Gambar Mudik: Hanya Sedikit yang Benar-Benar Tiba

Di sebuah senja yang redup, ketika jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Wahai Guru, mengapa setiap tahun manusia berbondong-bondong melakukan mudik? Apakah sekadar kembali ke kampung halaman?”

Sang guru tersenyum, memandang langit yang perlahan menguning. “Anakku,” katanya pelan, “manusia itu sejatinya adalah perantau. Bukan hanya di kota, tapi di dunia. Dan mudik… adalah simbol kerinduan pulang ke asalnya.”

Murid itu terdiam. Guru melanjutkan, “Kampung halaman yang kau lihat dengan mata, hanyalah bayangan dari kampung sejati yang tak terlihat—yakni kedekatan dengan Allah. Maka setiap langkah mudik, sejatinya adalah panggilan jiwa untuk kembali.”

Dikisahkan, ada seorang sufi yang ditanya mengapa ia tidak pernah mudik seperti orang lain. Ia menjawab, “Aku tidak pernah pergi, maka aku tidak perlu pulang.” Orang-orang heran, sebab mereka melihat ia jelas hidup jauh dari kampungnya.

Sang sufi menjelaskan, “Barang siapa hatinya selalu bersama Tuhan, maka ia tidak pernah menjadi asing. Tetapi mereka yang jauh dari-Nya, meski berada di tanah kelahirannya, tetaplah perantau.” Kisah ini mengingatkan kita pada pandangan para sufi bahwa jarak sejati bukanlah jarak fisik, melainkan jarak hati.

Dalam pandangan pakar psikologi, seperti Erich Fromm, manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk “kembali”—bukan hanya secara geografis, tetapi secara eksistensial. Fromm menyebutnya sebagai kerinduan akan keterhubungan, rasa memiliki, dan makna hidup. Mudik menjadi simbol kolektif dari kebutuhan tersebut: kembali kepada akar, identitas, dan relasi yang autentik.

Sementara itu, dalam perspektif spiritual Islam, Al-Ghazali menjelaskan bahwa perjalanan manusia sejatinya adalah perjalanan kembali kepada Allah (al-ruju’ ila Allah). Dunia hanyalah persinggahan, dan hati manusia tidak akan tenang sampai ia kembali kepada sumbernya. Sebagaimana firman Allah:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Mudik, dalam makna filosofisnya, bukan hanya soal tiket, kemacetan, atau oleh-oleh. Ia adalah panggilan sunyi: Apakah kita benar-benar sedang pulang, atau sekadar berpindah tempat?

Sang guru kembali berkata kepada muridnya, “Banyak orang pulang ke rumah, tetapi tidak pulang ke dirinya. Banyak yang bertemu keluarga, tetapi belum bertemu Tuhannya.” Murid itu mulai mengerti.

“Lalu bagaimana cara mudik yang sejati, Guru?”. “Pulanglah dengan hati yang bersih,” jawabnya. “Maafkan sebelum meminta maaf. Lepaskan sebelum meminta dilepaskan. Dan ingatlah, rumahmu yang sejati bukanlah tempat kau dilahirkan, tapi tempat jiwamu menemukan Tuhan.”

Dalam tradisi ulama, mudik juga bisa dimaknai sebagai momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Banyak ulama menekankan pentingnya kembali kepada fitrah setelah Ramadhan—bukan hanya dengan pakaian baru, tetapi dengan hati yang diperbarui.

Karena sejatinya, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan penanda:

Siapa di antara kita yang benar-benar telah “pulang”?

Apakah mudikku hanya perjalanan tubuh, atau juga perjalanan jiwa? Di tengah kesibukan pulang ke kampung, apakah aku juga sedang pulang kepada Allah? Jika hari ini adalah mudik terakhirku, apakah aku sudah benar-benar sampai ke “rumah sejati”?

Senja pun berubah menjadi malam. Sang murid menunduk, hatinya bergetar. Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk merencanakan perjalanan pulang, tetapi lupa menyiapkan dirinya untuk benar-benar sampai. Dan di kejauhan, jalanan masih padat oleh mereka yang ingin pulang. Namun hanya sedikit… yang benar-benar tiba.

Allah A’lam
Makassar, 19 Maret 2026