Berdiri di mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami pada Subuh ke-25 Ramadan ini, batin terasa kerdil di hadapan masjid termegah di kawasan timur Indonesia.
Panitia mendaulat saya menyampaikan tausiah tentang “Ukhuwah Islamiyah”—tema terdengar sangat surgawi di telinga, tetapi sering membuat napas tersengal saat harus membumikannya dalam kehidupan nyata.
Ukhuwah adalah seni mencintai karena iman. Ia janji berjalan seiring dan saling menanggung beban dalam keadaan apa pun.
Dari podium ini, pesan sederhana: jangan hapus persaudaraan hanya karena satu kesalahan kecil. Sebaliknya, hapuslah satu kesalahan demi utuhnya persaudaraan.
Hakikat persaudaraan adalah memberi. Namun ego sering membuat manusia bingung—siapa harus memulai.
Mari menengok sejarah emas.
Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar bukan karena fanatisme suku atau kepentingan politik. Mereka diikat tali iman (Ukhuwah Islamiyah)—tak terlihat, tetapi lebih kuat dari baja maraging.
Bayangkan hangatnya sambutan penduduk Madinah saat kaum Muhajirin tiba di kota itu. Jika diterjemahkan ke dialek lokal, kira-kira begini:
“Selamat datang saudaraku, Deceng Enre’ki Ri Bola Tejjali’, Tettappere Banna Mase-Mase.”
Silakan naik ke rumah kami; mungkin tanpa permadani mewah, tetapi penuh kasih tulus.
Lalu terjadi “kompetisi sedekah” paling ekstrem sepanjang sejarah. Kaum Anshar berlomba menawarkan tempat tinggal bagi saudara baru.
Seseorang berseru lantang, “Siapa mau tinggal di rumahku? Saya punya dua kebun kurma, ambil satu!”
Belum selesai kalimat itu, orang lain menimpali, “Tinggal di rumahku saja! Saya punya dua ekor unta, ambil satu!”
Ada pula tawaran paling heroik sekaligus mengejutkan: rela menceraikan salah seorang istrinya agar dapat dinikahi saudaranya datang tanpa membawa apa-apa.
Tawaran menginap bukan sekadar tempat tidur, tetapi berbagi seluruh aset hidup.
Jujur, pikiran nakal sempat melintas: andai hidup di zaman itu, mungkin opsi terakhir paling menggiurkan inilah yang saya pilih.
Namun sayang, takdir menempatkan kita di Ramadan zaman sekarang—zaman ketika sekadar meminta izin parkir di depan pagar rumah orang, meski hanya sebentar, kadang dibalas wajah kecut penuh kecurigaan.
Al-Qur’an merekam kedermawanan luar biasa kaum Anshar dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:
“…mereka mengutamakan orang lain meskipun diri sendiri sedang membutuhkan…”
Ada pula kisah Ibnu Umar tentang hadiah sop kepala kambing.
Saat Ibnu Umar pulang ke rumah dalam keadaan perut keroncongan, aroma gurih sop kepala kambing langsung menyergap hidung. Ketika hendak menyantapnya, tiba-tiba terlintas wajah tetangganya.
“Si fulan lebih butuh,” kata beliau.
Sop kepala kambing itu pun dikirim ke rumah tetangga—meski cacing dalam perut sedang berdisko bertempo cepat karena lapar.
Tetangga itu merasa masih ada orang lain lebih layak menikmatinya. Hadiah itu dikirim ke rumah A. Tetangga A merasa tetangga B lebih pantas menikmati, maka dikirim ke B. Jiran B menerima dengan syukur, tetapi hati nurani berbisik jiran C baru saja dilanda kesulitan, maka sop berpindah tangan ke C.
Tak berhenti di situ, tetangga C merasa keluarga D memiliki anak kecil lebih membutuhkan nutrisi, sehingga mangkuk itu diantar ke pintu rumah D. Sop terus berputar, melintasi ambang pintu satu ke pintu lain hingga tujuh rumah.
Tebak akhirnya?
Sop itu kembali ke meja makan pertama—rumah Ibnu Umar.
