Gambar MIDNIGHT SALE

Ramadhan selalu datang sebagai bulan penyucian jiwa. Ia bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, melainkan momentum penataan ulang orientasi hidup: dari dunia menuju akhirat, dari konsumsi menuju kontemplasi, dari “ingin memiliki” menjadi “ingin memberi”.

Namun di tengah suasana spiritual itu, godaan dunia tak pernah benar-benar pergi. Salah satunya adalah godaan mencari baju baru dengan iming-iming diskon besar menjelang Idulfitri. Spanduk “Sale Ramadhan”, “Midnight Sale”, hingga “Cuci Gudang” seakan berlomba memanggil hasrat. 

Tanpa terasa, Ramadhan yang mestinya bulan pengendalian diri berubah menjadi musim belanja.

Secara psikologis, para ahli perilaku konsumen seperti Philip Kotler menjelaskan bahwa diskon menciptakan ilusi urgensi dan keuntungan. Manusia cenderung merasa takut kehilangan kesempatan (fear of missing out), sehingga membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut rugi. Dalam perspektif ekonomi perilaku, sensasi “hemat” sering kali lebih kuat daripada pertimbangan rasional tentang kebutuhan.

Padahal Ramadhan melatih kita untuk menunda kepuasan (delayed gratification). Puasa sendiri adalah pendidikan mental agar seseorang mampu berkata “tidak” pada dorongan sesaat. Jika lapar dan dahaga saja bisa kita kendalikan, mestinya dorongan belanja impulsif pun bisa ditundukkan.

Para ulama mengingatkan bahwa Islam tidak melarang memakai pakaian baru saat Idulfitri. Bahkan berhias diri adalah bagian dari syiar kegembiraan. Namun mereka menekankan prinsip wasathiyah (keseimbangan). Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyinggung bahaya cinta dunia yang halus: ia tidak selalu hadir dalam bentuk maksiat, tetapi sering menyusup dalam hal-hal mubah yang berlebihan. Yang menjadi persoalan bukan bajunya, melainkan niat dan sikap hati terhadapnya.

Demikian pula Yusuf al-Qaradawi menekankan pentingnya fiqh prioritas (fiqh al-awlawiyat): mendahulukan kebutuhan pokok, membantu fakir miskin, dan menguatkan solidaritas sosial, dibanding memenuhi keinginan sekunder yang sifatnya simbolik.

Dalam tradisi sufi, ada kisah tentang Ibrahim ibn Adham. Suatu hari ia ditanya mengapa pakaiannya begitu sederhana menjelang hari raya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku sedang mempersiapkan pakaian terbaikku di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia.” Maksudnya, pakaian takwa jauh lebih indah daripada kain yang mahal. Kisah ini bukan mengajarkan kemiskinan simbolik, tetapi mengingatkan tentang orientasi hati.

Ramadhan sejatinya bukan tentang seberapa baru pakaian kita, tetapi seberapa baru jiwa kita. Diskon boleh saja dimanfaatkan dengan bijak jika memang ada kebutuhan. Tetapi jangan sampai Ramadhan yang suci tereduksi menjadi festival konsumsi.

Karena pada akhirnya, yang membuat Idulfitri benar-benar fitri bukanlah warna baju yang serasi, melainkan hati yang kembali bersih, ringan, dan penuh kasih.

Allah A’lam
Makassar, 01 Maret 2026