Judul ini mungkin terdengar klise. Namun sesungguhnya hidup kita pun tak pernah benar-benar lepas dari pengulangan. Kita hidup dalam siklus yang nyaris serupa: berharap, lalai, terjatuh, menyesal, lalu kembali berharap. Dan justru di situlah letak pentingnya muhasabah, Ia hadir bukan selalu untuk memberi sesuatu yang baru, tetapi untuk menyadarkan sesuatu yang lama telah kita tahu, namun lama pula tetap kita abaikan.
Di malam-malam terakhir Ramadhan, seperti saat ini, kita terkadang terlalu sibuk mencari Lailatul Qadr, sampai lupa mencari Pemilik Lailatul Qadr. Kita mulai menebak-nebak malam. Kita memperhatikan tanda-tanda. Kita menunggu suasana yang terasa berbeda. Kita berharap ada getaran yang lebih dalam, langit yang terasa lebih hening, hati yang lebih berdebar, atau air mata yang lebih mudah jatuh. Atau ada yang bahkan berharap, datangnya Cahaya materil, masuk ke dalam dadanya. Kerinduan kepada malam mulia adalah bagian dari iman. Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai ibadah kita berubah menjadi semacam perburuan pengalaman spiritual, sementara inti dari semuanya justru terlewatkan.
Yang paling agung dari Lailatul Qadr bukanlah sensasi bahwa “malam itu terasa istimewa”, melainkan kesempatan untuk benar-benar mendekat kepada Allah. Bukan soal apakah kita berhasil menandai malamnya, tetapi apakah malam-malam itu berhasil menandai hati kita. Bukan soal apakah kita dapat mengenali tanda di langit, tetapi apakah ada cahaya yang mulai menyala di dalam jiwa.
Betapa sering kita ingin memastikan: “Apakah ini Lailatul Qadr?” Padahal boleh jadi, pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah malam ini aku sungguh hadir di hadapan Allah?” Sebab bisa jadi seseorang tidak pernah tahu bahwa ia sedang berdiri di malam yang lebih baik dari seribu bulan, tetapi Allah menerima setiap istighfarnya, mendengar setiap lirih doanya, dan mencatat setiap air matanya sebagai bukti cinta dan penyerahan.
Malam-malam terakhir Ramadhan sejatinya bukan arena untuk memburu tanda, melainkan ruang untuk melaporkan seluruh beban hati di hadapan Rabb semesta. Di sanalah kita belajar bahwa ibadah bukan tentang merasakan sesuatu yang luar biasa, tetapi tentang datang dengan kejujuran yang sederhana: mengakui lemah, mengakui dosa, mengakui rindu, lalu mengetuk pintu-Nya dengan penuh harap. Kadang yang kita butuhkan bukan pengalaman yang menggetarkan, tetapi kehadiran yang sungguh-sungguh. Bukan momen yang spektakuler, tetapi hati yang benar-benar tunduk.
Barangkali selama ini kita terlalu sering menengadah ke langit, menunggu isyarat, sementara Allah sedang menunggu kita membuka pintu hati yang sudah lama terkunci. Kita terlalu ingin menemukan malam yang mulia, tetapi belum sepenuhnya rela menjadi hamba yang hina di hadapan-Nya. Padahal justru di situlah kemuliaan itu lahir: ketika seorang hamba tidak lagi sibuk mengejar suasana, melainkan tenggelam dalam penyerahan.
Jika malam ini kita belum tahu apakah ini Lailatul Qadr, jangan resah. Yang lebih penting, pastikan malam ini kita tidak kehilangan Allah. Sebab Lailatul Qadr yang paling hakiki bukan hanya ketika langit dipenuhi rahmat, tetapi ketika hati akhirnya benar-benar bersujud. Karena yang paling menyedihkan bukanlah bila kita tidak tahu kapan Lailatul Qadr datang, melainkan bila Lailatul Qadr datang, lalu Allah tidak menemukan kita benar-benar hadir di hadapan-Nya.***
Alat AksesVisi