Muhasabah kali ini bertutur tentang isi ceramah tarawih di masjid kompleks kami. Sang ustadz menyampaikan dengan gaya yang tenang, bahkan santai. Tetapi justru di situlah letak kedahsyatannya. Ia tidak berteriak. Ia tidak menghakimi. Namun setiap kalimatnya seperti mengetuk bagian terdalam dari dada, lalu mengajukan satu pertanyaan yang“tidak nyaman”: Betulkah kita telah benar-benar terbebas dari sifat kemunafikan?
Pertanyaan itu terasa berat. Kisahnya bermula dari ‘Umar bin Khattab, lelaki yang jika melewati satu jalan, setan memilih jalan lain. Sosok yang imannya kokoh, keberaniannya besar, dan kedekatannya dengan Rasulullah saw., begitu istimewa. Tetapi justru ‘Umar, dengan seluruh kemuliaannya, pernah diguncang oleh kegelisahan yang sangat dalam.
Suatu hari ia mendatangi Hudzaifah bin al-Yaman, sahabat yang menyimpan rahasia Nabi saw., Hudzaifah pernah diminta Rasulullah untuk mencatat nama-nama orang munafik yang ada di sekitar beliau. Dan nama-nama itu tidak boleh bocor kepada siapa pun. Umar tidak tenang. Ia datang dan bertanya, “Wahai Hudzaifah, apakah namaku ada di dalam daftar itu?”Allahu Akbar. Orang yang paling tinggi imannya pun, masih takut bila hatinya rusak. ‘Umar tidak sibuk menilai siapa yang munafik di luar dirinya. Ia justru gemetar memeriksa dirinya sendiri.
Lalu kita? Mengapa justru begitu mudah merasa aman? Rasulullah saw., telah memberi tanda-tanda kemunafikan itu dengan sangat jelas: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat. Kita sering membayangkan sifat ini sebagai dosa orang lain. Padahal, jika jujur, ia kerap hadir dalam bentuk yang kecil-kecil, tetapi berulang-ulang: alasan yang dibuat-buat, janji yang disepelekan, kepercayaan yang tidak dijaga.
Lalu Al-Qur’an menyingkap tabir yang lebih menggetarkan: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142)
Bukankah kita pernah salat dengan tubuh yang berdiri, tetapi hati yang tidak hadir? Bukankah kita pernah beribadah dengan keinginan halus agar dilihat baik oleh orang lain? Bukankah zikir kita, dibanding urusan dunia yang kita pikirkan sepanjang hari, memang masih terlalu sedikit?
Inilah tamparannya: kadang kita merasa sedang mendekat kepada Allah, padahal yang sedang kita rawat justru citra kita di hadapan manusia. Kadang kita mengira sudah taat, padahal yang bertambah hanya rutinitas, bukan kedekatan. Kadang kita rajin hadir secara lahir, tetapi absen secara batin.
Dan ketika Al-Qur’an memotret orang-orang beriman, tamparan itu terasa semakin keras.
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya, menjauh dari hal-hal yang sia-sia, menjaga amanah dan janjinya, dan memelihara salat-salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–11)
Mari Perhatikan kontrasnya.Orang munafik: Salatnya malas.Orang beriman: Salatnya khusyuk.Orang munafik: Sedikit mengingat Allah.Orang beriman: Hatinya hidup bersama Allah.Orang munafik: Amanahnya rapuh.Orang beriman: Amanah dan janjinya dijaga.
Muhasabah kali ini tidak untuk menghancurkan, tetapi untuk membangunkan. Orang yang masih gelisah ketika mendengar ayat-ayat ini, justru masih punya harapan. Orang yang masih tertunduk ketika mendengar sifat-sifat munafik, justru belum mati hatinya. Yang berbahaya bukan orang yang masih banyak kekurangan. Yang berbahaya adalah orang yang tidak lagi merasa perlu diperbaiki.
Keselamatan itu, sering kali, bukan milik orang yang merasa suci. Tetapi milik orang yang jujur, yang mau menangis, yang mau memperbaiki, dan yang terus berdoa: “Ya Allah, jika di dalam diriku masih ada sifat nifaq, bersihkanlah. Jika salatku masih kosong, hidupkanlah. Jika hatiku masih lalai, bangunkanlah. Dan jangan biarkan aku pulang kepada-Mu dengan wajah yang tampak baik di hadapan manusia, tetapi rapuh di hadapan-Mu.” ***
(SA*)
Alat AksesVisi