Muharram kembali hadir sebagai penanda perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti. Tahun Baru Hijriah 1448 H bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, melainkan undangan untuk merenungi perjalanan hidup manusia di hadapan Sang Pemilik Waktu. Setiap detik yang berlalu sesungguhnya adalah bagian dari umur yang sedang berkurang, sementara keabadian semakin mendekat. Dalam perspektif spiritual, Muharram mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan menuju masa depan semata, tetapi perjalanan menuju Allah Swt.
Hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam bukan hanya kisah perpindahan fisik Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol transformasi batin yang terus berlangsung sepanjang sejarah kemanusiaan. Ia adalah perpindahan dari gelap menuju cahaya, dari keterikatan menuju kebebasan ruhani, dan dari ego menuju penghambaan yang tulus kepada Allah. Karena itu, setiap datangnya Muharram, manusia diajak untuk bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana hijrah batin itu berlangsung?
Dalam pandangan sufistik, manusia sejatinya adalah musafir. Ia datang ke dunia sebagai pengembara yang membawa amanah ruh dari alam keabadian. Dunia hanyalah persinggahan yang sementara. Sebagaimana seorang musafir tidak membangun rumah permanen di tempat singgahnya, demikian pula seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir hidupnya. Muharram mengingatkan bahwa perjalanan yang sesungguhnya bukanlah dari satu kota ke kota lain, melainkan dari diri yang lalai menuju diri yang mengenal Tuhannya.
Waktu dalam Islam memiliki makna yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar ukuran kronologis, melainkan saksi yang mencatat setiap jejak kehidupan manusia. Tahun demi tahun yang berlalu bukan hanya menambah usia, tetapi juga memperpendek jarak menuju akhir perjalanan. Karena itu, Muharram mengajarkan kebijaksanaan untuk tidak hanya menghitung tahun yang telah dilewati, tetapi juga menghitung makna yang telah dihadirkan dalam kehidupan.
Sering kali manusia sibuk mengejar sesuatu yang fana, seolah-olah ia akan tinggal selamanya di dunia. Jabatan, kekayaan, popularitas, dan berbagai simbol kemegahan dunia menjadi tujuan yang menyita perhatian. Padahal semua itu akan ditinggalkan pada waktunya. Muharram hadir sebagai suara sunyi yang mengingatkan bahwa yang abadi bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dipersembahkan kepada Allah dalam bentuk amal saleh, keikhlasan, dan ketulusan hati.
Makna keabadian yang diajarkan Islam bukanlah keabadian jasad, melainkan keabadian nilai. Tubuh manusia akan kembali menjadi tanah, tetapi kebaikan akan tetap hidup dalam catatan langit dan ingatan manusia. Seorang ulama yang mengajarkan ilmu, seorang guru yang mendidik muridnya, seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan cinta, atau seorang dermawan yang menolong sesama, semuanya sedang menorehkan jejak keabadian yang melampaui batas usia biologisnya.
Hijrah juga berarti meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. Hijrah dengan demikian bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi proyek spiritual yang harus diperbarui setiap hari. Ada hijrah dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kebencian menuju kasih sayang, dari kemalasan menuju produktivitas, dan dari kemunafikan menuju kejujuran.
Di era digital saat ini, hijrah menemukan tantangannya yang baru. Teknologi yang seharusnya menjadi sarana kemaslahatan sering kali berubah menjadi ruang yang melalaikan manusia dari hakikat dirinya. Arus informasi yang deras membuat manusia mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mengenal dirinya sendiri. Muharram 1448 H menjadi momentum untuk berhijrah dari keramaian yang membisingkan menuju keheningan yang menumbuhkan kesadaran spiritual.
Kaum sufi mengajarkan bahwa jalan menuju Allah dimulai dengan mengenal diri sendiri. Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Dalam konteks ini, Muharram bukan hanya awal tahun baru, tetapi juga kesempatan untuk melakukan muhasabah. Muhasabah adalah cermin ruhani yang membantu manusia melihat kekurangan dirinya tanpa harus sibuk mencari kesalahan orang lain. Dari sinilah hijrah sejati bermula.
Keabadian yang dicari manusia sesungguhnya tidak berada di luar dirinya. Ia bersemayam dalam hubungan yang tulus dengan Allah. Ketika hati terhubung dengan Sang Abadi, maka hidup memperoleh makna yang melampaui ruang dan waktu. Orang-orang saleh mungkin telah meninggalkan dunia berabad-abad yang lalu, tetapi nama dan keteladanan mereka tetap hidup hingga hari ini. Mereka telah menemukan rahasia keabadian melalui kedekatan kepada Allah.
Muharram juga mengajarkan bahwa setiap akhir sesungguhnya adalah awal yang baru. Berakhirnya satu tahun bukanlah pertanda hilangnya harapan, melainkan kesempatan untuk memperbarui niat dan memperbaiki arah perjalanan. Allah selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya. Selama napas masih berhembus, selama matahari belum terbit dari barat, kesempatan untuk berhijrah tidak pernah tertutup.
Tahun Baru Hijriah 1448 H mengajak kita untuk meninggalkan jejak yang bernilai abadi dalam kehidupan ini. Bukan jejak yang diukir oleh kemewahan dunia, tetapi jejak yang terpatri dalam catatan amal dan hati manusia. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan untuk apa kita hidup. Muharram datang membawa pesan yang sederhana namun mendalam: berhijrahlah menuju Allah, karena hanya kepada-Nya segala perjalanan bermula dan kepada-Nya pula segala perjalanan berakhir. (*)