Itulah ukhuwah Islamiyah: bergerak melingkar, membawa berkah kembali kepada pengirim awal.
Kalau sop kepala kambing itu mampir ke meja makanku, tanpa banyak pikir langsung ku-smackdown. Yang tersisa tinggal tulangnya—untuk kucing tetangga.
Coba lihat suasana buka puasa bersama di sekitar kita.
Usai Magrib, sebagian orang menyerbu meja prasmanan seperti pasukan baru turun dari medan perang tujuh hari tanpa makan. Piring tampak super bocco (penuh): nasi, rendang, sate, ayam kecap, udang, capcay, sandwich—semua menumpuk seperti proyek pembangunan raksasa di atas piring.
Pernah terlihat seseorang mengincar potongan besar dalam panci kari ayam. Aromanya menggoda selera iman.
Ia mengambil potongan terbesar tenggelam dalam kuah kental, yakin itu paha paling empuk.
Begitu digigit penuh harap—ternyata lengkuas raksasa. Hemk, melo’ mopo. Cedde’ Congkiri’ Isi Palsunna!
Di situlah iman Ramadan benar-benar diuji.
Ingin marah, tapi sedang di rumah orang yang mengundang buka puasa.
Ingin dibuang, malu dilihat tamu lain.
Sambil mengunyah serat pahit itu, ia membatin kesal:
“Ini juga tukang masak, kenapa lengkuas sebesar kepalan tangan dimasukkan ke panci kari? Sontoloyo!”
Ajaibnya, orang malang itu kembali antre untuk kedua kalinya—semangat seperti pejuang ’45. Kali ini targetnya jelas: menukar lengkuas tadi dengan ayam sungguhan.
Beginilah jika nafsu mendahului nalar. Salah sasaran—lengkuas disangka paha kari, bahkan sempat dibayangkan sebagai paha ayam kalkun.
Namun dari meja prasmanan itu sering dipetik pelajaran: selera boleh berbeda, selera makan boleh berisik, tetapi persaudaraan harus tetap rukun.
Ukhuwah Islamiyah ibarat bunga dengan warna berbeda dalam satu taman luas.
Ada merah, kuning, ungu—semua berbeda, tetapi tetap tumbuh dalam tanah sama.
Begitu pula manusia. Watak berbeda, selera berbeda, bahkan humor pun kadang berbeda.
Ramadan waktu terbaik merawat taman itu: membuang hasad, dendam, dan takabur yang dapat merusak akar persaudaraan.
Ada guyonan lama: selama presiden laki-laki, lambang negara tetap “Burung Garuda”.
Kalau presidennya perempuan, mungkin berubah menjadi “Kacang Garuda”.
Kalau presidennya bencong—calabai kotek? Jangan kaget bila lambangnya bukan kacang garuda, bukan pula burung garuda—tapi loyo burungna!
Intinya, di tanah air ini kita bersaudara. Namun ukhuwah Islamiyah memiliki lem jauh lebih kuat karena diikat kalimat syahadat yang sama.
Ikatan itu tidak selalu tampak dalam hal besar. Kadang hadir dalam sikap paling sederhana.
Sebagai muslim, ada modal “5S”: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun.
Jangan pelit mengobral salam. Setiap jabat tangan tulus dapat menggugurkan dosa di sela-sela jari. Itulah praktik kecil ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari.
Subuh ini, dari mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami, diingatkan kembali bahwa persaudaraan tidak lahir dari kesamaan wajah atau suku, tetapi dari iman yang sama.
Semoga saat melangkah turun dari tangga masjid megah kebanggaan masyarakat Makassar ini, kita pulang membawa sesuatu lebih berharga: semangat baru mencintai saudara seiman.
Sebab ukhuwah bukan sekadar kumpul makan bersama atau duduk satu saf dalam shalat. Ia jembatan paling kokoh menuju rida Allah—dan syafaat yang diharapkan pada hari akhir kelak.
Ahad, 25 Ramadan 1447 H / 15 Maret 2026SK
Alat AksesVisi