boleh hanya dimiliki oleh mereka yang punya uang.”
Angin desa berhembus pelan. Semua suara seperti menjauh. Ahmad menoleh ke arah tanahnya. Hamparan itu terbentang tenang, seolah tidak tahu bahwa beberapa detik lagi ia akan menjadi saksi keputusan terbesar dalam hidup seorang manusia. Di kepalanya, barangkali semua melintas sekaligus: rumah yang lebih layak, anak-anak yang bisa sekolah lebih tenang, istri yang tak perlu lagi menghitung receh demi receh, hidup yang akhirnya bisa bernapas.
Tiga miliar. Angka itu bukan kecil. Itu bisa mengubah nasib keluarganya. Bisa mengakhiri banyak kesulitan. Bisa menutup banyak luka yang selama ini diam-diam mereka tanggung. Tetapi pada saat yang sama, di hadapannya kini berdiri sebuah kemungkinan lain: bahwa tanah itu bisa menjadi jalan ilmu. Menjadi tempat lahirnya masa depan anak-anak miskin. Menjadi sekolah. Menjadi cahaya. Ahmad menarik napas panjang. Lama. Sangat lama. Lalu ia berkata pelan: “Pak, niat Bapak sangat mulia.” Ia berhenti. Matanya masih tertuju ke tanah itu. “Tapi, saya rasa,” suaranya mulai bergetar, “sayalah yang lebih berhak mendapatkan pahala itu, sebab tanah ini adalah milik saya.”
Pengusaha itu mengernyit, belum paham. Ahmad menoleh, menatapnya dengan wajah yang sangat sederhana, wajah orang kecil yang baru saja membuat keputusan besar. “Tanah ini milik saya,” tegas Ahmad. “Jadi, biarkan saya yang menyiapkannya untuk sekolah yang mau bapak bangun.” Suasana mendadak sunyi. Tidak ada yang langsung bicara. Notaris terdiam. RT dan RW saling pandang. Istri Ahmad menatap suaminya, matanya mulai penuh air. Anak-anak mereka berdiri diam, belum sepenuhnya mengerti bahwa ayah mereka baru saja melepaskan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang dua kali dalam hidup mereka. Ahmad melanjutkan, lebih mantap: “Tanah ini tidak jadi saya jual. Saya berikan secara Cuma-Cuma. Silakan gunakan saja untuk membangun sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi langit, mungkin saat itu para malaikat sedang menuliskannya dengan tinta yang tidak pernah kering. Pengusaha itu memandang Ahmad lama sekali. Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, mungkin dalam hidupnya, uang tidak lagi membuatnya menjadi orang yang paling berkuasa di tempat itu. Akhirnya ia berkata, dengan suara pelan: “Selama ini, saya tidak pernah merasa kecil di hadapan siapa pun.” Ia menarik napas. “Saya terbiasa membeli apa saja yang saya inginkan.” Ia menoleh ke arah tanah itu. Lalu kembali menatap Ahmad. “Tapi hari ini, di hadapan Bapak, saya merasa benar-benar kecil.” Matanya berkaca-kaca. “Bapak hampir saja menerima uang yang bisa mengubah hidup keluarga Bapak. Namun Bapak memilih melepaskannya, demi anak-anak yang bahkan tidak Bapak kenal.”
Hari itu, tidak ada transaksi. Tidak ada tanda tangan jual beli. Tidak ada uang miliaran yang berpindah tangan. Tidak ada rekening yang bertambah. Tetapi sesuatu yang jauh lebih besar terjadi. Hari itu, dunia menyaksikan, meski mungkin hanya segelintir orang yang tahu, bahwa kemiskinan tidak selalu membuat seseorang miskin jiwa. Bahwa orang kecil belum tentu berpikir kecil. Bahwa ada manusia-manusia yang, ketika diberi kesempatan menjadi kaya, justru memilih menjadi mulia.
Kelak, ketika sekolah itu berdiri, ketika anak-anak kecil berlari di halamannya, ketika tawa mereka memenuhi kelas-kelas, ketika anak-anak miskin mulai belajar membaca masa depan mereka sendiri, mungkin tidak satu pun dari mereka tahu bahwa bangunan itu berdiri di atas sesuatu yang lebih kokoh daripada semen dan batu. Ia berdiri di atas keikhlasan. Di atas pengorbanan seorang ayah. Di atas hati seorang penjaga sekolah yang tidak punya banyak harta, tetapi punya sesuatu yang bahkan tidak dimiliki banyak orang kaya: kelapangan jiwa.
Ahmad nyaris saja menjadi miliarder di desanya. Tetapi ia memilih sesuatu yang jauh lebih langka. Ia memilih menjadi manusia yang hartanya tidak berpindah tangan begitu saja, melainkan naik ke langit. Ia tidak jadi kaya. Tetapi hari itu, ia menjadi sangat mulia. ***
Alat AksesVisi